14 Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Fluktuasi atau naik turunnya harga saham merupakan sesuatu yang wajar. Faktor yang mempengaruhi harga saham yang utama adalah permintaan dan penawaran.

Dalam hal ini sangat penting bagi kamu untuk mengetahui faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham, terutama bagi kamu yang masih pemula dalam investasi saham.

Hal tersebut dikarenakan harga saham sangat fluktuatif, sehingga tidak menutup kemungkinan kamu dapat mengalami kerugian yang diakibatkan penurunan harga saham.

Dengan demikian, sebagai investor pemula kamu sangat direkomendasikan untuk memahami apa saja faktor yang mempengaruhi harga saham.

Perlu kamu ingat bahwa suatu investasi yang dilakukan asal – asalan atau hanya ikut – ikutan sangat lah berbahaya. Karena dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Dengan kamu memahami apa saja faktor yang mempengaruhi harga saham, maka dalam hal ini kamu bisa meminimalkan atau menghindari kemungkinan kerugian yang akan terjadi.

1. Tingkat Suku Bunga

Tingkat Suku Bunga Acuan

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang pertama adalah tingkat suku bunga.

Tingkat suku bunga adalah suatu harga atau sewa dari pemakaian uang untuk suatu jangka waktu tertentu yang sudah ditentukan pada saat ini untuk diberlakukan atas simpanan yang dilakukan di masa depan.

Tingkat suku bunga ini mempunyai 2 fungsi yaitu investasi dan juga tabungan.

Semakin tinggi tingkat suku bunga, maka akan semakin tinggi keinginan seseorang untuk menabung.

Di sisi lain, semakin tinggi tingkat suku bunga yang terjadi mampu mempengaruhi kecilnya keinginan untuk melakukan investasi.

Dalam hal ini perlu kamu ketahui bahwa kenaikan dari tingkat suku bunga pinjaman ini akan meningkatkan beban bunga kredit dan akan menurunkan laba bersih yang diperoleh perusahaan.

Dengan menurunnya laba bersih yang diperoleh perusahaan, tentu saja hal tersebut akan berakibat pada laba per saham juga menurun.

Dengan demikian, akan berakibat juga pada menurunnya harga saham yang ada di pasar.

Selain hal tersebut, kenaikan dari tingkat suku bunga deposito juga akan mendorong para investor untuk melakukan aksi jual saham dan selanjutnya beralih ke deposito.

Sehingga, kenaikan dari tingkat suku bunga deposito ini akan berakibat pada menurunnya harga saham, demikian juga sebaliknya.

 

2. Jumlah Dividen yang Diberikan (Dividen Payout Ratio)

Jumlah Dividen yang Diberikan (Dividen Payout Ratio)

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang pertama adalah jumlah dividen yang diberikan oleh perusahaan.

Jumlah dividen yang dibayarkan oleh perusahaan kepada para investor saham ini berkaitan dengan kebijakan dividen perusahaan.

Kebijakan dividen adalah keputusan perusahaan yang berhubungan dengan proporsi pemakaian laba untuk dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen atau laba ditahan untuk pembiayaan investasi masa depan.

Besaran dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham baik secara stabil maupun meningkat akan mampu meningkatkan kepercayaan para investor (pemegang saham).

Hal tersebut dikarenakan secara tidak langsung besaran dividen tersebut mampu memberikan informasi kepada para investor bahwa kinerja perusahaan dalam mendapatkan laba semakain meningkat.

Penentuan proporsi pemakaian laba yang dibagikan dalam bentuk dividen disebut dengan dividen payout ratio (DPR).

Dividen payout ratio adalah persentase dari laba yang dibayarkan oleh perusahaan kepada para pemegang sagam sebagai dividen.

DPR ini tentu saja akan mampu mempengaruhi harga saham yang ada di pasaran.

Yaitu apabila perusahaan menaikkan rasio pembagian dividennya kepada para investor, maka dividen akan naik.

Dampak yang timbul dari kenaikan dividen tersebut tentu saja akan meningkatkan minat para investor untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Dengan semakin meningkatnya minat para investor untuk membeli saham tersebut, maka harga saham tersebut juga akan naik, begitu juga sebaliknya.

 

3. Laba Per Lembar Saham (Earning Per Share / EPS)

Laba Per Lembar Saham (Earning Per Share atau EPS)

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang ke-3 adalah laba per lembar saham atau earning per share (EPS).

Earning per share (EPS) adalah laba dari setiap lembar saham yang menggambarkan laba bersing yang diperoleh dari setiap saham yang beredar.

Perlu kamu ketahui bahwa earning per share ini merupakan informasi yang paling mendasar bagi investor dalam kebutuhan pengambilan keputusan.

Informasi tentang laba per lembar saham ini mampu mengurangi ketidakpastian dan risiko yang mungkin akan terjadi.

Dengan demikian kebijakan atau keputusan yang diambil diharapkan bisa sesuai dengan apa yang sudah direncanakan atau yang menjadi tujuannya.

EPS (earning per share) ini bisa dijadikan sebagai indikator atau tolak ukur tingkat nilai suatu perusahaan.

Selain itu, earning per share juga dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengukur kesuksesan dalam mendapatkan keuntungan bagi para investor dalam perusahaan.

Seorang investor yang melakukan investasi saham suatu perusahaan, tentu saja mempunyai harapan akan menerima laba atas saham yang dimilikinya.

Dengan demikian semakin tinggi earning per share (EPS), maka akan semakain tinggi pula harga saham.

Hal tersebut karena EPS yang tinggi mampu mendorong para investor untuk melakukan investasi yang lebih besar lagi, sehingga harga saham yang ada di pasar pun akan naik.

 

4. Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio (PER)

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang selanjutnya adalah price earning ratio atau yang biasa disebut dengan PER.

Price earning ratio ini merupakan rasio laba terhadap harga per lembar saham.

PER ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham, karena informasi PER ini mengindikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan oleh investor untuk bisa mendapatkan satu rupiah earning perusahaan.

Perlu kamu ketahui bahwa apabila PER negatif, maka hal tersebut menggambarkan atau mengindikasikan perusahaan sedang mengalami kerugian atau labanya negatif.

Otomatis jika perusahaan sedang mengalami kerugian investor tidak akan membeli saham perusahaan tersebut.

Sehingga permintaan akan saham perusahaan tersebut akan menurun. Dengan turunnya permintaan akan saham tersebut, maka harga saham pun akan turun.

Disamping itu price earning ratio (PER) adalah sutau indikator atau ukuran harga relatif sebuah saham perusahaan.

Sebagai contoh, harga saham PT X sebesar Rp. 2.500/lembar dengan PER sebesar 6x.

Sedangkan harga saham PT Y sebesar Rp. 1.600/lembar dengan PER 12x.

Mana yang lebih murah?

Pasti sebagian besar dari kalian akan memilih saham PT Y. Akan tetapi jawaban tersebut kurang tepat.

Perlu kamu ketahui bahwa, saham suatu perusahaan dikatakan murah atau mahal dapat dilihat dari segi kinerja keuangannya yaitu dengan menggunakan PER.

Semakin kecil nilai dari price earning ratio saham suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain, maka saham perusahaan tersebut lebih murah harganya.

Dalam memilih saham direkomendasikan yang mempunyai PER diantara 1x sampai dengan 15x atau dibawah PER rata – rata perusahaan di BEI.

Dan dalam hal ini kamu perlu membandingkan PER antara perusahaan dengan sektor industri yang sejenis.

 

5. Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio (DER)

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang ke-5 adalah debt to equity ratio (DER). Rasio ini merupakan salah satu rasio solvabilitas.

Debt to equity ratio (DER) adalah rasio yang dipakai untuk mengukur tingkat leverage terhadap jumlah shareholders equity yang dimiliki oleh perusahaan.

Atau dengan kata lain rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pemakaian utang terhadap total modal yang dimiliki oleh perusahaan.

Dalam hal ini semakin besar nilai dari DER menggambarkan bahwa semakin besar pula ketergantungan dari pemodal perusahaan terhadap pihak luar (hutang).

Artinya semakin besar nilai DER memperlihatkan semakin besar pula hutang yang harus ditanggung oleh perusahaan.

Dengan semakin besar hutang yang ditanggung perusahaan, maka tentu saja akan mengurangi profitabilitas. Hal tersebut dikarenakan beban perusahaan semakin besar.

Hal tersebut tentu saja akan berdampak pada pengurangan hak para pemegang saham dalam bentuk dividen.

Tentunya hal tersebut akan berakibat pada minat para investor yang semakin menurun untuk memegang saham perusahaan tersebut.

Dengan semakin menurunnya minat investor untuk membeli saham perusahaan tersebut, maka harga saham perusahaan tersebut akan turun.

 

6. Market Value Added

Market Value Added

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang ke-6 adalah market value added atau yang biasa disebut dengan MVA.

Market value added ini bisa dibilang sebagai alat investasi yang efektif yang mampu mempresentasikan penilaian pasar atas kinerja dari perusahaan.

Dalam hal ini apabila pasar menghargai perusahaan melebihi dari nilai modal yang diinvestasikan, maka artinya pihak manajemen perusahaan mampu menciptakan nilai untuk para pemegang saham.

Dengan keberhasilan manajemen dalam menciptakan nilai bagi para pemegang saham, maka akan menciptakan sinyal positif bagi para investor untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Semakin besar nilai dari market value added (MVA) ini, maka akan semakain berhasil pula pekerjaan dari manajemen dalam mengelola perusahaan.

Nilai MVA yang besar tersebut tentu saja juga akan meningkatkan harga saham.

Hal tersebut dikarenakan para investor tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut atau dengan kata lain permintaan akan saham tersebut tinggi.

 

7. Return on Assets (RoA)

Return on Assets (RoA)

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang selanjutnya adalah return on assets atau yang biasa dikenal dengan RoA.

Return on assets (RoA) adalah rasio yang dipakai untuk mengukur atau menilai kemampuan perusahaan dalam memakai seluruh aktiva atau aset yang dimilikinya untuk memperoleh laba setelah pajak dan bunga.

Return on assets atau RoA ini termasuk ke dalam rasio profitabilitas.

Perlu kamu ketahui bahwa tinggi atau rendahnya nilai dari RoA ini akan mempengaruhi efisiensi perusahaan dalam mengelola semua aktiva atau aset yang dimilikinya.

Semakin tinggi nilai dari RoA ini, maka hal tersebut menggambarkan bahwa semakin efisien perusahaan dalam mengelola aset nya.

Dengan demikian, maka semakin tinggi pula keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan.

Dengan semakin tingginya keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka permintaan saham persusahaan tersebut akan meningkat.

Hal tersebut tentu saja akan menyebabkan harga saham perusahaan tersebut di pasar an akan naik, begitu pula sebaliknya.

 

8. Return on Equity (RoE)

Return on Equity (RoE)

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang selanjutnya adalah return on equity atau yang biasa disebut dengan RoE.

Sama halnya dengan RoA yang sudah dibahas sebelumnya, return on equity (RoE) ini termasuk juga ke dalam rasio profitabilitas.

Return on equity adalah suatu rasio yang mampu menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan setelah bunga dan pajak dengan menggunakan modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan.

Dengan kata lain RoE ini mampu menggambarkan kemampuan dari manajemen perusahaan dalam mengalokasikan modal yang dimiliki oleh perusahaan secara efektif dan efisien atau tidak.

Rasio ini mampu memperlihatkan seberapa banyak keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan dari setiap Rp 1 rupiah uang yang diinvestasikan oleh investor.

Dalam hal ini apabila nilai RoE ini tinggi, maka memperlihatkan perusahaan sudah mampu mengalokasikan modal yang dimiliki dengan efisien dan efektif.

Sehingga, perusahaan mampu memberikan keuntungan yang lebih bagi para investor berupa dividen.

Tentu saja hal tersebut akan meningkatkan minat para investor untuk membeli saham dari perusahaan tersebut.

Dengan meningkatnya minat beli dari investor, maka saham perusahaan tersebut akan mengalami kenaikan harga, begitupula sebaliknya.

 

9. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham, walaupun kebijakan tersebut masih dalam tahap rencana atau belum direalisasikan.

Pemerintah merupakan pemegang otoritas yang paling tinggi di Indonesia.

Dalam hal ini pemerintah mampu melakukan perubahan kebijakan maupun membuat kebijakan baru yang bisa saja menguntungkan atau merugikan bagi sektor usaha atau perusahaan yang melantai di bursa.

Dengan demikian, sangat penting bagi para investor untuk memperhatikan atau mengetahui beberapa kebijakan yang diambil pemerintah yang mampu mempengaruhi harga saham.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini merupakan contoh kebijakan pemerintah yang mampu mempengaruhi harga saham.

  • Kebijakan Cukai Rokok

Pada 2 November 2018 yang lalu Presiden Jokowi dengan para menterinya menggelar pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor.

Pertemuan yang terjadi tersebut membahas tentang beberapa isu, salah satunya adalah tentang cukai rokok.

Pada waktu itu, pemerintah menetapkan kebijakan bahwa cukai rokok tidak akan mengalami kenaikan di sepanjang tahun 2019.

Kebijakan yang diambil pemerintah tersebut tentu saja merupakan hal positif bagi perusahaan rokok.

Hal tersebut terbukti dengan kenaikan harga saham perusahaan dengan kode saham GGRM dan HMSP karena permintaan akan saham tersebut naik.

Selanjutnya, kurang dari 1 tahun pemerintah kembali mengadakan pertemuan yang membahas tentang cukai roko pada tahun 2020.

Yang dimana pada 13 September 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan pengumuman tentang kebijakan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok mulai pada 1 Januari 2020.

Pada saat itu walaupun pengumuman dari Sri Mulyani tersebut belum diberlakukan, namun sudah mempunyai dampak yang bisa dibilang signifikan pada perusahaan – perusahaan rokok.

Berikut ini merupakan pergerakan harga saham perusahaan rokok pada saat Sri Mulyani memberikan pengumuman tentang kenaikan cukai rokok.

Penurunan saham GGRM akibat cukai rokok

penurunan harga saham HMSP akibat cukai rokok

 

10. Aksi Korporasi Perusahaan

Aksi Korporasi Perusahaan

Aksi korporasi perusahaan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham.

Aksi korposari perusahaan adalah berbagai keputusan atau kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan yang berdampak pada berbagai hal yang sifatnya fundamentak dalam perusahaan.

Kamu dapat melihat aksi korporasi yang dilakukan oleh perusahaan melalui https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/aksi-korporasi/.

Berikut ini merupakan daftar aksi korporasi yang dilakukan oleh perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI).

  • Stock split
  • HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu)
  • Tanpa HMETD
  • ESOP (employee stock option program)/MSOP (management stock option program)
  • Saham bonus
  • IPO (initial public offering)
  • Partial delisting
  • Dividen saham
  • Gabung usaha
  • Reverse stock
  • Kurang modal
  • Konversi saham
  • Company listing
  • Buyback saham
  • Private placement

Selain beberapa hal tersebut berita – berita tentang perusahaan juga dapat mempengaruhi harga saham.

Misalnya seperti pengumuman bahwa perusahaan akan meluncurkan produk baru, perusahaan mendapatkan proyek besar, perubahan manajemen, skandal, dan lain sebagainya.

 

11. Kondisi Ekonomi

Kondisi Ekonomi

Fakor yang mempengarui harga saham yang ke-11 adalah keadaan atau kondisi ekonomi.

Keadaan atau kondisi ekonomi baik itu domestik maupun global, mikro maupun makro tidak hanya berdampak pada kegiatan usaha maupun bisnis saja, melainkan juga mempunyai dampak bagi pasar modal.

Sebetulnya dalam hal ini terdapat banyak sekali indikator kondisi ekonomi yang menyebabkan perubahan harga saham.

Berikut ini merupakan beberapa contoh indikator kondisi ekonomi yang mampu menyebabkan perubahan harga saham.

  • Inflasi

Inflasi merupakan kenaikan harga secara umum dan terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu.

Kenaikan dari harga tersebut dapat digambarkan pada IHK (indeks harga konsumen).

Apabila inflasi ini terjadi, maka bank sentral akan mengambil kebijakan akan menaikan tingkat suku bunga untuk memperlambat laju inflasi.

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin 1, bahwa kenaikan dari tingkat suku bunga ini akan berakibat pada penurunan harga saham yang ada di pasar an, begitu pula sebaliknya.

  • Deflasi

Deflasi ini merupakan kebalikan dari inflasi. Kenaikan IHK yang terlalu tinggi bukan merupakan sesuatu hal yang bagus, begitu juga dengan penurunan IHK yang terlalu dalam juga.

Dalam hal ini penurunan IHK yang terlalu dalam akan menyebabkan deflasi.

Deflasi yang terjadi ini menjadi gambaran bahwa terjadi kondisi dimana daya beli menurun.

Apabila daya beli menurun, maka akan terjadi penurunan juga terhadap daya jual. Hal tersebut berarti pendapatan perusahaan juga akan ikut menurun dengan penurunan daya jual.

Karena pendapatan dari perusahaan menurun, tentu saja menjadi sesuatu yang buruk untuk kinerja perusahaan di masa yang akan datang.

Dengan demikian, minat beli para investor terhadap saham perusahaan akan menjadi berkurang.

Dengan berkurangnya minat beli para investor tentu saja akan menyebabkan harga saham di pasar an akan menjadi turun.

 

12. Perubahan Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asing

Perubahan Kurs Rupiah terhadap Mata Uang Asing

Perubahan kurs rupiah terhadap mata uang asing ini sering kali menjadi faktor yang mempengaruhi harga saham.

Secara logika keterkaitan perubahan kurs rupiah terhadap mata uang asing dengan perubahan harga saham ini sangat lah masuk akal.

Konsekuensi dari perubahan kurs rupiah terhadap mata uang asing ini tentu saja bisa berdampak negatif maupun positif.

Misalnya bagi perusahaan importir atau perusahaan yang mempunyai beban utang dengan mata uang asing tentu saja akan dirugikan dengan melemahnya kurs rupiah.

Hal tersebut dikarenakan akan meningkatnya biaya operasional perusahaan. Dengan meningkatnya biaya operasional perusahaan tentu saja akan menurunkan laba yang diperoleh perusahaan.

Laba perusahaan menurun menyebabkan minat beli investor juga menurun. Dengan menurunnya minat beli investor, maka harga saham perusahaan tersebut juga akan turun.

 

14. Sentimen Pasar

Sentimen Pasar

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang selanjutnya adalah reaksi investor terhadap saham atau sentimen pasar.

Sentimen pasar ini terjadi karena sikap yang diambil oleh para investor yang merupakan akumulasi dari berbagai faktor fundamental dan teknis.

Sentimen pasar ini mampu mempengaruhi harga saham dikarenakan dilakukan secara berjamaah.

Misalnya, ada 4 investor yang membeli saham A sedangkan ada 2 investor yang menjual saham A, maka harga saham tersebut akan cenderung naik.

Hal tersebut dikarenakan investor yang membeli saham A lebih banyak daripada investor yang menjual saham A.

Hal tersebut juga berlaku sebaliknya, jika lebih banyak investor yang menjual saham A daripada yang membeli saham A, maka harga saham A akan turun.

Sentimen pasar ini dapat disimpulkan dalam 2 istilah yaitu:

Bullish, merupakan keadaan dimana pasar sedang sangat bergairah yang ditandai dengan naiknya harga saham dan munculnya kepercayaan dari para investor.

Kepercayaan dari investor tersebut dapat terlihat dengan banyaknya investor yang membeli saham suatu perusahaan.

Bearish, merupakan keadaan dimana pasar sedang lesu atau tidak bergairah yang ditandai dengan turunnya harga saham dan munculnya keraguan para investor.

Keraguan dari para investor tersebut terlihat dari aksi jual saham yang dilakukan oleh para investor.

 

14. Manipulasi Pasar dan Kepanikan

Manipulasi Pasar dan Kepanikan

Faktor yang mempengaruhi harga saham yang ke-14 adalah manipulasi pasar.

Perlu kamu ketahui bahwa manipulasi pasar ini dapat dilakukan oleh para investor yang sudah berpengalaman dan mempunyai modal yang besar.

Mereka memanfaatkan media massa untuk menyebarkan berbagai rumor atau isu yang bertujuan untuk memanipulasi kondisi pasar tertentu yang mereka inginkan, baik meningkatkan atau menurunkan harga saham.

Dalam hal ini pasar saham sangat rentan dengan berbagai informasi yang manipulatif maupun rumor.

Hanya sebuah isu atau rumor yang entah darimana sumbernya mampu mempengaruhi pergerakan harga saham.

Hal tersebut dikarenakan keputusan dari para investor sangat mudah untuk dipengaruhi terutama bagi para investor pemula yang biasanya kurang jeli dalam menyaring informasi yang ada.

Selain hal tersebut, pemberitaan yang ada juga dapat mempengaruhi psikologi para investor yaitu rasa panik.

Misalnya, pada tahun 2006 yang lalu, ketika muncul pemberitaan di media massa mengenai meledaknya salah satu pipa milik PT Pertamina yang mengakibatkan tergangunya pasokan gas ke Perusahaan Gas Negara (PGN).

Munculnya pemberitaan tersebut terbukti mampu mempengaruhi harga saham PGN yang berkode PGAS.

Hal tersebut dikarenakan banyak investor yang melakukan aksi jual saham PGAS.

Setelah dilakukan analisa menganai meledaknya pipa PGN tersebut, ternyata kejadian tersebut tidak mempunyai dampak signifikan terhadap kegiatan bisnis PGN.

Dan pada akhirnya, sehari setelahnya saham PGN mengalami kenaikan kembali.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang faktor – faktor yang mempengaruhi harga saham. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar