Investasi (Investment)

Pengertian investasi (investment) adalah suatu kegiatan menempatkan sejumlah dana pada saat sekarang dengan suatu harapan untuk dapat memperoleh keuntungan di masa depan.

Seorang yang melakukan investasi disebut dengan investor. Pemahaman investasi secara mendalam dan detail bagi banyak pihak menjadi suatu yang sangat penting dewasa ini.

Setiap orang yang bekerja atau mempunyai sejumlah finansial menginginkan untuk mempunyai pengetahuan tinggi dalam menetapkan kepemilikan dana tersebut pada berbagai tempat yang memiliki nilai profitable.

Profitable artinya mempunyai prospek masa depan yang cerah dan juga menguntungkan. Para pakar investasi mengatakan bahwa era sekarang ini sebagai era investasi tanpa batas ruang dan waktu.

Masa sekarang adalah masa dimana orang dapat melakukan koneksi hubungan kapan dan dimanapun. Nah untuk dapat mengetahui lebih dalam tentang investasi, simaklah artikel ini. Berikut merupakan penjelasannya.

Pengertian Investasi Menurut Para Ahli

Untuk lebih memahami secara mendalam tentang pengertian dari investment, berikut ini merupakan beberapa pendapat yang disampaikan oleh para ahli.

Relly dan Brown

Investasi adalah komitmen dolar saat ini untuk periode waktu tertentu untuk mendorong pembayaran di masa depan yang akan memberi kompensasi kepada investor untuk:

  1. Waktu dana tersebut berkomitmen.
  2. Tingkat inflasi yang diharapkan.
  3. Ketidakpastian pembayaran di masa depan.

Smith dan Skousen

“Investasi adalah transaksi dan acara pembelian dan penjualan sekuritas (tidak termasuk setara kas), dan bangunan, peralatan.

Dan aset lain yang umumnya tidak dimiliki untuk dijual, dan pembuatan, dan pengumpulan pinjaman. Hal tersebut tidak diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, karena hanya berhubungan secara tidak langsung dengan operasi entitas yang tengah dan berkelanjutan.”

Salim HS dan Budi Sutrisno

“Investasi adalah suatu kegiatan penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik investor local atau luar negeri dalam berbagai jenis bidang usaha.”

Fitz Gerald

“Investasi adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan usaha penarikan sebagai sumber dana yang dipakai untuk pengadaan modal barang pada saat sekarang. Barang modal tersebut selanjutnya diharapkan akan menghasilkan aliran produk baru di masa depan.”

James C Van Horne

“Investasi adalah kegiatan memanfaatkan kas pada masa sekarang ini, dengan suatu tujuan untuk memperoleh hasil di masa depan.”

Sunariyah (2004:4)

“Investasi adalah penanaman modal untuk 1 ataupun laba aktiva dimiliki yang biasanya mempunyai jangka waktu lama dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang.”

Sadono Sukirno

“Investasi adalah kegiatan pengeluaran modal untuk memberi berbagai barang modal dan perlengkapan produksi dengan tujuan menambah kemampuan memproduksi barang dan/atau jasa yang ada.”

Supriono (1987:424)

“Investasi adalah penanaman modal atau pemilikan berbagai sumber dalam jangka panjang yang akan bermanfaat pada beberapa periode akuntansi yang akan datang.”

Halim (2003:2)

“Investasi adalah penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang.”

Jugiyanto (2010:5)

“Investasi adalah penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu.”

Tandelilin (2010:2)

“Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat sekarang, dengan tujuan mendapatkan sejumlah keuntungan di masa yang akan datang.”

 

Tujuan Investasi

Supaya bisa mencapai suatu efisiensi dan efektivitas dalam suatu keputusan, maka dibutuhkan ketegasan akan tujuan yang akan dicapai. Begitu juga dalam bidang investasi kita harus menentukan tujuan yang akan diraih, yaitu sebagai berikut.

  1. Mempunyai andil dalam pembangunan bangsa.
  2. Terciptanya suatu kemakmuran bagi para pemegang saham.
  3. Terciptanya keuntungan maksimal yang diharapkan.
  4. Terciptanya suatu keberlanjutan atau continuity dalam investasi tersebut.

 

Bentuk – Bentuk Investasi

Dalam kegiatannya, investasi pada umumnya dapat dikelompokan atau dikenal menjadi 2 bentuk yaitu sebagai berikut.

1. Real Investment

Real investment atau investasi nyata pada umumnya melibatkan asset berwujud, misalnya seperti gedung, mesin, tanah, dan lain sebagainya.

2. Financial Investment

Financial investment atau investasi keuangan ini melibatkan kontrak secara tertulis, misalnya seperti obligasi/bond dan saham/stock.

Ke-2 bentuk investasi tersebut menurut William F.Sharpe bahwa pada perekonomian primitive hampir seluruh investasi lebih ke real investment. Sedangkan pada perekonomian modern, lebih banyak dilakukan financial investment.

Dimana setiap lembaga yang sedang berkembang dengan pesat akan memberi fasilitas untuk berinvestasi nyata. Jadi ke-2 bentuk investasi tersebut mempunyai sifat komplementer, bukan kompetitif.

Oleh karena itu, kita dapat melihat suatu ukuran ekonomi suatu negara maju yaitu dengan keberadaan dan juga kualitas dari bursa efeknya yang diakui oleh para pebisnis.

 

Jenis – Jenis Investasi

Ketika seorang pebisnis atau bagi mereka yang mempunyai dana lebih ingin berinvestasi, maka dia bisa memilih dan juga memutuskan tipe aktiva keuangan seperti apa yang dipilihnya. Dalam hal tersebut terdapat 2 jenis investasi yang bisa dipilihnya, yaitu sebagai berikut:

1. Investasi Langsung (Direct Investment)

Direct investment adalah investasi yang dilakukan secara langsung, yaitu dengan membeli secara langsung suatu aktiva keuangan dari suatu perusahaan yang bisa dilakukan baik melalui perantara atau berbagai macam cara lainnya. Direct investment ini bisa dikelompokan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:

Investasi langsung yang tidak dapat diperjualbelikan dilakukan di lembaga keuangan seperti bank.

  • Tabungan
  • Deposito

Investasi langsung yang dapat diperjualbelikan bisa dilakukan di pasar uang dan pasar modal.

  • Surat berharga pendapatan tetap, misalnya seperti T-bond, federal agency securities, municipal bond, corporate bond, convertible bond.
  • Saham – saham
  • T – bill

Investasi langsung di pasar turunan

  • Opsi (waran, opsi put, opsi cal)
  • Future contract

2. Investasi Tidak Langsung (Indirect Investment)

Indirect investment adalah investasi yang dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan tidak terlibat secara langsung atau pembelian aktiva keuangan hanya cukup memegang dalam bentuk saham atau obligasi saja.

Mereka yang menerapkan kebijakan indirect investment pada umumnya cenderung tidak terlibat dalam pengambilan suatu keputusan penting dalam suatu perusahaan. Contohnya ketika membeli saham dan juga obligasi yang dijual di pasar modal dengan melalui perusahaan investasi atau perantara (agent).

Perusahaan investasi adalah perusahaan yang memberikan layanan jasa keuangan dengan cara menjual sahamnya ke public dan menggunakan dana yang didapatkannya untuk diinvestasikan ke dalam portofolio-nya.

investasi

 

Manfaat Investasi

1. Meningkatkan Asset

Salah satu contohnya adalah pada saat seseorang membeli sebidang tanah atau property pada saat sekarang sebagai investasi. Selanjutnya di masa yang akan datang tanah tersebut mempunyai nilai berkali-kali lipat dari harga ketika membelinya.

2. Memenuhi Kebutuhan di Masa Depan

Berinvestasi sekarang ini tujuannya adalah untuk dipakai sebagai pendukung kebutuhan hidup di masa yang akan datang. Misalnya seperti berinvestasi dalam bentuk emas, yang dimana tujuannya yaitu untuk dijual di masa yang akan datang sebagai dana pendidikan anak.

3. Menerapkan Gaya Hidup Hemat

Dengan melakukan investasi, maka seseorang akan berusaha untuk mengalokasikan uangnya untuk berbagai hal penting saja. Pada akhirnya hal tersebut akan membuat seseorang menjadi lebih menghemat.

4. Terhindar dari Hutang

Masih berkaitan dengan manfaat yang ke-2, dengan gaya hidup hemat dan juga sederhana, maka tentunya seseorang akan terhindar dari masalah hutang. Mereka yang sudah berkomitmen untuk investasi secara rutin akan terhindar dari masalah hutang. Dan pada akhirnya akan membuat kondisi keuangan menjadi lebih baik.

 

Jenis – Jenis Investor

Seperti yang sudah dijelaskan pada awal artikel, investor adalah seorang yang melakukan investment. Nah, investor ini dikategorikan ke dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.

1. Berdasarkan Kemampuan dalam Menerima Informasi

  • Sophisticated Investor

adalah investor yang pandai atau sudah canggih dalam menerima, menganalisis, dan menginterprestasikan data atau informasi yang diterima.

  • Naïve Investor

adalah investor yang kurang pandai atau kurang mampu dalam menerima, menganalisis, dan menginterprestasikan data atau informasi yang didapatkannya.

2. Berdasarkan Resiko yang Diterima

  • Risk Seeker

Adalah investor yang senang dengan resiko. Artinya apabila investor tersebut dihadapkan dengan 2 pilihan investment yang memberikan tingkat profit yang sama dengan risiko yang berbeda, maka investor tersebut akan memilih investment dengan risiko yang lebih besar.

Investor yang masuk dalam jenis ini adalah investor yang berani untuk menanggung risiko, dan sangat optimis dalam melihat masa depan.

Para investor ini biasanya terdiri dari kalangan muda yang penuh dengan berbagai perhitungan.

  • Risk Averter

Adalah investor yang tidak menyukai risiko atau lebih menghindari terjadinya risiko. Investor jenis ini lebih memilih untuk berinvestasi dengan risiko yang lebih kecil dengan tingkat keuntungan yang sama.

Investor yang termasuk dalam jenis ini biasanya berinvestasi dalam aset yang memberikan pendapatan tetap, misalnya seperti deposito, obligasi, dan saham yang termasuk blue chips.

Investor jenis ini tidak mengharapkan tingkat keuntungan yang maksimal. Pada umumnya kalangan yang termasuk dalam jenis ini adalah mayoritas kalangan pensiunan dengan keinginan memperoleh keuntungan meskipun sedikit tapi pasti.

  • Risk Netrality

Adalah investor yang mempunyai sikap netral terhadap risiko. Hal tersebut berarti investor tersebut akan menerima atau meminta kenaikan tingkat keuntungan yang sama pada setiap terjadi kenaikan risiko.

Investor yang termasuk dalam jenis ini biasanya hanya ikut – ikutan dalam melakukan pembelian atau penjualan untuk investasi sesuai dengan trend yang ada di pasar.

 

Keputusan Investasi

Pengertian keputusan investasi adalah keputusan yang berkaitan dengan pengalokasian dana yang berasal dari dalam atau luar diri investor dengan berbagai pilihan investment di masa depan dengan jangka waktu pengembalian lebih dari 1 tahun.

Dapat dikatakan pula jika keputusan investasi merupakan suatu keputusan dalam pengalokasian atau meletakkan sejumlah dana pada jenis investment tertentu. Hal tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.

Keputusan tersebut harus dipertimbangkan secara matang dan juga baik, hal tersebut dikarenakan mempunyai konsekuensi berjangka. Keputusan ini berhubungan dengan proses pemilihan satu atau lebih alternative investasi yang dinilai menguntungkan dari beberapa pilihan yang ada.

Metode Penilaian Investasi

Terdapat metode yang dapat digunakan untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau memilih berbagai pilihan investasi. Berikut merupakan pembahasan dari beberapa metode tersebut.

1. Periode Pengembalian (Payback Period)

Periode pengembalian adalah jangka waktu yang diperlukan untuk bisa mengembalikan nilai dari investment dengan melalui berbagai penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investment tersebut.

Apabila pajak penghasilan belum dihitung dalam penentuan periode pengembalian, dalam investment untuk melakukan ekspansi usaha, maka periode pengembalian bisa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Periode pengembalian payback period

Sedangkan apabila dampak dari pajak penghasilan dihitung, maka penentuan dari periode pengembalian dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

tarif Periode pengembalian payback period

Kelebihan Payback Period

  • Investment yang mempunyai resiko yang besar, dengan menggunakan metode ini bisa diketahui jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian investasi.
  • Dengan menggunakan metode ini juga bisa dipakai untuk menilai proyek investment yang memiliki rate of return dan risiko yang sama. Oleh karena itu bisa dipilih investment yang memiliki jangka waktu pengembalian tercepat.
  • Dapat digunakan untuk memilih berbagai pilihan atau usulan investment sebelum berlanjut ke penilaian dengan mempertimbangkan kemampuan investment untuk menghasilkan profit.

Kekurangan Payback Period

  • Tidak memperhitungkan nilai waktu suatu uang.
  • Tidak menunjukan pendapatan selanjutnya setelah dana investment pokok kembali.
  • Tidak mengukur tingkat profitabilitas.

2. Average Rate of Return

Average rate of return (rata – rata kembalian investasi) atau bisa juga disebut dengan accounting method / financial statement method. Metode ini memakai data keuntungan bersih setelah pajak atas investment awal atau rata – rata investasi awal.

Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung ARR.

rata rata kembalian investasi (ARR)

Kelebihan Average Rate of Return

  • Sederhana dan mudah dimengerti, karena memakai data akuntansi yang telah tersedia sehingga tidak membutuhkan perhitungan tambahan.
  • Sudah memperhitungkan arus kas selama umur proyek investment.

Kelemahan Average Rate of Return

  • Tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang.
  • Dipengaruhi oleh pemakaian metode penyusutan.
  • Tidak bisa diaplikasikan apabila investment dilakukan dalam beberapa tahap.

3. Internal Rate of Return (IRR)

Internal rate of return atau tingkat pengembalian internal merupakan pengembalian yang berasal dari suatu pilihan atau usulan proyek tertentu.

IRR adalah suatu tingkat diskonto yang menyebabkan nilai bersih arus kas masuk sekarang sama dengan nilai bersih arus kas keluar sekarang sama dengan nol.

Metode ini mempunyai asumsi bahwa arus kas masuk diinvestasikan kembali pada tingkat pengembalian internal yang besarannya sama.

Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung internal rate of return.

IRR Internal rate of return

Keterangan:

r = tingkat bunga yang akan menjadi jumlah nilai pada saat ini dari hasil yang diharapkan akan diterima sama dengan jumlah nilai pada saat ini dari pengeluaran modal.

At = Arus kas untuk periode t.

n = Periode terakhir dari arus kas yang diharapkan.

Jika arus kas awal terjadi pada waktu 0, maka rumus atau persamaan yang bisa dibuat adalah sebagai berikut.

IRR

Kelebihan Internal Rate of Return

  • Memperhitungkan nilai waktu dari uang.
  • Mengedepankan aliran kas awal daripada aliran kas akhir.

Kekurangan Internal Rate of Return

  • Cukup susah dan menyita waktu dalam proses perhitungannya, khususnya yang terjadi ketika arus kas tidak sama besar.
  • Tidak mempertimbangkan dana investment yang berbeda – beda untuk berbagai proyek yang sedang diperbandingkan, serta profitabilitas nominal dari setiap proyek.
  • Jika terjadi kondisi dimana terdapat beberapa aliran arus kas yang negative, maka proyek bisa jadi akan menghasilkan lebih dari 1 angka IRR.

4. Net Present Value (NPV)

Net present value atau nilai sekarang bersih adalah metode yang dipakai untuk menentukan nilai pada saat ini dari suatu investment dengan jumlah diskon dari seluruh arus kas yang diterima dari proyek.

NPV memperlihatkan besarnya nilai produktif suatu investment. Yaitu apakah nilai produktif tersebut lebih besar, sama dengan, atau lebih kecil dibandingkan dengan biaya investasinya.

NPV yang positif menggambarkan bahwa investment tersebut menghasilkan tingkat pendapatan yang melebihi tingkat yang diminta. Oleh karena itu investment tersebut harus diterima.

Jika NPV bernilai negative menggambarkan bahwa investment tersebut menghasilkan pendapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat yang diminta. Oleh karena itu investment tersebut harus ditolak.

Dan apabila NPV sama dengan nol, maka hal tersebut berarti investment menghasilkan pendapatan yang sama dengan tingkat yang diminta, atau dengan kata lain tidak untung dan tidak rugi.

Berikut merupakan rumus yang bisa digunakan untuk menghitung NPV.

NPV Net present value

Kelebihan Net Present Value

  • Memperhitungkan nilai waktu uang.
  • Seluruh arus kas selama umur proyek diperhitungkan dalam pengambilan keputusan investment.

Kekurangan Net Present Value

  • Memerlukan perhitungan yang teliti dalam menetapkan tarif kembalian dari investment.
  • Pada saat membandingkan 2 proyek investment yang jumlah investasinya tidak sama, nilai tunai dari arus kas bersih dalam rupiah tidak bisa digunakan sebagai acuan.

5. Profitability Index

Profitability index adalah metode yang menghitung perbandingan nilai pada saat ini dengan cara membandingkan berbagai penerimaan kas bersih di masa depan dengan nilai sekarang investment.

Berikut merupakan rumus yang dapat digunakan untuk menghitung profitabilitas index.

Rumus PI Profitability index

Suatu usulan proyek akan diterima apabila nilai dari profitabilitas index yang dihasilkan lebih besar dari 1.

Sebaliknya jika nilai dari profitabilitas index lebih kecil dari 1, maka usulan proyek tersebut akan ditolak.

Apabila usulan proyek investasi lebih dari 1, maka yang akan dipilih adalah usulan proyek yang bisa menghasilkan nilai profitabilitas index paling besar.

Kelebihan Profitabilitas Index

  • Memperhitungkan nilai waktu dari uang.
  • Memperhitungkan terlebih dahulu tingkat bunga yang akan dipakai.

Kekurangan Profitability Index

  • Memberikan suatu keputusan yang sama dengan net present value jika dipakai untuk menilai usulan investment yang sama. Namun jika dipakai untuk memilih proyek yang mutually exclusive, maka bisa kontradiktif dengan net present value.

 

Proses Investasi

Setiap mengaplikasikan keputusan investasi, tentunya selalu membutuhkan proses. Dimana proses tersebut akan memberikan suatu gambaran pada setiap tahap yang akan ditempuh oleh para investor. Pada umumnya proses manajemen investasi ini ada 5 langkah, yaitu sebagai berikut:

1. Menetapkan Sasaran Investasi

Penetapan sasaran berarti menentukan suatu keputusan yang bersifat focus atau menempatkan target sasaran terhadap apa yang akan diinvestasikan. Penetapan sasaran investasi ini sangat disesuaikan dengan apa yang akan ditujukan pada investasi tersebut. Misalnya sasaran investasi dalam bentuk penyaluran kredit.

2. Membuat Kebijakan Investasi

Pada proses yang ke-2 ini berkaitan dengan bagaimana seseorang/perusahaan mengelola dana yang berasal dari saham, obligasi dan lain sebagainya. Yang kemudian didistribusikan ke berbagai tempat yang diperlukan.

Perhitungan pendistribusian dana tersebut haruslah dilakukan dengan menggunakan prinsip kehati – hatian. Karena berbagai macam hal bisa terjadi ketika dana tersebut tidak mampu untuk ditarik kembali. Perlu diperhatikan juga tentang beban pajak yang akan ditanggung nantinya.

3. Memilih Strategi Portofolio

Proses ini berkaitan dengan keputusan yang akan diambil oleh perusahaan, yaitu apakah bersifat aktif atau pasif. Ketika suatu perusahaan melakukan investasi aktif, maka seluruh kondisi perusahaan akan dengan cepat tergambarkan di pasar modal.

Investasi aktif akan selalu mencari informasi yang tersedia dan selanjutnya mencari kombinasi portofolio yang paling sesuai untuk diaplikasikan.

Sedangkan secara pasif hanya bisa dilihat pada indeks rata-rata saja, atau dengan kata lain berdasarkan pada reaksi pasar saja tanpa adanya sikap atraktif.

4. Memilih Asset

Pada proses ini perusahaan akan berusaha untuk memilih asset investasi yang akan memberikan return paling tinggi. Return disini dilihat sebagai keuntungan yang akan didapatkan nantinya.

5. Mengukur dan Mengevaluasi Kinerja

Tahap ini adalah tahap revaluasi bagi suatu perusahaan untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan selama ini dan apakah tindakan yang telah diambil ini sudah maksimal atau belum.

Apabila belum maka sebaiknya segera untuk melakukan suatu perbaikan supaya kerugian tidak akan terjadi nantinya.

Bagaimanapun suatu perusahaan menginginkan memperoleh keuntungan yang bersifat sustainability dan bukan hanya keuntungan sesaat saja.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tantang investasi. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kamu. Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan tuliskan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar