Analisis Fundamental (Fundamental Analysis)

Setiap instrumen investasi tentu saja mempunyai risiko yang bisa saja terjadi oleh siapa saja. Apalagi jika melakukan investasi tanpa disertai dengan penilaian kualitas instrumen investasi secara tepat. Dalam hal ini kamu bisa menggunakan analisis teknikal dan analisis fundamental untuk meminimalkan risiko yang terjadi.

Untuk analisis teknikal sudah dibahas dalam artikel lain dalam website Mastah Bisnis.

Dalam kesempatan kali ini kita akan membahas tentang analisis fundamental.

Dengan melakukan analisis fundamental kamu akan dapat mengetahui instrumen investasi apa yang akan kamu beli.

Misalnya, kamu ingin melakukan investasi saham, maka kamu akan bisa menentukan saham perusahaan apa yang akan kamu beli.

Oke, untuk lebih jelasnya tentang analisis fundamental yuk simak pembahasan nya dalam artikel ini..!!

Apa itu Analisis Fundamental ?

Apa itu Analisis Fundamental

Analisis fundamental (fundamental analysis) adalah suatu teknik analisis yang dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti, kinerja perusahaan, persaingan usaha, sektor industri perusahaan, politik, kurs, dan ekonomi makro untuk mengevaluasi atau memproyeksi nilai suatu instrumen investasi.

Dengan menggunakan analisis fundamental ini kamu akan dapat mengetahui apakah suatu perusahaan tersebut dinyatakan sehat atau tidak.

Jika perusahaan sehat, maka kamu bisa membeli saham dari perusahaan tersebut.

Kemudian apabila perusahaan tidak sehat, maka kamu bisa mengambil keputusan untuk tidak membeli saham perusahaan tersebut atau menjual saham perusahaan tersebut.

Fundamental analysis ini bisa dibilang cukup penting bagi investor untuk melakukannya.

Hah tersebut dikarenakan dengan menggunakan analisis ini para investor akan mengetahui harga saham dikatakan murah atau mahal dan bagus atau jelek.

Harga saham dikatakan mahal atau overpriced apabila harga saham yang ada di pasaran lebih besar daripada harga wajar atau nilai seharusnya (nilai intrinsik).

Kemudian harga saham dikatakan murah atau underpriced jika harga saham yang ada di pasaran lebih kecil daripada nilai intrinsik nya.

Suatu saham dikatakan bagus apabila berbagai faktor yang berkaitan dengan perusahaan dari saham tersebut bagus, baik itu dari segi kinerja perusahaan, sektor industri, dan lain sebagainya, begitu juga sebaliknya.

 

Mengapa Analisis Fundamental ?

Mengapa Analisis Fundamental

Apakah sebelumnya kamu sudah pernah mendengar peribahasa “bagai membeli kucing dalam karung”?

Peribahasa tersebut berarti membeli sesuatu tanpa melihat atau mempelajari apa yang dibeli terlebih dahulu.

Perlu kamu ketahui bahwa prinsip dasar dalam melakukan investasi adalah “belilah apa yang kamu ketahui, dan ketahuilah apa yang kamu beli”.

Hal tersebut berarti, kamu jangan pernah membeli instrumen investasi yang tidak kamu ketahui atau kenali.

Sama halnya pada saat kamu membeli properti seperti rumah, apakah kamu langsung membeli rumah tersebut tanpa melihat kondisi rumah tersebut?

Tentu saja kamu akan melihat kondisi rumah tersebut kan? Mulai dari lokasi, desain, lingkungan, dan lain sebagainya.

Hal tersebut sama saja ketika kamu melakukan investasi, kamu perlu mengetahui atau mengenali terlebih dahulu tentang berbagai hal yang berkaitan dengan instrumen investasi tersebut.

Tujuan utama dilakukannya analisis ini adalah untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dan meminimalkan risiko yang kemungkinan akan terjadi.

Warren Buffet pernah mengatakan bahwa:

“Membeli saham adalah membeli sebuah bisnis, artinya kita harus menganalisis bisnisnya, bukan sekedar pergerakan harga sahamnya.”

Kata – kata dari Warren Buffet ini menggambarkan betapa pentingnya kamu untuk melakukan analisis fundamental sebelum kamu memutuskan untuk melakukan transaksi baik itu jual maupun beli.

 

Prinsip – Prinsip Analisis Fundamental

Prinsip Analisis Fundamental

Dalam melakukan analisis fundamental kamu perlu untuk mengetahui beberapa prinsip dari fundamental analysis, yaitu sebagai berikut.

  • Reaksi Berantai

Dalam hal ini semakin besar dampak atau reaksi berantai yang ditimbulkan dari suatu informasi, maka akan semakin besar pula pengaruhnya terhadap nilai index saham.

  • Jarak Informasi

Prinsip yang kedua adalah jarak informasi. Maksudnya adalah semakin dekat suatu informasi dengan suatu index saham, maka akan semakin besar pengaruh informasi tersebut.

Misalnya seperti, informasi yang berasal dari dalam negeri (Indonesia) akan mempunyai dampak yang lebih besar terhadap nilai dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibandingkan informasi dari luar negeri.

  • Sumber Berita

Prinsip yang ketiga adalah sumber berita. Maksudnya adalah semakin resmi sumber dari suatu berita, maka akan semakin kuat pengaruhnya terhadap nilai dari suatu indeks saham.

  • Jenis Berita

Dan prinsip analisis fundamental yang terakhir adalah jenis berita. Dalam hal ini berita ekonomi mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap indeks saham suatu negara jika dibandingkan dengan berita lainnya seperti politik, sosial, dan lain sebagainya.

 

Pendekatan Analisis Fundamental

Pendekatan Analisis Fudamental

Pada dasarnya pendekatan analisis fundamental adalah harga saham akan dipengaruhi oleh kinerja dari perusahaan.

Kemudian kinerja dari perusahaan ini sendiri dipengaruhi oleh keadaan sektor industri dan juga ekonomi makro.

Seperti apa yang disampaikan oleh Charles P Jones (2014:304) dalam bukunya yang berjudul “Investment Analysis and Management”, bahwa analisis fundamental terbagi menjadi 2 pendekatan yaitu sebagai berikut.

  • Bottom Up Approach

Bootom up approach adalah pendedekatan analisis fundamental yang berfokus pada kondisi fundamental dari suatu perusahaan terlebih dahulu, kemudian baru berfokus pada analisis sektor industri dan ekonomi.

Analisis perusahaan yang digunakan misalnya seperti informasi produk, posisi kompetitif perusahaan, status keuangan yang menggambarkan pada perkiraan potensi penghasilan, dan lain sebagainya.

  • Top Down Approach

Top down approach ini kebalikan dari bottom up approach.

Yang dimana top down approach ini melihat faktor makro ekonomi terlebih dahulu untuk dapat mengetahui sektor industri yang sedang bagus dan kemudian baru melakukan analisis perusahaan.

 

Analisis Fundamental: Top Down Approach

Analisis Fundamental Top Down Approach

Pendekatan analisis fundamental ada 2 yaitu bootom up approach dan top down approach.

Pada kesempatan kali ini hanya akan dibahas tentang pendekatan analisis fundamental top down approach.

Hal tersebut dikarenakan pendekatan ini sering digunakan oleh para investor.

Dalam pendekatan top down approach memperlihatkan taksonomi analisis yang dimulai dari:

  • Indikator makro ekonomi, yaitu untuk menentukan waktu yang paling ideal dalam pengalokasian dana dan untuk mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional.
  • Indikator industri, yaitu untuk melihat tinggi rendahnya tingkat return suatu industri dan tingkat respon pasar terhadap suatu sektor industri.
  • Indikator perusahaan, yaitu untuk dapat mengetahui keadaan dari suatu perusahaan, prospek, dan pergerakan harga saham.

1. Indikator Makro Ekonomi

Dalam indikator makro ekonomi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham, misalnya seperti produk domestik bruto (PDB), tingkat inflasi, tingkat suku bunga, kurs, dan lain sebagainya.

Dengan menggunakan indikator makro ekonomi ini kamu akan bisa mengetahui sektor industri apa yang sedang dalam kondisi bagus.

  • Produk Domestik Bruto

Pada tingkatan yang paling atas makro ekonomi diukur dengan melalui jumlah ekonomi domestik negara.

Produk domestik bruto adalah salah satu faktor yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja dari makro ekonomi, dan mampu menggambarkan nilai pasar dari barang atau jasa yang diperoleh secara domestik.

Dalam hal ini pertumbuhan PDB mampu memberikan dampak yang positif terhadap pasar modal.

  • Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan juga jasa yang terjadi secara terus menerus sehingga mampu menyebabkan nilai uang menurun.

Terdapat 2 pendapat tentang hubungan antara inflasi dengan harga saham yaitu:

Pertama, demand pull inflation adalah inflasi yang terjadi karena kelebihan permintaan atas barang yang tersedia.

Dalam hal ini konsumen dibebani kenaikan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan.

Dengan demikian perusahaan akan mendapatkan kenaikan keuntungan yang bisa dipakai untuk membayar dividen dan memberikan nilai positif terhadap harga saham di pasar.

Kondisi tersebut tentu saja menandakan terdapat korelasi yang positif antara inflasi dengan harga saham.

Kedua, cost push inflation adalah inflasi yang terjadi karena kenaikan biaya produksi seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan lain sebagainya.

Akan tetapi dalam hal ini perusahaan tidak membebankan konsumen dengan menaikan harga produknya, sehingga akan berakibat pada penurunan keuntungan dan kemampuan dalam membayar dividen.

Dengan menurunnya harga dividen, maka akan berdampak juga pada harga saham yang ada di pasar.

Dengan demikian terdapat korelasi negatif antara inflasi dengan harga saham.

  • Suku Bunga

Suku bunga merupakan tingkat laba dari suatu jenis investasi dan juga tingkat biaya dari modal yang berasal dari pendanaan yang akan dibayarkan pada suatu waktu.

Perlu kamu ketahui bahwa suku bunga ini mampu mempengaruhi laba perusahaan, yaitu:

Pertama, apabila bunga sebagai suatu biaya, semakin tinggi tingkat suku bunga, maka laba perusahaan akan semakin sedikit (apabila faktor lain dianggap konstan).

Kedua, tingkat suku bunga mampu mempengaruhi kegiatan ekonomi sehingga mampu berdampak atau mempengaruhi laba perusahaan.

Dalam hal ini tingkat suku bunga yang tinggi akan menyebabkan penurunan laba perusahaan dan akan berpengaruh terhadap harga saham.

Hal tersebut dikarenakan para investor akan menarik modal nya di saham dan akan beralih ke deposito atau obligasi yang risikonya lebih kecil dan keuntungannya lebih besar apabila tingkat bunga naik.

  • Nilai Kurs

Nilai kurs merupakan nilai dari pertukaran mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain.

Pertukaran antar mata uang tersebut akan menghasilkan suatu perbandingan nilai dari keduanya yang disebut dengan kurs.

Dengan demikian kurs valuta asing merupakan jumlah uang domestik yang diperlukan untuk mendapatkan satu mata uang asing.

Secara logika hubungan dari perubahan nilai kurs mata uang suatu negara terhadap mata uang asing dengan perubahan harga saham sangatlah masuk akal.

Konsekuensi yang timbul dari perubahan kurs tersebut dapat berdampak positif atau negatif.

Misalnya saja seperti bagi perusahaan importir atau bagi perusahaan yang memiliki hutang dengan mata uang asing, tentunya akan dirugikan dengan melemahnya kurs rupiah.

Hal tersebut dikarenakan jumlah biaya operasional perusahaan akan meningkat, begitu juga dengan jumlah hutang bagi perusahaan yang mempunyai hutang dengan mata kurs asing.

Dengan meningkatnya jumlah biaya tentu saja akan berdampak pada semakin sedikitnya laba yang diperoleh.

Semakin sedikit laba yang diperoleh, maka minat beli investor pada saham perusahaan tersebut juga menurun dan berakibat pada penurunan harga saham di pasar.

2. Indikator Industri

Perlu kamu ketahui bahwa industri saling bersaing di tengah – tengah pertumbuhan ekonomi.

Tingkat dari pertumbuhan suatu industri dengan pertumbuhan ekonomi tidaklah selalu sama.

Dalam hal ini suatu industri yang survive, akan mampu berkembang sesuai dengan atau di atas pertumbuhan ekonomi, dan ada juga yang di bawah pertumbuhan ekonomi.

Dengan demikian, investasi yang baik bisa dilakukan pada industri yang tumbuh sesuai dengan atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut dikarenakan industri yang mampu berkembang atau tumbuh sesuai dengan atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional dapat diharapkan mempunyai kemampuan profitabilitas yang tinggi.

Ambil contoh pada tahun 2007 lalu harga komoditas naik signifikan karena harga minyak dunia yang mengalami kenaikan.

Dalam hal ini harga saham perusahaan batubara dan minyak pun ikut mengalami kenaikan karena pendapatan meningkat dan keuntungan semakin besar.

Akan tetapi pada saat tahun 2015 harga minyak bumi mengalami penurunan sampai titik paling rendah, harga saham perusahaan pertambangan pun mengalami penurunan.

3. Indikator Perusahaan

Analisis fundamental top down approach yang terakhir adalah dengan melakukan analisis perusahaan.

Analisis perusahaan ini bertujuan untuk mengetahui berbagai hal tentang perusahaan yang berada pada sektor industri yang sama.

Dengan mengatahui berbagai hal tentang perusahaan yang berada pada sektor yang sama, maka kamu akan bisa membandingkan dan menentukan perusahaan terbaik.

Dalam hal ini biasanya para investor menggunakan laporan keuangan yang dikeluarkan secara berkala oleh perusahaan sebagai acuan.

Hal tersebut dikarenakan laporan keuangan mempunyai manfaat bagi para stakeholder, yang di dalamnya terdapat berbagai informasi yang bermanfaat untuk mengetahui keadaan perusahaan.

Analisis laporan keuangan bisa dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik yaitu:

  • Cross section
  • Common size
  • Ratio keuangan
  • Du pont
  • Dan lain sebagainya

Dalam hal ini, pada umumnya para investor menggunakan teknik analisis laporan keuangan dengan menggunakan rasio.

Rasio keuangan sendiri dibagi menjadi beberapa kategori yang memperlihatkan hubungan dari laporan keuangan dan juga memperlihatkan kinerja dari suatu perusahaan.

  • Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah salah satu rasio keuangan yang berguna untuk mengukur tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang jangka pendeknya.

Dalam hal ini apabila perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya, maka perusahaan dalam keadaan likuid.

Sebaliknya apabila perusahaan tidak mampu membayar hutang jangka pendeknya, maka perusahaan dalam kondisi tidak likuid.

Perlu kamu ketahui bahwa perusahaan yang dalam kondisi tidak likuid bisa disebabkan oleh 2 faktor.

Pertama, tidak mempunyai dana sama sekali.

Atau Kedua, mempunyai dana akan tetapi membutuhkan waktu untuk melakukan pencairan dana sehingga tidak mampu untuk melunasi pada saat jatuh tempo.

Rasio likuiditas ini terbagi lagi menjadi beberapa jenis yaitu rasio lancar, rasio cepat, rasio kas, dan rasio perputaran kas.

Baca Juga: Rasio Likuditas
  • Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas merupakan salah satu rasio keuangan yang berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang dan seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai dari hutangnya.

Dana dari pihak eksternal ini dibutuhkan ketika modal sendiri tidak mencukup untuk mendanai aktivitas perusahaan dan untuk membantu perusahaan lebih berkembang.

Akan tetapi pemakaian dana eksternal juga menambah kewajiban seperti biaya bunga.

Terdapat beberapa jenis rasio solvabilitas yaitu debt to assets ratio (DAR), debt to equity ratio (DER), long term debt to equity ratio, times interest earned ratio, dan lain sebagainya.

Apabila rasio solvabilitas dari suatu perusahaan ini jelek, maka perusahaan tersebut berpotensi mengalami kebangkrutan.

  • Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas adalah rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan pada suatu periode tertentu.

Dengan menggunakan rasio profitabilitas ini, investor akan dapat mengukur tingkat perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dan mencerminkan tingkat efektif manajemen perusahaan.

Rasio profitabilitas ada beberapa jenis yaitu net profit margin (NPM), return on assets (RoA), dan return on equity (RoE).

 

Analisis Fundamental: Valuasi Saham

Analisis Fundamental Valuasi Saham

Perlu kamu ketahui bahwa proses valuasi saham berguna untuk mengetahui nilai intrinsik saham yang kemudian akan dibandingkan dengan harga saham yang ada di pasar saat ini.

Valuasi saham ini bisa dibilang suatu proses yang penting dalam melakukan analisis fundamental.

Hal tersebut dikarenakan dengan melakukan valuasi saham kamu akan dapat mengetahui apakah saham tersebut tergolong mahal atau murah.

Suatu saham akan dikatakan under value, apabila nilai intrinsik saham lebih besar (>) dari harga pasar.

Hal tersebut menandakan bahwa saham tersebut berada pada harga murah dan seharusnya dibeli.

Suatu saham dikatakan fair value, apabila nilai intrinsik sama dengan (=) harga pasar.

Hal tersebut menandakan saham berada pada harga yang wajar.

Suatu saham dikatakan over value, apabila nilai intrinsik lebih kecil (<) dari harga pasar.

Hal tersebut menandakan harga saham tergolong mahal, dan alangkah lebih baiknya melakukan aksi jual jika memiliki saham yang sedang over value.

Terdapat 2 model dalam melakukan valuasi saham, yaitu sebagai berikut.

1. Valuasi Saham dengan Price Earning Ratio (PER)

Price earning ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui apakah harga suatu saham murah atau mahal yaitu dengan membandingkan antara harga saham dengan earning per share (EPS).

Berikut ini merupakan rumus dari price earning ratio (PER):

price earning ratio

Dalam hal ini alangkah lebih baiknya apabila PER berada pada 1X hingga 15X atau di bawah PER rata – rata perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perlu kamu ketahui bahwa PER dengan nilai negatif menandakan bahwa perusahaan tersebut sedang mengalami kerugian.

Kemudian kamu juga perlu untuk memperhatikan bahwa penggunaan PER ini alangkah lebih baiknya dibandingkan dengan perusahaan sejenis atau yang berada pada sektor industri yang sama.

Contoh:

Harga saham perusahaan A sebesar Rp. 2.500 per saham dengan PER sebesar 6X. Harga saham perusahaan B sebesar Rp. 1.600 per saham dengan PER sebesar 12X.

Mana yang lebih murah?

Apabila melihat dengan sekilas yang lebih murah adalah perusahaan B, namun jawaban ini salah.

Jawaban yang tepat adalah perusahaan A.

Perlu kamu ketahui bahwa saham suatu perusahaan dikatakan murah atau mahal bukan dilihat dari harga sahamnya.

Akan tetapi dalam hal ini semakin kecil nilai PER nya dibandingkan dengan perusahaan lain, maka saham tersebut lebih murah harganya.

2. Valuasi Saham dengan Price Book Value (PBV)

Price book value ini sebenarnya sama seperti price earning ratio yaitu sama – sama digunakan untuk mengetahui apakah harga suatu saham dikatakan murah atau mahal.

Berikut ini merupakan rumus dari price book value (PBV):

price to book value

Dalam hal ini alangkah lebih baik apabila nilai dari PBV ini dibawah 1X. Hal tersebut dikarenakan harga saham dari perusahaan tersebut murah.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang analisis fundamenta. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar