Aktiva Tetap (Asset Tetap)

Aktiva tetap (asset tetap) adalah suatu kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, yang bersifat permanen dan dipakai dalam kegiatan perusahaan dengan jangka waktu panjang dan memiliki nilai yang cukup material.

Berdasarkan sifatnya aktiva tetap ini dibedakan menjadi 2 yaitu sebagai berikut:

  1. Aktiva tetap berwujud (Tangible Fixed Assets)
  2. Aktiva tetap tidak berwujud (Intangible Fixed Assets)

Seringkali aktiva tetap berwujud ini disebut dengan aktiva tetap saja, adalah aktiva tetap yang memiliki bentuk fisik.

Sedangkan aktiva tetap tidak berwujud adalah suatu hak tertentu dalam jangka waktu panjang yang tidak memiliki bentuk fisik.

Oke, untuk pembahasan lebih lanjutnya tentang asset tetap mari simak artikel ini secara seksama.

Pengertian Aktiva Tetap Menurut Para Ahli

Untuk lebih jelas tentang pengertian aktiva tetap berikut merupakan beberapa pendapat dari para ahli:

Warren, et all (2008, 440)

“Aktiva tetap adalah asset jangka panjang atau asset yang relative permanen, dimiliki dan dipakai oleh perusahaan serta tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai bagian dari kegiatan orperasional normal”.

Rudianto (2009, 276)

“Aktiva tetap adalah barang berwujud yang dimiliki oleh perusahaan yang sifatnya relative permanen dan dipakai dalam kegiatan normal perusahaan bukan untuk diperjualbelikan”.

Reeve dkk (2012, 2)

“Aktiva tetap adalah asset yang bersifat jangka panjang atau secara relative mempunyai sifat permanen serta bisa dipakai dalam jangka panjang”.

Baridwan (2008, 271)

“Aktiva tetap adalah asset yang sifatnya relative permanen yang dipakai dalam kegiatan perusahaan yang normal. Istilah relative permanen ini menunjukan sifat dimana asset yang bersangkutan bisa dipakai dalam jangka waktu yang relative cukup lama”.

Martani dkk (2012, 270)

“Aktiva tetap adalah asset yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi dan penyediaa barang dan jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administrative dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari 1 periode”.

Ikatan Akuntan Indonesia (2012, 1)

“Aktiva tetap adalah asset yang dimiliki dan diperjualbelikan (baik dibuat sendiri atau diperoleh dari pembelian, pertukaran, dan sumbangan) yang nilainya relative tinggi dan manfaatnya lebih dari 1 periode akuntansi serta dipakai dalam kegiatan atau operasi perusahaan”.

 

Karakteristik / Ciri Aktiva Tetap

Berikut merupakan beberapa karakteristik dari asset tetap:

  1. Dipakai dalam kegiatan normal perusahaan. Hal tersebut berarti asset tersebut dimiliki untuk dipakai, tidak untuk dijual kembali atau sebagai suatu investasi.
  2. Mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun atau 1 siklus operasi normal perusahaan.
  3. Mempunyai nilai yang cukup material. Hal tersebut berarti nilai/ harga dari asset tersebut cukup tinggi. Misalnya seperti: bangunan, tanah, kendaraan, dan berbagai mesin produksi. Sedangkan untuk asset yang nilainya kecil, tapi mempunyai masa manfaat panjang, tidak bisa dikelompokan sebagai asset tetap. Misalnya seperti: kalkulator, gunting, pisau, penggaris. Dan lain sebagainya.
Baca Juga: Aset Tidak Berwujud dan Amortisasi

 

Perolehan dan Pencatatan

Harga perolehan dari suatu aktiva tetap ini meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan atau terjadi untuk memperoleh aktiva tersebut, sehingga siap untuk digunakan dalam kegiatan normal perusahaan.

Yang termasuk kedalam harga perolehan yaitu sebagai berikut.

  1. Harga beli aktiva yang bersangkutan ditambah dengan
  2. Biaya angkut
  3. Biaya pemasangan
  4. Biaya asuransi saat pengangkutan
  5. Biaya percobaan
  6. Biaya komisi
  7. Biaya balik nama
  8. Dan lain sebagainya.

Membeli Tunai

Membeli secara tunai adalah cara perolehan asset tetap dengan cara perusahaan mengeluarkan sejumlah uang tunai untuk mendapatkan asset tersebut.

Aktiva yang dicatat dalam akuntansi adalah sejumlah nilai kas yang sudah dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tersebut.

Nilai kas yang dibayarkan tersebut sudah termasuk berbagai biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva tersebut dan dikurangi dengan diskon / potongan. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut.

Aktiva TetapRp. $$$
          KasRp. $$$

Membeli Kredit atau Angsuran

Aktiva yang dibeli dengan cara kredit atau angsuran jangka panjang, harus dicatat senilai harga tunainya.

Selisih antara harga tunai dengan jumlah semua angsuran diperlakukan sebagai bunga. Dan dialokasikan secara proporsional sebagai beban bunga yang terjadi pada periode selama masa kontrak pembelian.

Jurnal pada saat pembelian.

Aktiva TetapRp. $$$
Bunga yang ditangguhkanRp. $$$
          Utang AngsuranRp. $$$

Jurnal pada saat mengangsur

Utang AngsuranRp. $$$
Beban bungaRp. $$$
          Bunga yang ditangguhkanRp. $$$
          KasRp. $$$

Pertukaran

Aktivitas pertukaran ini bisa terjadi atas aktiva yang sejenis ataupun yang tidak sejenis.

Pertukaran asset tetap sejenis adalah pertukaran asset tetap yang fungsi dan sifatnya sama, misalnya seperti mesin dengan mesin.

Sedangkan pertukaran asset tetap tidak sejenis adalah pertukaran asset tetap yang fungsi dan sifatnya tidak sama, misalnya seperti tanah dengan kendaraan.

Selisih nilai buku antara asset tetap yang diserahkan dengan nilai wajar yang digunakan sebagai dasar pencatatan harus diakui sebagai laba / rugi pertukaran. Berikut merupakan jurnal untuk mencatatnya.

Jurnal ketika rugi.

Aktiva tetap (baru)Rp. $$$
Akumulasi penyusutan aktiva tetapRp. $$$
Rugi dari pertukaranRp. $$$
          Aktiva tetap (lama)Rp. $$$
          KasRp. $$$

Jurnal ketika laba.

Aktiva tetap (baru)Rp. $$$
Akumulasi penyusutan aktiva tetapRp. $$$
          Laba dari pertukaranRp. $$$
          Aktiva tetap (lama)Rp. $$$
          KasRp. $$$

Membuat Sendiri

Apabila suatu asset tetap didapatkan dengan cara membuat sendiri, maka harga perolehannya sama dengan seluruh biaya yang dikeluarkan sampai dengan asset tersebut siap untuk digunakan.

Dalam hal tersebut terjadi kapitalisasi biaya. Kapitalisasi biaya adalah seluruh biaya akan dicatat sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva dan disusutkan selama masa manfaat aktiva tersebut.

Selain itu juga berlaku konsep conservatism dalam akuntasi. Yaitu jika biaya untuk membuat sendiri aktiva lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar, maka adanya laba tidak boleh diakui.

Namun, jika biaya membuat sendiri aktiva lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar, maka kerugian harus dicatat dan aktiva tersebut dilaporkan dengan nilai pasar yang sedang berlaku.

Menerbitkan Surat Berharga

Apabila perusahaan mendapatkan asset tetap dengan cara mengeluarkan surat berharga baik saham / obligasi, maka yang menjadi dasar pencatatannya adalah nilai pasar surat berharga ketika dibeli.

Jika terjadi keadaan dimana nilai pasar tidak bisa diketahui sama sekali, maka harus dilakukan penilaian kembali atas aktiva tersebut oleh pihak yan independen.

Diterima dari Hadiah atau Sumbangan

Apabila asset tetap didapatkan sebagai hadiah, maka asset tersebut akan dicatat sebesar harga pasar atau harga wajar, disertai dengan mengkredit akun modal.

Dalam mendapatkan dari hadiah atau donasi ini mungkin dikeluarkan biaya yang jauh lebih kecil dari nilai aktiva yang diterima. Oleh karenanya jika dicatat sebesar biaya yang dikeluarkan akan menyebabkan jumlah aktiva dan beban depresiasi terlalu kecil.

Berikut merupakan jurnal pencatatannya.

Aktiva TetapRp. $$$
          Modal donasiRp. $$$

Diterima dengan Sewa Guna Usaha / Leasing

Pencatatan yang dilakukan dengan cara perolehan dari leasing ini tergantung dari jenis leasing yang diambil oleh perusahaan. Terdapat 2 cara leasing menurut James Reeve dkk (2009,7), yaitu sebagai berikut.

  • Capital Lease

Asset yang didapatkan dengan menggunakan cara ini dicatat sebagai asset tetap dalam golongan tersendiri dan harus diamortisasikan.

Kewajiban leasingnya juga dipisahkan dari kewajiban lainnya. Pada umumnya cara ini dilakukan jika aktiva yang disewa lebih dari 2 tahun.

  • Operating Lease

Jika perusahaan memilih menggunakan cara ini, mka pencatatan angsuran setiap bulannya tidak dianggap sebagai asset tetap. Namun akan dianggap sebagai biaya sewa aktiva yang diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus selama masa leasing.

 

Contoh Soal Pencatatan dan Perolehan

  • Dibeli secara tunai mesin untuk keperluan usaha.
satu buah mesin dibeli dengan harga sebesar (menurut faktur)Rp. 8.000.000
Biaya pengangkutanRp. 250.000
Biaya pemasanganRp. 150.000
Biaya instalasiRp. 300.000
Biaya percobaanRp. 300.000
Jumlah BiayaRp. 1.000.000
Harga Perolehan MesinRp. 9.000.000

Jurnal

MesinRp. 9.000.000
          KasRp. 9.000.000
  • Dibeli 1 buah mesin dengan 60 kali angsuran bulanan sebesar @ Rp. 500.000 dengan harga tunai mesin tersebut adalah seharga Rp. 24.000.000

Jurnal saat pembelian

MesinRp. 24.000.000
Bunga yang ditangguhkanRp.   6.000.000
          Utang AngsuranRp. 30.000.000

Jurnal saat angsuran

Utang angsuranRp.  500.000
Beban bungaRp.  100.000
          Bunga yang ditangguhkanRp. 100.000
          KasRp. 500.000
  • Sebuah mesin dengan harga perolehan Rp. 20.000.000 sudah disusutkan sebesar Rp. 12.000.000. Ditukarkan dengan sebuah mesin baru dengan harga Rp. 30.000.000. Dalam pertukaran yang terjadi mesin lama dihargai sebesar Rp. 6.000.000

Jurnal

Mesin (baru)Rp. 30.000.000
Akumulasi penyusutan mesinRp. 12.000.000
Rugi pertukaran mesinRp.   2.000.000
          Mesin (lama)Rp. 20.000.000
          KasRp. 24.000.000

Penjelasan

Harga mesin lamaRp. 20.000.000
Sudah disusutkan(Rp. 12.000.000)
Nilai sisa / nilai bukuRp. 8.000.000
Penilaian pada waktu penukaran(Rp. 6.000.000)
Rugi atas pertukaranRp. 2.000.000
  • Diterima hadiah berupa sebuah mesin dengan harga sebesar Rp. 1.500.000
MesinRp. 1.500.000
          Modal donasiRp. 1.500.000

 

Pencatatan Pengeluaran Terhadap Asset

Pengeluaran biaya yang berkaitan dengan pemilikan atau penggunaan Asset tetap bisa dicatat dengan menggunakan 2 cara, yaitu sebagai berikut:

Pengeluaran Modal (Capital Expenditures)

Dalam cara yang satu ini seluruh biaya yang dikeluarkan harus dikapitalisasikan pada Asset tetap atau dicatat sebagai penambahan Asset yang bersangkutan.

Hal tersebut dilakukan apabila pengeluaran biaya tersebut relative besar, dan bisa memenuhi 1 atau lebih beberapa kriteria berikut:

  • Memperpanjang masa ekonomis atau masa manfaat aktiva yang bersangkutan.
  • Menambah aktiva yang bersangkutan, namun tidak memperpanjang masa manfaat.
  • Meningkatkan kapasitas produksi.
  • Menungkatkan kualitas atau mutu jasa yang diberikan oleh aktiva yang bersangkutan.
Baca Juga: Laporan Arus Kas (Cash Flow)

Contoh:

Dikeluarkan biaya sebesar Rp. 15.000.000 untuk memperbaiki gedung.

Dinimta:

Buatlah jurnal, apabila dengan perbaikan tersebut

  1. Menambah masa manfaat.
  2. Hanya menambah nilai aktiva, namun tidak memperpanjang masa manfaat.

Jawab:

  • Apabila perbaikan akan memperpanjang masa manfaat, berarti akumulasi penyusutan yang sudah dicatat terlalu besar. Oleh karena itu biaya perbaikan yang dikeluarkan tersebut dicatat sebagai pengurangan akumulasi penyusutan yang sudah terjadi.
Akumulasi penyusutan gedungRp. 15.000.000
          KasRp. 15.000.000
  • Apabila biaya perbaikan yang dikeluarkan hanya akan menambah nilai asset, namun tidak akan memperpanjang masa manfaat, maka biaya tersebut akan dicatat di sisi debet asset tetap yang bersangkutan, sebagai penambah nilai asset.
GedungRp. 15.000.000
          KasRp. 15.000.000

Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditures)

Dalam cara ini pengeluaran biaya yang terjadi diperlukan sebagai beban pada periode terjadinya.

Hal tersebut dilakukan apabila biaya yang dikeluarkan hanya memberikan masa manfaat dalam waktu 1 periode berjalan atau dalam jumlah yang relative kecil.

Contoh:

Dikeluarkan biaya pengecatan gedung sebesar Rp. 1.750.000

Diminta:

Buatlah jurnal atas transaksi tersebut

Jawab:

Biaya pemeliharaan gedungRp. 1.750.000
          KasRp. 1.750.000

Akhir Kata

Demikianlah sedikit penjelasan tentang asset tetap. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kamu. Jika ada saran, kritik, dan pertanyaan silahkan sertakan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar