Jenis Jenis Bisnis Ritel

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas secara lengkap tentang pengertian, kelebihan, dan juga kekurangan dari bisnis ritel. Pada kesempatan kali ini akan dibahas secara lengkap tentang jenis jenis bisnis ritel.

Sebagian besar di antara kita mungkin saja hanya mengetahui 2 jenis bisnis ritel saja yaitu bisnis ritel modern dan juga tradisional.

Padahal jenis bisnis ritel itu bukan hanya ada 2 saja, tetapi ada beberapa macam jika dilihat dari aspek yang berbeda.

Oke, langsung saja akan dibahas secara lengkap tentang beberapa jenis usaha eceran. Yuk simak artikel ini!

Berdasarkan Skala Usaha

berdasarkan skala usaha

Jika dilihat dari skala usahanya, bisnis ritel dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu ritel besar dan ritel kecil.

1. Ritel Besar

Perdagangan ritel yang dilakukan dengan skala besar (ritel modern) ini menyediakan satu jenis barang atau berbagai macam barang dagangan kepada sejumlah besar pelanggan dalam satu toko besar.

Dalam pelaksanaannya, peritel dengan skala besar ini menyediakan berbagai pelayanan yang membuat para pelanggannya merasa nyaman.

Baik itu dari segi tempat yang nyaman, interior dan eksterior yang bagus, atau keramahan dari pelayanan yang diberikan oleh wiraniaganya.

Produk yang biasanya ditawarkan oleh peritel dengan skala besar misalnya seperti pakaian, alat elektronik, dan juga berbagai macam produk impor.

Contoh ritel dengan skala besar misalnya seperti specialty store, department store, supermarket, discount house, hypermarket, general store, dan juga chain store

2. Ritel Kecil

Peritel yang mempunyai skala kecil sering juga disebut dengan ritel tradisional. Dalam jenis bisnis ritel ini barang yang dijual tidak sebanyak dan tidak beragam seperti yang ada di peritel besar.

Usaha eceran berskala kecil ini dibagi menjadi 2 macam, usaha eceran berpangkalan dan tidak berpangkalan.

a. Bisnis Ritel Berpangkalan

Jenis bisnis ritel berpangkalan ini mempunyai ciri utama yaitu mempunyai lokasi usaha yang tetap, misalnya seperti warung atau kios.

Biasanya lokasi usaha dari bisnis ritel seperti warung atau kios menjadi satu bagian dengan tempat tinggal pemiliknya, sehingga pelanggan akan bisa dengan mudah menemukannya.

b. Bisnis Ritel Tidak Berpangkalan

Sedangkan untuk usaha ritel yang tidak berpangkalan mempunyai ciri utama lokasi usaha yang berpindah-pindah atau tidak mempunyai lokasi yang tetap atau permanen, misalnya pedagang kaki lima.

Biasanya usaha ritel tanpa pangkalan ini menggunakan suatu alat untuk dapat berpindah dengan mudah, seperti gerobak, sepeda, atau alat pikul.

Kegiatan ini memang pada dasarnya tidak terorganisir dengan baik, tidak mempunyai surat izin usaha, dan biasanya akan bergerombol di trotoar jalan raya.

Berdasarkan Teknik Memasarkan Produk

berdasarkan teknik memasarkan produk

Jika dilihat berdasarkan pada teknik dalam memasarkan produknya, jenis usaha ritel dapat dibedakan menjadi 2, yaitu in store retailing dan non store retailing.

1. In Store Retailing

Sesuai dengan namanya kegiatan usaha atau transaksi (penjualan dan pembelian) ritel jenis ini di lakukan di dalam suatu tempat tertentu, seperti toko atau warung.

Terdapat beberapa macam jenis bisnis ritel yang termasuk ke dalam in store retailing, yaitu sebagai berikut:

a. Specialty Store

Specialty store (toko khusus) adalah toko atau bisnis yang menjual lini produk sempit dengan satu ragam barang yang ada di dalam lini tersebut.

Pada umumnya toko jenis ini mempunyai beberapa ciri seperti tidak terlalu besar, milik pribadi, dan bentuk hukumnya firma, perseorangan, atau CV.

Toko khusus ini dapat dikategorikan lagi berdasarkan pada tingkat kekhususan lini produk yang dijualnya.

Toko pakaian adalah contoh toko dengan lini tunggal, toko pakaian pria adalah contoh toko yang sangat khusus.

Bisa dibilang specialty store ini cukup bervariasi dapat dibedakan berdasarkan tipe, pilihan, mutu produk, harga, dan juga ukuran.

b. Department Store

Department store (toko serba ada) adalah toko eceran yang menawarkan berbagai jenis lini produk dengan mutu pilihan.

Biasanya toko eceran jenis ini mempunyai volume usaha yang sangat besar, kondisi keuangan yang lebih kokoh, dan mempunyai badan hukum berbentuk perseroan terbatas (PT).

Jika tidak berbentuk PT paling tidak berbentuk CV. Terdapat 2 macam department store retailing, yaitu sebagai berikut.

Line department store, adalah department store yang menawarkan sejumlah besar jenis barang dagangan.

Limited line department store, adalah jenis department store yang menawarkan beberapa macam barang, pada umumnya merupakan barang-barang lunak seperti pakaian, handuk, seprei dengan orientasi model dan harga yang mahal.

c. Convenience Store

Convenience store (toko kebutuhan sehari-hari) adalah jenis bisnis ritel yang bisa dibilang relatif kecil dan terletak di daerah pemukiman atau di jalur high traffic dan memiliki jam buka 24 jam dalam waktu 1 minggu.

Selain itu, toko eceran ini juga mempunyai tingkat perputaran yang tinggi dan menjual lini produk convenience yang terbatas, misalnya seperti minuman, makanan ringan, permen, dan lain sebagainya.

d. Supermarket

Supermarket (pasar swalayan) adalah toko eceran dengan tingkat operasi yang relatif besar, berbiaya rendah, margin rendah, dan volume tinggi.

Supermarket ini dirancang untuk melayani seluruh kebutuhan para konsumennya, misalnya seperti berbagai macam produk bahan makanan, daging, ikan segar, sayur, buah, minuman kalen, dan produk perawatan rumah tangga.

Pada saat ini sudah banyak sekali supermarket yang melengkapi tawarannya dengan berbagai macam produk non food, misalnya seperti detergen, sendok, sampo, dan lain sebagainya.

e. Discount Store

Discount store (toko diskon) adalah toko eceran yang menjual dengan cara reguler barang-barang standar dengan harga yang lebih murah.

Hal tersebut dikarenakan toko ini menjual dengan margin yang lebih rendah, tetapi dengan volume penjualan yang tinggi.

Pada umumnya toko ini menjual berbagai macam produk dari merek nasional dan bukan merupakan produk dengan mutu yang rendah.

Pada saat ini pengecer diskon sudah bergerak dari barang dagangan yang sifatnya umum ke khusus, seperti toko diskon alat olahraga, toko elektronik, dan juga toko buku.

f. Off Price Retailers

Off price retailers (pengecer potongan harga) adalah pengecer yang membeli pada harga yang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga grosir dan menetapkan harga konsumen yang lebih rendah daripada harga eceran.

Pelaku usaha ritel ini cenderung akan menjual persediaan barang dagangan yang berubah-ubah dan juga tidak stabil.

Hal tersebut dikarenakan pengecer ini sering kali menjual barang sisa, tidak laku, dan cacat yang diperoleh dengan harga yang lebih rendah dari produsen atau pengecer lainnya.

Off price retailers dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:

  • Factory Outlet

Factory outlet (toko pabrik) adalah toko yang dimiliki dan juga dijalankan oleh produsen dan biasanya menjual berbagai barang dagangan yang berlebih, tidak diproduksi lagi, dan tidak reguler.

  • Independent Off Price Retailer

Independent off price retailer atau yang biasa disebut sebagai pengecer potongan harga independen adalah jenis bisnis ritel yang dimiliki dan dioperasikan oleh pengusaha atau divisi dari perusahaan pengecer besar.

  • Klub Gudang / Klub Grosir

Klub gudang atau biasa disebut klub grosir adalah toko yang menjual pilihan terbatas dari produk makanan bermerek, perlengkapan rumah tangga, pakaian, dan juga berbagai produk lain dengan diskon besar bagi anggota yang membayar iuran tambahan.

g. Superstore

Superstore atau toko super adalah kombinasi dari supermarket dan juga discount store, yang merupakan toko yang menyediakan sejumlah besar barang (full line product) dengan harga murah.

Biasanya jenis bisnis ritel ini menawarkan pelayanan, misalnya seperti cucian, membersihkan, perbaikan sepatu, penguangan cek, dan juga pembayaran tagihan.

Jenis dar superstore ini ada beberapa, yaitu sebagai berikut:

  • Combination Store

Combination Store (toko kombinasi) adalah diversifikasi usaha pasar swalayan ke dalam bidang yang berkaitan dengan obat-obatan.

  • Hypermarket

Hypermarket adalah toko ritel yang tidak hanya menjual berbagai barang yang rutin dibeli tetapi juga meliputi mebel, perkakas besar dan kecil, pakaian, dan masih banyak jenis barang lainnya.

  • Catalog Show Room

Catalog show room (ruang pamer katalog) adalah toko yang menjual cukup banyak pilihan produk denga margin yang tinggi, perputaran yang cepat, dan bermerek dengan harga diskon.

Produk-produk yang ditawarkan di dalam toko ini misalnya seperti perhiasan, berbagai alat pertukaran, perkakas kecil, mainan, dan berbagai macam alat olahraga.

2. Non Store Retailing

Sesuai dengan namanya non store retailing adalah jenis bisnis ritel yang menjual barang atau jasa kepada para konsumennya dengan melalui saluran selain toko, misalnya seperti surat, telepon, atau internet.

Non store retailing ini dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Penjualan Langsung

Penjualan langsung ini terdiri dari hubungan yang dilakukan secara langsung dengan para konsumen individual yang sudah ditargetkan secara seksama untuk meraih respons secara cepat dan membangun hubungan pelanggan yang langgeng.

Berdasarkan yang dijelaskan oleh Sopiah dan Syihabuddin (2008) penjualan langsung ini dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:

  • One to One Selling

One to one selling (penjualan satu-satu) adalah bentuk penjualan di mana wiraniaga akan mengunjungi dan juga akan mencoba untuk menjual produk ke satu pembeli yang potensial.

  • One to Many (Party) Selling

One to many / party selling adalah bentuk penjualan di mana wiraniaga datang ke rumah seseorang yang mengundang teman dan tetangganya ke satu acara demo promosi.

Selanjutnya wiraniaga akan melakukan demonstrasi produk yang ditawarkannya kepada para calon konsumennya.

Apabila calon konsumen tertarik dengan produk yang sudah didemonstrasikan, maka wiraniaga akan siap menerima pesanan.

  • Multi Level Marketing

Multi level marketing (MLM) adalah bentuk penjualan di mana perusahaan merekrut para usahawan independen yang akan bertindak sebagai distributor produk.

Kemudian para distributor ini akan merekrut orang lain untuk melakukan penjualan produk yang mereka tawarkan, bisanya ke rumah pelanggan.

b. Penjualan Tidak Langsung

Penjualan tidak langsung adalah bentuk penjualan yang pada awalnya menggunakan surat dan juga katalog, tetapi seiring dengan perkembangan zaman, penjualan tidak langsung ini menggunakan media lain seperti telepon, televisi, dan internet.

c. Penjualan Otomatis

Penjualan otomatis ini merupakan penjualan yang biasanya dilakukan dengan menggunakan mesin penjual otomatis atau yang biasa disebut dengan vending machine.

Mesin ini tidak membutuhkan bantuan wiraniaga dalam pengoperasiannya. Biasanya mesin ini diletakkan pada tempat yang strategis yang dilewati banyak orang dan mudah dijangkau.

Penjualan yang dilakukan secara otomatis dengan menggunakan mesin otomatis ini ada kelebihan dan juga kekurangannya.

Kelebihan dari penggunaan mesin penjual otomatis, antara lain:

  • Mudah dalam pengoperasiannya.
  • Para konsumen akan mendapatkan kualitas produk yang sama dengan harga yang tetap.
  • Tidak ada risiko kecurangan yang dilakukan oleh penjual.
  • Akan menghemat tenaga dan juga waktu penjual.
  • Tidak membutuhkan iklan atau promosi penjualan.
  • Tidak terdapat risiko gagal bayar bagi pembeli yang melakukan pembelian secara kredit karena pembelian dilakukan dengan menggunakan uang tunai.

Kekurangan dari penggunaan mesin penjual otomatis, antara lain:

  • Membutuhkan modal awal yang besar.
  • Membutuhkan perbaikan dan juga perawatan secara rutin.
  • Kapasitas dari mesin penjualan otomatis terbatas, sehingga penjual harus memastikan bahwa barang dagangannya selalu terisi.
  • Uang koin yang ada di dalam mesin harus diambil secara periodik.
X CLOSE

Advertisements

X CLOSE

Advertisements

Tinggalkan komentar