Cara Menjadi Reseller

Pada zaman yang serba canggih seperti sekarang ini menghasilkan uang semakin beragam caranya. Tidak harus berangkat ke kantor, tapi bisa dilakukan di rumah saja seperti menjadi reseller. Ada beberapa cara menjadi reseller yang bisa dilakukan.

Perkembangan teknologi pada saat ini mampu mempengaruhi karakteristik dari masyarakat.

Sebelum perkembangan teknologi, kebanyakan masyarakat berbelanja harus ke pasar atau mall. Namun pada saat ini masyarakat lebih menyukai berbelanja secara online.

Nah, dengan perubahan tersebut tentu saja akan mempermudah untuk menjalankan bisnis sebagai reseller.

Dulu sebelum populernya online shop, menjadi reseller merupakan hal yang sulit. Hal tersebut karena jangkauan pemasaran reseller belum terlalu luas seperti sekarang ini.

Oke untuk mengetahui lebih banyak tentang reseller Yuk tetap simak pembahasannya dalam artikel ini!!

Apa Itu Reseller?

Arti dari kata reseller adalah menjual kembali. Maksudnya adalah reseller merupakan seorang yang membeli produk dari supplier atau pedagang lain, selanjutnya produk tersebut akan dijual kembali kepada konsumen dengan harga yang lebih tinggi.

Selisih yang berasal dari harga jual kepada konsumen dan harga beli dari supplier ini akan menjadi laba bagi reseller.

 

Cara Kerja Reseller

Sebelum kamu menjadi seorang reseller, alangkah baiknya jika kamu memahami terlebih dahulu cara kerja reseller.

Berikut ini merupakan gambar yang menunjukan bagaimana cara kerja reseller.

cara menjadi reseller

  • Pertama

Pemilik produk / supplier / produsen / distributor / agen / toko grosir akan menjualkan produknya dengan harga khusus kepada reseller.

Selanjutnya seorang reseller akan menjadikan produk yang dibelinya dari penyedia produk sebagai persediaannya.

Biasanya ada batasan kuantitas minimal dalam melakukan pembelian produk kepada supplier.

Ada juga yang harus membayar terlebih dahulu dengan jumlah tertentu untuk bisa menjadi member reseller suatu produk.

Dengan menjadi member, maka akan mendapatkan harga khusus.

  • Kedua

Setelah membeli produk kepada supplier, reseller akan menjual produk yang sudah dibelinya tersebut kepada konsumen dengan harga yang lebih tinggi dari pembelian.

Dalam hal ini reseller lah yang melakukan pengiriman produk kepada para konsumen nya.

 

Kelebihan Reseller

Terdapat beberapa kelebihan apabila kamu menjadi seorang reseller, yaitu sebagai berikut.

1. Sistem yang mudah dilakukan bagi pemula

Mengapa demikian?

Hal tersebut karena kamu tidak usah repot – repot membuat produk. Sehingga, pemula yang ingin memulai usaha dapat langsung fokus melakukan penjualan.

2. Bisa dijadikan sebagai penghasilan sampingan

Bagi kamu yang sudah mempunyai pekerjaan, tentu saja berjualan sebagai reseller menjadi pilihan yang sangat tepat.

Faktor utamanya adalah tidak harus repot – repot memikirkan harus membuat produk apa.

Selama kamu mempunyai produk yang bisa dijual dan penyedia produk, maka menjadi reseller adalah suatu profesi yang sangat menyenangkan untuk menambah penghasilan diluar penghasilan pokok.

3. Bisa jualan secara offline

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa reseller ini mengakui produk yang dibeli dari penyedia produk sebagai persediaan.

Oleh karena itu kamu bisa melakukan penjualan selain melalui internet. Artinya kamu dapat melakukan penjualan secara offline, misalnya dengan membuat toko fisik.

 

Kekurangan Reseller

Selain mempunyai kelebihan, reseller juga mempunyai kekurangan, yaitu sebagai berikut.

1. Tidak mempunyai kontrol terhadap produk

Misalnya kamu menjadi reseller produk A dan di pasaran produk tersebut sangat laku.

Hal tersebut dapat memungkinkan pemilik produk membatasi penjualannya kepada reseller.

Kenapa demikian?

Logikanya, apabila dengan menjual secara langsung kepada konsumen pemilik produk dapat mendapatkan keuntungan yang lebih besar, kenapa harus menjual kepada reseller?

2. Keuntungan tidak terlalu tinggi

Kekurangan yang kedua ini masih berhubungan dengan kekurangan yang pertama.

Biasanya, perbedaan harga jual produk secara umum dengan reseller tidak terlalu jauh.

Perbedaan yang tidak terlalu jauh tersebut tentu saja akan membuat keuntungan kamu tidak terlalu besar.

3. Produk banyak dipasaran

Karena kamu menjual produk yang bukan milikmu sendiri dan banyak orang lain yang menjual produk tersebut juga.

Tentu saja hal tersebut akan membuat produk menjadi pasaran. Dengan banyaknya orang yang menjual produk yang sama tentunya akan banyak persaingan yang terjadi.

4. Produk mudah ditiru

Maksudnya adalah barrier to entry produk sangatlah mudah. Pesaing mempunyai peluang besar untuk melakukan copy paste produk kamu dengan mudah.

Apalagi jika kamu mempunyai seorang pegawai atau staff yang mengelola penjualan serta pembelian produk.

Kemungkinan besar dia bisa menjadi saingan kamu dengan produk yang sama seperti yang kamu jual di masa depan.

 

Tips / Cara Menjadi Reseller

Terdapat beberapa hal yang perlu kamu perhatikan pada saat menjadi reseller. Hal tersebut dengan tujuan untuk meminimalkan kekurangan dari reseller.

Berikut ini merupakan beberapa tips / cara menjadi reseller yang perlu kamu perhatikan.

1. Jual Produk yang Tepat

Apabila kamu akan memulai usaha sebagai reseller, maka cara menjadi reseller pertama yang perlu kamu lakukan adalah menentukan produk apa yang akan kamu jual. Sebaiknya pilihlah produk yang sudah kamu kuasai.

Maksudnya adalah kamu memahami secara detail produk yang kamu jual.

Misalnya kamu sangat memahami produk jaket, mulai dari berbagai jenis kain untuk membuat jaket, ukuran standar jaket, kelebihan dan kekurangan jenis kain pembuat jaket dan lain sebagainya.

Hal tersebut dengan tujuan agar kamu bisa menjelaskan secara detail kepada konsumen tentang produk kamu.

Selain itu, kamu juga akan mengetahui apa yang harus kamu lakukan kedepannya, misalnya seperti untuk menentukan segmentasi pasar, targeting, dan positioning produk.

2. Memahami Pesaing

Semakin sedikit jumlah pesaing kamu, tentu saja akan semakin menguntungkan kamu.

Setiap pelaku usaha tentu saja tidak akan membiarkan ada banyak pesaing yang menjual produk yang sama di wilayah yang sama pula.

Oleh karena itu sangat penting bagi kamu untuk memahami setiap pesaing kamu. Banyak reseller yang gagal karena tidak bisa bersaing dengan para pesaing nya.

Agar resiko tersebut dapat berkurang kamu perlu banyak mempelajari dan memahami bagaimana keadaan dari para pesaing kamu.

3. Menguasai Pemasaran Online

Kamu tentunya sudah mengetahui jika pada saat ini peran teknologi sangat signifikan untuk meningkatkan penjualan produk.

Oleh karena itu, memiliki kemampuan pemasaran digital sangat lah penting, bahkan menjadi suatu hal yang harus kamu kuasai.

Kamu harus mempelajari berbagai platform atau media yang bisa kamu gunakan untuk melakukan pemasaran online.

Cara menjadi reseller dengan menguasai pemasaran online ini bertujuan supaya jangkauan pemasaran produk kamu lebih luas.

4. Mempunyai Lebih dari Satu Supplier

Mengapa kamu harus mempunyai lebih dari satu supplier?

Hal tersebut karena apabila hal buruk terjadi pada supplier A maka kamu sudah bisa mengatasinya dengan beralih ke supplier B.

Misalnya seperti pemilik produk responnya lambat atau produk tersedia dalam jangka waktu lama.

Maka masalah tersebut dapat kamu atasi dengan beralih ke supplier lain. Sehingga proses bisnis kamu tidak akan terhambat karena masalah yang dialami satu supplier.

5. Belajar Berkomunikasi dengan Baik

Apabila kamu menjalankan usaha sebagai reseller seorang diri tanpa adanya tim, maka kamu harus bisa berkomunikasi secara baik dengan konsumen.

Cara menjadi reseller yang terakhir ini bertujuan supaya meningkatkan peluang terjadinya closing atau penjualan.

Karena ada banyak kasus seorang reseller sudah berhasil menjaring calon konsumen, namun gagal melakukan penjualan produk dikarenakan komunikasi yang kurang baik dengan calon konsumen tersebut.

 

Cara Memilih Supplier Terbaik

Salah satu cara menjadi reseller adalah dengan mencari supplier atau penyedia produk yang terbaik.

Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan dalam mencari atau memilih supplier yang terbaik, yaitu sebagai berikut.

1. Pemilik Produk Kredibel

Maksud dari pemilik produk kredibel adalah pemilik produk harus dapat dipercaya. Tidak melakukan penipuan dan selalu berkata jujur.

Hal ini sangatlah penting, karena ada kemungkinan kamu akan terjerat kasus hukum apabila kamu ikut serta menjual produk yang bermasalah.

Misalnya saja kamu menjual produk kosmetik, namun produk tersebut tidak ada izin dari badan resmi.

Tentu saja hal tersebut ilegal, dan kamu bisa terjerat kasus hukum karena menjual barang yang ilegal.

2. Pastikan Produk Tersedia

Misalnya saja kamu menjual produk A, dan produk tersebut sangat laku di pasaran. Pada suatu saat persediaan yang kamu miliki hampir habis.

Kamu ingin membeli produk ke penyedia produk / supplier, namun produk yang ada di supplier pun sudah habis persediaannya dan restock yang dilakukan supplier lama.

Tentu saja hal tersebut dapat memperlambat arus kas dan bisa berakibat kas yang tidak sehat bagi kamu. Selain itu kamu juga akan kehilangan peluang yang besar.

Bagaimana kamu memastikan produk tersedia?

Hal tersebut dapat kamu tanyakan kepada supplier sebelum kamu melakukan perjanjian dengan supplier tersebut.

3. Produk Berkualitas

Apabila kamu mengetahui tempat usaha dari pemilik produk dan lokasinya dekat dengan lokasimu, maka kamu bisa datang langsung ke tempat usahanya untuk memastikan kualitas dari produknya.

Jika kamu tidak mengetahui tempat usaha dari pemilik produk, maka kamu bisa melihat dari feedback / ulasan orang lain yang menggunakan produk tersebut.

Selain itu kamu juga bisa mencoba produk yang akan kamu jual terlebih dahulu untuk dapat memastikan kualitasnya.

4. Memahami Track Record Supplier

Kamu sebaiknya jangan terlalu terburu – buru dalam mengambil keputusan untuk menjalin kerjasama.

Alangkah baiknya jika kamu mengetahui track record dari supplier, apakah baik dan tidak pernah terlambat dalam mengirim produk atau secara tiba – tiba menaikkan harga produk.

Untuk hal tersebut kamu dapat melakukan riset terlebih dahulu. Misalnya kamu mencari supplier dengan melalui marketplace, maka kamu bisa memantau calon supplier kamu beberapa hari.

Selama pemantauan yang kamu lakukan, apa saja kah yang berubah? Apakah hal tersebut baik atau tidak?

Selain melakukan pemantauan, kamu juga bisa melihat ulasan yang diberikan oleh konsumen kepada calon supplier kamu.

Jadi dengan melihat ulasan selain bisa mengetahui kualitas dari produk yang dijual supplier kamu juga bisa mengetahui track record dari calon supplier kamu.

5. Mengetahui Kapasitas Supplier

cara memilih supplier yang selanjutnya adalah dengan mengetahui kapasitas supplier.

Setiap supplier tentu saja mempunyai kapasitas yang berbeda – beda. Ada supplier yang mampu memenuhi seluruh permintaan yang kamu inginkan dan ada juga yang hanya bisa memenuhi sebagian saja.

Oleh karena itu ada baiknya jika kamu memastikan hal tersebut sebelum melakukan perjanjian dengan calon supplier.

6. Pelajari Kebijakan Supplier tentang Return

Menjalin hubungan kerjasama dengan supplier yang terpercaya pun, tentunya akan ada saat dimana terdapat produk yang tidak sesuai dengan pesanan.

Hal tersebut bisa jadi produk rusak pada saat dalam perjalanan atau mungkin ada penurunan kualitas produk.

Pastinya hal tersebut akan membuat kamu untuk melakukan pengembalian produk (return) kepada supplier.

Sehingga, kamu perlu untuk memahami seluruh kebijakan atau syarat pengembalian produk yang tidak sesuai dengan pesanan ataupun rusak.

7. Fast Respon

Cara memilih supplier yang terbaik selanjutnya adalah dengan dilihat dari kecepatan dalam melayani dan menanggapi setiap konsumennya.

Hal tersebut jangan dianggap remeh, karena dengan memilih supplier yang fast respon, maka akan mempermudah kamu jika terjadi suatu masalah atau keluhan pada produk yang dikirim oleh supplier.

Semakin cepat suatu masalah diselesaikan, tentunya akan semakin baik untuk usaha yang sedang kamu jalankan.

 

Cara Menentukan Harga Jual Bagi Reseller

Pada umumnya rumus yang digunakan untuk menghitung keuntungan adalah harga jual dikurangi dengan harga beli.

Misalnya jika kamu membeli suatu produk dengan harga beli atau harga dari supplier sebesar Rp 100 ribu, maka kamu harus menetapkan harga jual diatas Rp 100 ribu.

Dalam hal ini berlaku rumus harga beli + X = harga jual, X merupakan keuntungan yang kamu dapatkan.

Pertanyaannya adalah berapa X tersebut?

Hal ini menjadi suatu permasalahan yang dihadapi oleh para reseller pemula yang menentukan nilai X atau keuntungan tanpa alasan dan suatu perhitungan yang jelas.

Hal tersebut tentu saja berakibat pada harga yang tidak stabil atau labil dan profit yang tidak dapat diprediksi.

Melakukan mark up harga memang terlihat mudah, kamu hanya perlu menambahkan sekian rupiah dari harga pokok atau harga beli.

Tetapi, sebenarnya terdapat beberapa hal yang wajib kamu pertimbangkan, yaitu sebagai berikut.

1. Target Penjualan

Target merupakan sasaran atau titik yang harus kamu capai dalam kurun waktu tertentu.

Target ini sangat lah penting, karena sebagai acuan dan juga motivasi kamu dalam melakukan penjualan.

Misalnya kamu menjual sepatu dan kamu mentargetkan penjualan 30 pasang sepatu dalam satu bulan.

Apabila dirata – rata berarti minimal dalam sehari kamu harus menjual sebanyak 1 pasang sepatu supaya target penjualan selama satu bulan tercapai.

2. Biaya Operasional

Dalam hal ini kamu juga harus memperhitungkan seluruh biaya operasional yang kamu keluarkan untuk menunjang proses jual beli.

Misalnya seperti biaya internet, biaya packing, dan gaji karyawan jika kamu mempunyai karyawan serta biaya transportasi jika yang menanggung biaya transportasi bukan konsumen.

Misalnya selama satu bulan, setelah dihitung kamu mengeluarkan biaya untuk internet sebesar Rp 100 ribu, baiya packing Rp 5 ribu, dan gaji karyawan Rp 700 ribu. Serta untuk biaya transportasi ditanggung oleh konsumen.

Maka total biaya operasional selama satu bulan adalah Rp 805 ribu. Apabila dirata – rata berarti dalam satu hari biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 26.833 atau dibulatkan menjadi Rp 27 ribu.

Sehingga setiap produk yang kamu jualkan harus ditambah Rp 27 ribu.

3. Target Pengembangan (Laba)

Misalnya dalam kurun waktu 1 tahun kamu mempunyai target harus sudah bisa mendirikan sebuah toko yang dapat membeli produk dalam jumlah banyak.

Pada saat berada di fase tersebut, tentunya kamu sudah bukan lagi menjadi reseller.

Namun, usaha kamu sudah menjadi grosir bahwa bisa menjadi supplier yang dapat melayani reseller lainnya.

Nah, modal yang dikeluarkan untuk melakukan pengembangan ini diambil dari keuntungan atau laba penjualan yang kamu lakukan.

Pada umumnya, reseller atau pedagang retail menentukan laba minimal 20% sampai dengan 40%. Namun ada juga yang lebih dari 50% dari harga pokok atau harga beli.

Pertanyaannya adalah mana yang cocok bagi kamu? Sebelum menentukan besarnya keuntungan, kamu harus memperhatikan ke-2 hal berikut.

  • Daya Beli Pasar Kamu

Apabila kamu mempunyai target pasar orang yang berusia 18 – 45 tahun, maka kamu bisa menetapkan laba sebesar 30%.

Kenapa?

Karena di usia tersebut masih ada yang mungkin belum mempunyai pekerjaan atau masih menempuh pendidikan.

Kondisi keuangan mereka yang belum memiliki pekerjaan atau masih menempuh pendidikan tentu saja berbeda dengan kondisi keuangan mereka yang bekerja.

Oleh karena itu, kamu jangan menetapkan laba terlalu tinggi, karena target pemasaran kamu belum semuanya mempunyai pekerjaan.

  • Harga Pesaing

Dalam menentukan besarnya laba, kamu juga harus memperhatikan harga yang ditetapkan oleh pesaing yang sudah terlebih dahulu menjual produk yang sama dengan kamu.

Kamu dapat melakukan riset di beberapa marketplace atau online shopee yang mempunyai website.

Jangan sampai kamu menetapkan harga jual yang jauh lebih mahal daripada pesaing kamu yang menjual produk serupa dengan apa yang kamu jual.

Menentukan Harga

Oke dari beberapa poin tersebut kamu dapat menggunakan rumus berikut ini untuk menentukan harga jual.

cara menentukan harga jual

Dari contoh harga yang sudah saya berikan sebelumnya dapat dihitung sebagai berikut.

HJ = Rp 100.000 + Rp 27.000 + Rp 30.000

HJ = 157.000 / pasang sepatu

Rp 30.000 diperoleh dari harga beli x 30 %

Dalam menentukan harga jual suatu produk, seorang reseller juga harus memperhatikan supply and demand (penawaran dan permintaan).

Apabila terjadi saat dimana permintaan banyak dan ketersediaan produk sedang langka atau penawarannya sedikit, maka kamu boleh saja menaikkan harga dari standar perhitungan diatas.

Seorang reseller jangan hanya asal markup harga jual, karena hal tersebut akan menentukan keberlangsungan penjualan produk kamu.

Jangan sampai harga yang kamu tetapkan akan merusak kesan pertama dan mencederai brand image bisnis kamu.

 

Perbedaan Reseller dan Dropship

Berikut ini merupakan beberapa perbedaan dari reseller dengan dropship.

ResellerDropship
Melakukan pembelian produk terlebih dahulu kepada penyedia produk atau supplier dengan suatu ketentuan tertentu jika ada.Tidak diharuskan membeli produk terlebih dahulu kepada penyedia produk atau supplier.
Promosi dapat dilakukan dengan menggunakan katalog produk atau dengan menggunakan produk yang sudah dibeli.Biasanya promosi dilakukan dengan menggunakan daftar produk atau gambar produk.
Biasanya mendapatkan media promosi atau yang sejenis, seperti sarana iklan gratis misalnya website.Biasanya media yang didapatkan adalah benner dan gambar produk yang diberikan secara gratis.
Pengiriman produk dapat dilakukan oleh reseller ataupun supplier.Pengiriman produk dilakukan oleh supplier.
Biasanya mempunyai akses website replika untuk dikelola, namun kontrol utama tetap berada di pihak supplier.Tidak diberikan akses website replika.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang reseller. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi kamu dan bisa menambah wawasan.

Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar