Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Apa itu Biaya overhead pabrik (BOP)? Biaya overhead pabrik (BOP) atau biaya produksi tidak langsung adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Dalam perhitungan harga pokok, biaya overhead pabrik yang terjadi sangat sulit untuk secara langsung dibebankan kepada produk.

Sehingga BOP yang dibebankan kepada produk biasanya atas dasar tarif biaya overhead pabrik tunggal atau tarif biaya overhead pabrik departemen. Untuk lebih jelasnya berikut merupakan penjelasannya.

Pengertian Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Biaya overhead pabrik atau BOP adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Biaya tersebut antara lain biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan aktiva tetap pabrik, biaya sewa gedung pabrik, biaya listrik pabrik, biaya pemeliharaan, penyusutan mesin pabrik, dan lain sebagainya.

 

Jenis – Jenis Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Dari pengertian biaya overhead pabrik yang sudah dijelaskan sebelumnya biaya overhead pabrik terdiri sebagai berikut.

1. Berdasarkan Sifatnya

  • Biaya Bahan Penolong

Biaya bahan penolong adalah biaya bahan yang dipakai untuk membantu penyelesaian suatu produk yang jumlahnya relative kecil, sehingga biaya tersebut digolongkan ke dalam biaya produksi tidak langsung.

Misalnya seperti lem atau perekat pada perusahaan percetakan, pernis, dan paku pada perusahaan mebel.

  • Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung

Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah biaya tenaga kerja yang diberikan kepada pekerja atau karyawan yang tidak menangani secara langsung dalam proses produksi. Misalnya seperti gaji direksi produksi, gaji karyawan pada departemen pembantu, dan upah mandor.

  • Biaya Penyusutan Aktiva Tetap Pabrik

Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik adalah biaya penyusutan terhadap aktiva atau asset tetap yang dipakai di pabrik untuk penyelesaian produk, baik secara langsung atau pun tidak langsung. Misalnya seperti penyusutan mesin pabrik, penyusutan gedung pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, dan penyusutan barang inventaris lainnya.

  • Biaya Reparasi dan Pemeliharaan

Biaya reparasi dan pemeliharaan adalah biaya dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan mesin dan juga peralatan pabrik.

  • Biaya Asuransi Pabrik

Biaya asuransi pabrik adalah biaya yang dikeluarkan untuk membagi resiko yang mungkin akan terjadi dalam proses produksi di pabrik. Misalnya seperti asuransi gedung pabrik, asuransi tenaga kerja pabrik, dan lain sebagainya.

  • Biaya Jasa Kepada Pihak Lain

Biaya jasa kepada pihak lain adalah biaya yang muncul atau ditimbulkan karena penggunaan jasa kepada pihak lain guna penyelesaian dan juga kelancaran proses produksi. Misalnya seperti biaya reparasi mesin pabrik, biaya listrik dan air untuk pabrik, dan lain sebagainya.

  • Biaya-biaya lain yang Sifatnya Tidak Langsung

Adalah biaya yang berkaitan dengan proses produksi yaitu biaya yang dikeluarkan pada departemen pembantu. Misalnya seperti gaji mandor bagian gudang bahan baku dan cadangan pembangkit listrik (disel).

2. Berdasarkan Perilaku Terhadap Produksi

  • BOP Variabel

Adalah biaya overhead pabrik yang bertambah dan juga berkurang sebanding dengan perubahan volume produksi. Sehingga BOP per unit akan selalu sama atau tetap, meskipun terdapat perubahan pada volume produksi. Misalnya seperti biaya bahan penolong.

  • BOP Tetap

Adalah biaya yang jumlahnya tatap atau sama dan pada batas-batas tertentu tidak akan terpengaruh oleh perubahan volume produksi.

Sehingga jumlahnya akan selalu tetap meskipun volume produksi mengalami perubahan, sebaliknya BOP per unit akan selalu berubah, berbanding terbalik dengan perubahan volume produksi.

Misalnya seperti biaya penyusutan mesin pabrik, penyusutan gedung pabrik, dan lain sebagainya.

  • BOP Semi Variabel

Adalah biaya overhead pabrik yang jumlahnya berubah secara proporsional dengan perubahan jumlah produksi. Biaya ini mengandung unsur variabel dan tetap. Misalnya seperti biaya mandor bagian produksi, biaya listrik, dan lain sebagainya.

3. Berdasarkan Hubungan dengan Departemen

  • BOP Langsung Departemen

Adalah biaya overhead pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tertentu. Misalnya BOP yang ada di departemen perakitan adalah BOP langsung yang ada di departemen perakitan.

  • BOP Tidak Langsung Departemen

Adalah biaya overhead pabrik manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Misalnya seperti beban penyusutan gedung pabrik yang didistribusikan ke departemen produksi.

 

Tarif Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Dalam menetapkan besarnya BOP yang dibebankan pada produk suatu perusahaan didasarkan pada tariff yang sudah ditentukan di awal. Besar biaya overhead pabrik tidak berdasarkan BOP yang sesungguhnya terjadi.

Penentuan tarif tersebut didasarkan pada beberapa sifat dari biaya overhead pabrik. Penentuan sifat tersebut adalah sebagai berikut.

  • Terdapat BOP yang terjadinya tidak menentu atau tidak merata pada setiap bulannya.

Sehingga jika didasarkan pada biaya yang sesungguhnya terjadi akan mengakibatkan harga produksi menjadi lebih besar ketika terjadi pengeluaran.

BOP serta harga pokok produk akan rendah ketika tidak terjadi pengeluaran biaya overhead pabrik. Misalnya seperti biaya reparasi mesin atau perbaikan peralatan pabrik.

  • Terdapat BOP yang bersifat tetap.

Sehingga jika didasarkan pada biaya yang sesungguhnya terjadi akan berakibat pembebanan BOP yang mana biaya per unit akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi setiap periode.

Maka ketika volume produksi rendah biaya overhead pabrik per unit akan lebih besar dan sebaliknya.

  • Terdapat BOP yang jumlahnya baru diketahui ketika waktu-waktu tertentu.

Sehingga perubahan BOP pada produk tertentu sudah selesai akibatnya harga pokok produksi yang selesai pada pertengahan bulan tidak dibebani BOP yang belum diketahui jumlahnya. Misalnya biaya listrik pabrik.

Berdasarkan sifat-sifat tersebutlah kenapa BOP ditentukan berdasarkan tarif bukan pada biaya yang sesungguhnya terjadi.

 

Langkah – Langkah Menentukan BOP dengan Tarif Tunggal

Untuk bisa menentukan besarnya tariff biaya overhead pabrik yang dibebankan pada produk perlu dilakukan beberapa langkah berikut ini.

1. Menyusun Anggaran Biaya Overhead Pabrik

Dalam melakukan penyusunan anggaran BOP harus diperhatikan tingkat produksi atau kapasitas yang dipakai sebagai dasar penaksiran jumlah anggaran BOP. Kapasitas tersebut adalah sebagai berikut.

Kapasitas Teoritis (Kapasitas Ideal), adalah kapasitas maksimal yang bisa dihasilkan oleh suatu departemen atau pabrik dalam kondisi yang sempurna tanpa adanya hambatan baik itu dari internal atau dari eksternal perusahaan.

Kapasitas Praktis (Kapasitas Realistis), adalah kapasitas yang bisa dicapai oleh departemen setelah diperhitungkan adanya berbagai hambatan yang tidak bisa dihindarkan dari internal perusahaan. Misalnya seperti kerusakan, kehabisan bensin, dan lain sebagainya.

Kapasitas Normal (Kapasitas Jangka Panjang), adalah kapasitas yang bisa dicapai oleh departemen atau pabrik setelah dikurangi dengan berbagai hambatan yang terjadi pada internal perusahaan untuk jangka panjang.

Kapasitas Jangka Pendek, adalah kapasitas sesungguhnya yang diharapkan. Oleh karena itu, kapasitas jangka pendek adalah kapasitas yang diprediksi-kan bisa dicapai oleh departemen pada tahun yang akan datang selama 1 tahun.

Dalam praktiknya, perusahaan kebanyakan menggunakan kapasitas normal dan kapasitas sesungguhnya diharapkan.

2. Menentukan Dasar Pembebanan Biaya Overhead Pabrik Pada Produk

Sebagaimana sudah diuraikan sebelumnya bahwa langka awal dalam penentuan tariff BOP adalah menyusun anggaran BOP. Sedangkan dasar penyusunan anggaran BOP adalah kapasitas normal atau kapasitas sesungguhnya yang diharapkan.

Maka dasar yang dipakai untuk pembebanan BOP pada produksi adalah satuan produksi, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung, dan jam mesin.

3. Menghitung Tarif Biaya Overhead Pabrik

Dalam menghitung tariff BOP yang sudah ditetapkan atau ditentukan, tariff BOP bisa dihitung sesuai dengan dasar pembebanan masing-masing, yaitu sebagai berikut.

  • Atas dasar satuan produk

Untuk dapat menentukan tarif BOP atas dasar satuan produk maka bisa dihitung dengan cara membagi taksiran biaya overhead pabrik dengan jumlah satuan yang dihasilkan dan hasilnya adalah tarif BOP per unit produksi. Apabila dirumuskan adalah sebagai berikut:

tarif BOP atas dasar satuan produk

Rumusan BOP yang dibebankan pada produk:

Contoh:

Taksiran BOP pada suatu periode adalah Rp.7.500.000 dan taksiran produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan adalah 15.000 unit. Hitunglah besarnya tariff BOP per unit dan BOP yang dibebankan pada produk, jika produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan adalah 12.000 unit.

Jawab:

Tarif BOP per unit =Rp.7.500.000 / 15.000 =Rp.500
BOP yang dibebankan pada produk adalah =12.000 x Rp.500 =Rp.6.000.000
  • Atas dasar biaya bahan baku

Untuk dapat menentukan tariff BOP atas dasar biaya bahan baku bisa dihitung dengan cara membagi taksiran BOP dengan taksiran biaya bahan baku yang dinyatakan dengan persentase. Dan hasilnya adalah tariff BOP dalam % dari biaya bahan baku.

tariff BOP atas dasar biaya bahan baku

Berdasarkan BOP yang dibebankan pada produk adalah % BOP dari bahan yang dikeluarkan pada periode yang bersangkutan.

Contoh:

Taksiran BOP pada periode tertentu adalah Rp.2.500.000 dan taksiran biaya bahan baku yang dipakai pada periode yang bersangkutan adalah Rp.2.000.000.

Hitunglah % tarif BOP dari bahan dan hutang juga besarnya BOP yang dibebankan pada suatu produk jika menurut catatan biaya bahan yang dikeluarkan untuk produk tertentu adalah Rp.150.000.

Jawab:

Tarif BOP dari bahan =Rp.2.500.000 / Rp.2.000.000 x 100% =1,25%
BOP yang dibebankan pada produk adalah =1,25% x Rp.150.000 =Rp.187.500
  • Atas dasar biaya tenaga kerja langsung

Jika tarif BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung maka tariff tersebut dihitung dengan cara membagi taksiran biaya overhead pabrik dengan taksiran biaya tenaga kerja langsung yang dinyatakan dalam persentase dengan rumus.

tarif BOP didasarkan pada biaya tenaga kerja langsung

Rumus persentase tariff BOP yang dibebankan pada produk:

Contoh:

Taksiran BOP pada periode tertentu adalah Rp.1.000.000 dan taksiran biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.1.250.000. Hitunglah % tariff BOP dari biaya tenaga kerja langsung dan hitunglah besarnya BOP yang dibebankan pada suatu produk jika biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan untuk produk yang bersangkutan adalah Rp.400.000.

Jawab:

Tarif BOP dari BTKL =Rp.1.000.000 / Rp.1.250.000 x 100% =80%
BOP yang dibebankan pada produk adalah =80% x Rp.400.000 =Rp.320.000
  • Atas dasar jam tenaga kerja langsung

Jika tariff BOP ini didasarkan pada jam tenaga kerja langsung, maka tariff tersebut bisa dihitung dengan cara membagi taksiran BOP dengan taksiran jam kerja langsung. Untuk dapat menghitung tariff BOP berdasarkan jam tenaga kerja langsung dapat digunakan rumus sebagai berikut.

tarif BOP berdasarkan jam tenaga kerja langsung

BOP yang dibebankan pada produk:

Contoh:

Taksiran BOP pada periode tertentu Rp.1.000.000 dan taksiran jam tenaga kerja langsung yang bisa dicapai pada periode yang bersangkutan adalah 2.500 jam.

Hitunglah besarnya tariff BOP per jam tenaga kerja langsung dan hitunglah besarnya BOP yang dibebankan pada suatu produk jika jam tenaga kerja langsung yang bisa dicapai pada periode yang bersangkutan adalah 2.000 jam.

Jawab:

Tarif BOP tiap jam tenaga kerja langsung =Rp.1.000.000 / 2.500 =Rp.400
BOP yang dibebankan pada produk adalah =2.000 x Rp.400 =Rp.800.000
  • Atas dasar jam mesin

Jika tariff BOP didasarkan pada jam mesin, maka tariff BOP bisa dihitung dengan membagi taksiran BOP dengan taksiran jam mesin. Berikut merupakan rumus yang digunakan.

tarif BOP berdasarkan jam mesin

Rumus BOP yang dibebankan pada produk:

Contoh:

Taksiran BOP pada periode tertentu Rp.1.000.000 dan taksiran kan mesin yang bisa dicapai adalah 4.000 jam. Hitunglah tarif BOP per jam mesin dan hitunglah BOP yang dibebankan pada periode yang bersangkutan jika jam mesin yang bisa dicapai adalah 3.000 jam.

Jawab:

Tarif BOP tiap jam mesin =Rp.1.000.000 / 4.000 =Rp.250
BOP yang dibebankan pada produk adalah =3.000 x Rp.250 =Rp.750.000

 

Tarif Menghitung Selisih Biaya Overhead Pabrik

Untuk dapat menghitung analisa selisih BOP baik selisih anggaran atau selisih kapasitas penentuan tarif BOP sering dibedakan menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut.

1. Tarif Total

Tarif total adalah suatu tarif BOP secara keseluruhan baik itu BOP variabel atau BOP tetap. Rumus yang digunakan untuk menghitung tarif ini adalah sebagai berikut.

tarif biaya overhead pabrik total

2. Tarif Tetap

Tarif tetap adalah tarif BOP yang tidak dipengaruhi oleh perubahan volume produksi. Rumus yang digunakan untuk menghitung tarif ini adalah sebagai berikut.

tarif biaya overhead pabrik tetap

3. Tarif Variabel

Tarif variabel adalah tarif BOP yang berubah sebanding dengan berubah nya volume produksi. Rumus yang digunakan untuk menghitung tarif ini adalah sebagai berikut.

tarif biaya overhead pabrik variable

Contoh:

Perusahaan Solali bergerak di bidang industri pakaian menetapkan tarif BOP atas dasar jam tenaga kerja langsung. Hitunglah besarnya tarif BOP tetap dan tarif BOP variabel apabila diketahui.

Anggaran BOP tetap = Rp.2.000.000

Anggaran BOP variabel = Rp.3.000.000

Jumlah jam kerja langsung = 10.000 jam

Jawab

Tarif BOP tetap =Rp.2.000.000 / 10.000 =Rp.200
Tarif BOP variabel =Rp.3.000.000 / 10.000 =Rp.300
Tarif BOP total =Rp.200 + Rp.300 =
atau
(Rp.2.000.000 + Rp.3.000.000) / 10.000 =
Rp.500

 

Selisih Biaya Overhead Pabrik

Sebagaimana sudah disebutkan di awal artikel ini bahwa biaya overhead pabrik dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditetapkan di muka. Jumlah pembebanan ini sering tidak sama dengan BOP sesungguhnya yang terjadi, maka akan menimbulkan selisih BOP.

BOP sesungguhnya lebih besar dari BOP yang dibebankan, maka akan menimbulkan selisih rugi yang dicatat pada rekening BOP kurang dibebankan.

Dan sebaliknya jika BOP sesungguhnya terjadi lebih kecil dari BOP yang dibebankan, maka kan menimbulkan selisih yang menguntungkan yang dicatat dalam rekening atau akun BOP lebih dibebankan.

Untuk selanjutnya selisih biaya overhead pabrik tersebut bisa diperlakukan sebagai laba/rugi atau dibebankan ke dalam harga pokok penjualan. Secara umum pencatatan jurnal BOP yang dibebankan, BOP sesungguhnya, dan selisih BOP adalah sebagai berikut.

1. Jurnal pembebanan BOP kepada produk

TanggalNama AkunRefDebetKredit
Barang dalam proses (BDP) – BOPRp. $$$
          BOP yang dibebankanRp. $$$

2. Jurnal pengumpulan Bop sesungguhnya

TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP sesungguhnyaRp. $$$
         Persediaan bahan pembantuRp. $$$
         Biaya tenaga kerja langsungRp. $$$
         Penyusutan gedung pabrikRp. $$$
         Penyusutan mesin pabrikRp. $$$

Atau jika BOP tidak disebutkan secara rinci bisa di-jurnal sebagai berikut ini.

TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP SesungguhnyaRp. $$$
          Macam – Macam akun yang harus di kreditRp. $$$

3. Saat pencatatan selisih BOP

  • BOP yang lebih dibebankan
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP dibebankanRp. $$$
          BOP sesungguhnyaRp. $$$
          BOP lebih dibebankanRp. $$$
  • BOP kurang dibebankan
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP dibebankanRp. $$$
BOP kurang dibebankanRp. $$$
          BOP sesungguhnyaRp. $$$

4. Jika selisih BOP dibebankan ke akun laba/rugi

  • Jurnal BOP lebih dibebankan
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP lebih dibebankanRp. $$$
Laba / rugiRp. $$$
  • Jurnal BOP kurang dibebankan
TanggalNama AkunRefDebetKredit
Laba / rugiRp. $$$
          BOP kurang dibebankanRp. $$$

Jika selisih BOP dibebankan ke rekening atau akun HPP (Harga Pokok Penjualan)

  • Jurnal BOP lebih dibebankan
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP lebih dibebankanRp. $$$
          Harga pokok penjualanRp. $$$
  • BOP kurang dibebankan
TanggalNama AkunRefDebetKredit
Harga pokok penjualanRp. $$$
          BOP kurang dibebankanRp. $$$

Untuk lebih jelasnya berikut merupakan contohnya.

Suatu perusahaan industry pada periode tertentu mempunyai data sebagai berikut ini.

Taksiran BOP tetap =Rp.8.100.000
Taksiran BOP variable =Rp.9.900.000
Biaya overhead yang sesungguhnya terjadi =Rp.16.300.000
Jam mesin normal =45.000 jam
Jam mesin sesungguhnya =40.000 jam

Buatlah jurnal yang dibutuhkan untuk mencatat BOP jika tariff BOP berdasarkan jam mesin

Jawab:

  • Jurnal untuk mencatat pembelian BOP.
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BDP – BOPRp.16.000.000
          BOP dibebankanRp.16.000.000

Keterangan:

Tarif BOP =Rp.18.000.000 / 45.000 =Rp.400 / jam mesin
Jam mesin yang sesungguhnya terjadi adalah 40.000 jam
BOP yang dibebankan =40.000 x Rp.400 =Rp.16.000.000
  •  Jurnal untuk mengumpulkan BOP sesungguhnya.
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP sesungguhnyaRp.16.300.000
          Berbagai macam akun yang dikreditRp.16.300.000
  • Jurnal yang dipakai untuk mencatat selisih BOP dan menutup BOP dibebankan ke BOP sesungguhnya.
TanggalNama AkunRefDebetKredit
BOP dibebankanRp.16.000.000
BOP kurang dibebankanRp.300.000
          BOP sesungguhnyaRp.16.300.000
  • Jurnal pembebanan selisih BOP pada laba / rugi.
TanggalNama AkunRefDebetKredit
Laba / rugiRp.300.000
          BOP kurang dibebankanRp.300.000
  • Jurnal pembebanan selisih BOP pada harga pokok penjualan.
TanggalNama AkunRefDebetKredit
Harga pokok penjualanRp.300.000
          BOP kurang dibebankanRp.300.000

 

Analisis Selisih Biaya Overhead Pabrik

Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa terjadinya selisih biaya overhead pabrik (BOP) ini adalah disebabkan karena adanya perbedaan antara BOP yang dibebankan dengan BOP sesungguhnya.

Selisih BOP tersebut bisa dianalisis dengan menggunakan metode analisis 2 selisih yaitu selisih anggaran dan selisih kapasitas.

  • Selisih anggaran

Selisih anggaran adalah selisih BOP dari perbedaan antara biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi dengan taksiran biaya yang sebenarnya dikeluarkan menurut anggaran. Selisih ini pada umumnya dikarenakan adanya perubahan pada BOP variable.

Sehingga selisih anggaran bisa dihitung dengan cara membandingkan antara jumlah BOP sesungguhnya dengan anggaran BOP pada kapasitas yang ditetapkan. Maka secara umum selisih anggaran bisa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

BOP sesungguhnyaRp. $$$
BOP yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya:
     BOP tetap(Rp. $$$)
     BOP variable (kapasitas sesungguhnya x tarif)(Rp. $$$) +
Jumlah BOP yang dianggarkan =(Rp. $$$) –
Selisih anggaranRp. $$$

Jika BOP sesungguhnya lebih besar dari BOP yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya, maka akan timbul selisih rugi.

Sebaliknya jika BOP sesungguhnya lebih kecil dari BOP yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya, maka akan timbul selisih untung.

  • Selisih kapasitas

Selisih kapasitas adalah selisih BOP dari perbedaan antara BOP tetap yang dianggarkan dengan BOP tetap yang dibebankan kepada produk. Maka secara umum selisih kapasitas bisa dihitung dengan rumus berikut ini.

BOP tetap yang dianggarkanRp. $$$
BOP tetap yang dibebankan pada produk
(kapasitas sesungguhnya x tarif)
Rp. $$$ –
Selisih kapasitasRp. $$$

Jika BOP tetap yang dianggarkan lebih besar dari BOP tetap yang dibebankan pada produk, maka akan timbul selisih rugi.

Sebaliknya jika BOP tetap yang dianggarkan lebih kecil dari BOP tetap yang dibebankan pada produk akan timbul selisih untung.

Contoh:

Suatu perusahaan industri pada periode tertentu mempunyai data sebagai berikut.

Anggaran BOP tetapRp. 6.750.000
Anggaran BOP variabelRp.11.250.000
BOP sesungguhnyaRp.15.400.000
Jam mesin normal45.000 jam
Jam mesin sesungguhnya40.000 jam

Dari data tersebut:

  1. Buatlah perhitungan selisih pembebanan BOP
  2. Buatlah analisis BOP dengan metode 2 selisih

Jawab:

1. Perhitungan selisih pembebanan BOP

Tarif BOP tetap =Rp.6.750.000 / 45.000 =Rp.150 / jam mesin
Tarif BOP variabel =Rp.11.250.000 / 45.000 =Rp.250 / jam mesin
Tarif BOP total =(Rp.6.750.000 + Rp.11.250.000) / 45.000 =Rp.400 / jam mesin

Selisih pembebanan dapat dihitung dengan menggunakan cara berikut ini.

BOP sesungguhnyaRp.15.400.000
BOP yang dibebankan40.000 x Rp.400 =(Rp.16.000.000)
Jadi, pembebanan BOP (Laba)Rp.600.000

2. Analisis BOP dengan metode 2 selisih

  •  Selisih anggaran
BOP sesungguhnyaRp.15.400.000
BOP yang dianggarkan pada kapasitas sesungguhnya:
     BOP tetap(Rp.6.750.000)
     BOP variable (kapasitas sesungguhnya x tarif)(Rp.10.000.000) +
Jumlah BOP yang dianggarkan =(Rp.16.750.000) –
Selisih anggaran (Laba)Rp.1.350.000
  • Selisih kapasitas
BOP tetap yang dianggarkanRp.6.750.000
BOP tetap yang dibebankan pada produk
(40.000 x Rp.150)
Rp.6.000.000 –
Selisih kapasitas (Rugi)Rp.750.000

Atas dasar analisa yang dilakukan tersebut maka diperoleh.

Selisih anggaran labaRp.1.350.000
Selisih anggaran rugi(Rp.750.000) –
Total selisih BOP (laba)Rp.600.000

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang biaya overhead pabrik atau BOP. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan kamu. Jika ada saran, kritik, atau pertanyaan silahkan sampaikan di kolom komentar ya. Terimakasih.

7 pemikiran pada “Biaya Overhead Pabrik (BOP)”

  1. Anggaran bop kepada kapasita normal yang direncanakan sebanyak 40.000 jam kerja mesin adalah sebagai berikut
    Bop variabel Rp 1.450.000
    Bop tetap. Rp 1.350.000
    Bop sesungguhnya pada kapasitas 37.500 jam kerja mesin adalah Rp 2.675.000

    Balas
  2. 1. PT. XYZ memiliki anggaran BOP sebesar Rp. 10.000,- terdiri dari BOP tetap Rp. 6.000,- dan BOP variabel Rp. 4.000,-. Kapasitas normal yang digunakan sebagai dasar alokasi perhitungan tarif sebagai berikut:
    a. Unit produksi 4.000 unit,
    b. Jam tenaga kerja langsung (JTKL) 6.000 jam
    c. Jam kerja mesin (JKM) 2.000 jam
    d. Biaya tenaga kerja langsung (BTKL) Rp. 1.000,-
    e. Biaya bahan langsung (BBL) Rp. 12.000,-
    Diminta:
     Hitunglah tarip BOP?
     Buatlah tabel tarip BOP?

    ini pakai rumus yg mana ya? mohon bantuannya terima kasih

    Balas
    • untuk jawabannya bisa menggunakan rumus yang ada di dalam artikel ka, yaitu sebagai berikut:

      a. Rp.10.000/4.000 unit = Rp.2,5
      b. Rp.10.000/6.000 jam = Rp.1,7
      c. Rp.10.000/2.000 jam = Rp.5
      d. Rp.10.000/Rp.1.000 x 100% = 1000%
      e. Rp.10.000/Rp.12.000 x 100% = 83,33%

      Balas

Tinggalkan komentar