Bandarmology Saham

Apa kamu tau apa itu bandarmology saham? Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa transaksi yang ada di pasar manapun termasuk pasar saham, murni dilakukan oleh para investor atau trader.

Di dalamnya ada pihak yang disebut sebagai market maker, atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan bandar.

Dalam dunia saham bandar diartikan sebagai siapapun itu, baik perseorangan, kelompok, institusi, atau apa saja, dimana mereka memiliki dana dalam jumlah besar, yang bisa dipakai untuk menguasai sejumlah lembar saham suatu perusahaan yang sudah beredar di pasar.

Sehingga, memiliki cukup kekuatan untuk bisa mengatur harga melalui permintaan dan penawaran terhadap suatu saham yang beredar di pasar modal.

Oke, untuk mengetahui lebih lengkap lagi tentang bandarmology saham tetap simak penjelasannya dalam artikel ini ya!!

Tujuan Bandar

Apabila ditanya tentang apa tujuan bandar, tentu saja sangat banyak alasan yang bisa dikemukakan untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Akan tetapi suatu hal yang pasti, mengenai tujuan suatu saham diatur harganya adalah supaya pihak yang mempunyai kepentingan bisa melakukan berbagai rencananya dengan lancar.

Salah satu rencana yang paling umum atau sering dilakukan adalah mencari keuntungan dari volatilitas harga saham, atau istilah kerennya adalah menggoreng saham.

Apa Itu Bandarmology Saham?

Bandarmology ini berasal dari kata “Bandar” yang artinya sudah dibahas di atas, dan “Mology” yang mempunyai arti pengetahuan atau ilmu.

Sehingga, istilah bandarmology saham adalah sebagai ilmu atau analisa yang mencoba untuk mengidentifikasikan kemana arah perdagangan saham atau pergerakan transaksi saham yang terjadi yang sedang dilakukan oleh bandar dengan tujuan untuk mengikuti/ menunggangi arah pergerakkan badar tersebut.

Dapat dikatakan juga metode bandarmology saham ini adalah adaptasi dari model aliran uang dari penyedia pasar atau market maker dan uang institusi.

Metode ini diperkenalkan oleh Hishmad Al Amudi pada tahun 2005. Bentuk dari metode ini merupakan suatu sistem perhitungan kuantitatif yang fokus menekankan pada prinsip akumulasi dan juga distribusi.

Apa itu akumulasi dan distribusi? Mari kita bahas dalam bagian selanjutnya dalam artikel ini.

Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Hismad, bandarmology ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu sebagai berikut:

  • Bandar Penyedia Pasar

Bandar penyedia pasar adalah berbagai penyalur atau dealers yang tujuannya adalah menjaga likuiditas, melalui selisih jual beli dalam rentang harga tertentu.

Hal tersebut sesuai dengan perhitungan nilai saham dan keadaan pasar global, termasuk juga antisipasi apabila terjadi transaksi besar yang dilakukan oleh pihak lain.

Berikut ini merupakan struktur organisasi bandar penyedia pasar:

Struktur Organisasi Bandar Penyedia Pasar

  • Bandar Gorengan

Badar gorengan adalah suatu pihak yang melakukan suatu manipulasi harga dan volume dengan tujuan untuk keuntungan suatu pihak.

Ciri – ciri yang bisa dilihat dari badar gorengan ini adalah sangat bergantung pada informasi dari orang dalam, menyebarkan rumor, dan juga melakukan kegiatan jual beli mandiri untuk memancing terjadinya transaksi.

Pasar yang tadinya rami kemudian mendadak menjadi sepi merupakan tanda bahwa sebuah proyek sudah selesai dilakukan atau dengan kata lain bandar sudah keluar dari pasar.

Berikut ini merupakan struktur organisasi bandar gorengan:

Struktur Organisasi Bandar Gorengan

  • Bandar Amatir

Bandar amatir adalah pihak pemula yang berusaha untuk meniru kegiatan bandar dengan tujuan untuk keuntungan pribadi.

Kegiatan yang dilakukan adalah lebih pada coba – coba, biasa dilakukan pada emiten yang mempunyai kapitalisasi kecil, dan lebih banyak dalam menyebarkan rumor.

Berikut ini merupakan struktur organisasi bandar amatir:

struktur Organisasi Bandar Amatir

Kenapa Ada Bandar? Sejak Kapan Bandar Masuk?

Perlu kamu ketahui bahwa peran dari seorang bandar bahkan sudah ada pada saat saham tersebut belum melantai di bursa.

Kok bisa?

Ya, jadi sebelum melantai di bursa sebuah saham yang akan melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran perdana saham akan melakukan mekanisme atau tahapan yang bernama book building.

Book building merupakan mekanisme yang dimana underwriter suatu saham akan menentukan harga penawaran perdana dari suatu saham.

Penentuan tersebut berdasarkan pada seberapa besar permintaan yang terjadi pada saham tersebut.

Pada proses book building inilah tugas pertama dari seorang bandar akan dilakukan.

Bandar mempunyai tugas untuk mengatur supaya IPO bisa berjalan sesuai dengan keinginan.

Ada sebuah pertanyaan mendasar dalam mekanisme ini, yaitu apakah setiap saham yang diperdagangkan melalui IPO akan laku?

Apa yang akan terjadi apabila saham tersebut tidak laku?

ya, tentu saja perusahaan tidak akan memperoleh dana sesuai dengan apa yang diharapkan.

Apabila suatu transaksi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau target, artinya transaksi kurang sukses, dan kurang sukses tersebut berarti perusahaan mengalami kerugian.

Kurang lebih seperti itu, sehingga perlu diketahui bahwa supaya saham tersebut laku, maka perusahaan harus menjual, dan ini berarti menjadi penjual yang pandai sangat dibutuhkan dalam mekanisme ini. Betul?

IPO yang Sukses

Mekanisme IPO yang sukses ditandai dengan adanya oversubscribed yang tinggi ketika terjadinya book building saham.

Oversubscribed yang tinggi disini maksudnya adalah pada harga yang sudah ditentukan, permintaan akan suatu saham tetap tinggi, bahkan bisa dibilang sangat tinggi.

Permintaan yang sangat tinggi tersebut biasanya berkali – kali melampaui jumlah saham yang ada, sehingga investor yang memesan jumlah saham hanya akan memperoleh sebagian kecil dari jumlah yang dipesan.

Oversubscribed Saham CPRI

Gambar di atas merupakan contoh kasus oversubscribed yang terjadi pada saham PT Capri Nusa Satu Properti Tbk (CPRI).

Semakin tinggi angka dari oversubscribed berarti bahwa semakin besar pula permintaan yang terjadi pada saham tersebut.

Dalam ilmu ekonomi semakin tinggi permintaan dengan jumlah penawaran yang sama, maka tentunya akan terjadi kenaikan harga.

Sehingga saham – saham yang pada saat proses book building mengalami oversubscribed, ketika melantai di bursa seharusnya harganya akan bergerak naik.

Hal tersebut dikarenakan para investor yang tidak memperoleh saham sesuai dengan jumlah yang dipesan atau yang diinginkan ketika book building akan membelinya di perdagangan pasar.

Kesaktian Bandar

Akan tetapi pada kenyataannya, apakah setiap saham yang mengalami oversubscribe akan berakhir dengan harga yang terus naik?

Jawabannya adalah tidak.

Sebagai contohnya ini terjadi pada saham CPRI yang IPO pada tahun 2019.

Grafik Saham CPRI 2019

Baca Juga: Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Dengan terjadinya oversubscribed sebanyak 83 kali, maka ketika pencatatan dan hari – hari selanjutnya perdagangan saham CPRI ini seharusnya mengalami kenaikan.

Namun, kenyataannya saham CPRI ini sempat mengalami kenaikan dan pada akhirnya mengalami penurunan.

Di pasar CPRI diperdagangkan dengan harga Rp 50 per lembar sahamnya, jauh dibawah harganya pada saat IPO yaitu sebesar Rp 125 per lembar saham.

Pertanyaannya adalah kemanakah para investor yang oversubscribe 83 kali itu?

Apabila memang benar kelebihan permintaan hingga mencapai 83 kali, mengapa pergerakan harganya malah kurang baik seperti yang terlihat pada gambar di atas?

Hal tersebutlah tugas dari seorang bandar yang pertama kali dalam siklus kehidupan suatu saham.

Ketika suatu saham akan dilahirkan ke dunia, tugas dari seorang bandar adalah memastikan bahwa kelahirannya akan disambut dengan baik oleh pasar.

Selain itu, seorang bandar juga mempunyai tugas untuk mengatur siapa yang akan memperoleh suat saham dan berapa banyak saham yang akan diterima ketika IPO.

Sehingga apabila melihat penjelasan tersebut, terjawablah sudah, bahwa seorang bandar terlahir dan ikut berperan bahkan sebelum saham diperdagangkan secara resmi di bursa.

Hal tersebut tentu saja dengan tujuan mensukseskan proses IPO dari suatu saham, sehingga perusahaan akan bisa memperoleh sejumlah dana dari IPO sesuai dengan yang ditargetkannya.

Pada dasarnya terdapat berbagai macam alasan yang melatarbelakangi sebuah saham dibandari dan dimaintain harganya.

Namun, yang pasti tujuan akhirnya adalah ingin mencari keuntungan dari selisih harga jual beli yang terjadi pada saham tersebut.

Fase dalam Bandarmology Saham

Siklus pergerakkan saham

Gambar yang ada di atas adalah fase dari pergerakkan saham yang ada di pasar yang dikenal sebagai market cycle atau sikluas pasar.

Pertanyaannya adalah apa kaitannya gambar yang ada di atas dengan bandarmology saham?

Perlu kamu ketahui bahwa pada kenyataannya siklus pasar yang terjadi di atas tersebut terjadi karena peranan dari seorang bandar.

Atau dengan kata lain siklus tersebut terjadi karena adanya praktek bandarmology saham.

Ketika seorang bandar ingin bermain pada suatu saham, tentu saja dia harus menjadi orang yang memegang sebagian besar saham yang beredar di publik atau masyarakat.

Pada umumnya, seorang bandar juga berupaya untuk bisa mengumpulkan modal sahamnya di harga yang rendah atau murah.

Tujuannya adalah supaya dia bisa dengan mudah melakukan pengontrolan terhadap harga dengan melalui mekanisme permintaan dan juga penawaran yang sudah diatur.

Apabila dilihat dari gambar yang ada di atas bisa disimpulkan bahwa:

Pada saat terjadi stealth phase, dalam bandarmology saham merupakan fase awal terjadinya akumulasi.

Selanjutnya pada saat terjadi awareness phase biasanya disebut juga dengan fase menggoreng.

Kemudian ketika terjadi mania phase disebut juga dengan fase distribusi awal, dan pada saat blow off phase merupakan fase distribusi akhir.

Agar kamu bisa lebih memahami, berikut merupakan pembahasannya satu per satu:

fase dalam bandarmology saham

  • Fase Akumulasi

Fase akumulasi merupakan fase yang dimana seorang bandar mulai melakkan pengumpulan barang atau membeli saham.

Jangka waktu yang terjadi pada fase ini bisa dibilang bermacam – macam, mulai harian, mingguan, bahkan bisa saja sampai beberapa bulan lamanya.

Pada fase akumulasi ini pada umumnya volume transaksi yang terjadi pada sebuah saham mulai menunjukkan adanya peningkatan, akan tetapi tidak signifikan.

Selain itu, pada fase ini juga belum adanya kenaikan harga yang signifikan juga.

Pada beberapa kasus yang terjadi proses akumulasi ini dilakukan oleh seorang bandar dengan disertai penurunan harga saham.

Dijaganya sebuah harga saham ketika proses akumulasi mempunyai tujuan supaya seorang bandar bisa mengkoleksi saham di harga yang murah.

Seringkali dalam proses akumulasi ini dibantu dengan munculnya berbagai berita negatif dan hasil riset dan outlook yang negatif untuk saham yang menjadi sasaran seorang bandar.

Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk membuat keinginan menjual saham tersebut meninggar, sehingga akan mempermudah seorang bandar dalam mengumpulkan barang.

  • Fase Menggoreng

Kemudian setelah fase akumulasi telah selesai dilakukan, fase yang selanjutnya adalah fase menggoreng atau yang biasa disebut dengan mark up.

Pada fase menggoreng ini biasanya seorang bandar masih melakukan transaksi (aksi beli), akan tetapi harga dibiarkan mengalami kenaikan.

Hal tersebut dikarenakan memang tujuan utama dari seorang bandar untuk membawa harga saham naik ke level tertentu.

Untuk membantu kenaikkan harga suatu saham, seorang bandae tentu saja memerlukan bantuan dari para retail.

Oleh karena itu, kekuatan dari sisi permintaan harus dinaikkan. Cara yang biasanya dilakukan oleh seorang bandar untuk meningkatkan permintaan adalah dengan cara mengeluarkan berbagai cerita positif tentang saham tersebut.

  • Fase Distribusi

Selanjutnya setelah harga naik sesuai dengan yang diinginkan dan sudah dianggap cukup, maka dimulailah fase distribusi.

Fase distribusi ini merupakan fase yang dimana seorang bandar mulai sedikit demi sedikit mendistribusikan barangnya ke pasar atau dengan kata lain melepas atau menjual.

Pada awal fase distribusi ini seringkali harga masih bergerak naik karena penjualan dilakukan secara sedikit demi sedikit supaya tidak membuat pasar curiga.

Pada fase menengah, pada umumnya kenaikan harga dimulai terbatas dan juga cenderung bergerak sideways atau datar.

Hal tersebut dikarenakan penjualan yang dilakukan oleh bandar ini mulai mengalahkan kekuatan dari permintaan yang terjadi dari para retail.

Pada fase distribusi ini merupakan fase yang sangat penting bagi seorang bandar untuk memaintain harga, sehingga tidak jatuh terlalu awal atau sebelum distribusi selesai.

Jika harga sudah terlihat jatuh sebelum proses distribusi selesai, maka tidak menutup kemungkinan bahwa bandar akan kembali melakukan pembelian untuk mengangkat harga.

Dengan begitu tentu saja akan meningkatkan gairah beli dari para retail. Setelah penjualan atau distribusi sudah dianggap cukup, maka proses distribusi sudah memasuki tahap terakhir.

Pada tahapan terakhir ini penjualan akan dilakukan dengan volume yang cukup masif, sehingga harga akan tertekan kebawah.

Pada akhirnya setelah barang yang dimiliki oleh bandar habis dan sudah memperoleh keuntungan karena menjual di harga tinggi, hanya tinggal memaintain harga sahamnya dan menyerahkan mekanisme pada pasar.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang bandarmology saham. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar