Kebijakan Dividen

Di dalam suatu organisasi bisnis yang berbentuk perseroan terbatas, Kebijakan dividen (dividen policy) adalah salah satu bagian penting dalam pengambilan keputusan pendanaan.

Yang dimana laba yang didapatkan oleh perusahaan pada saat akhir tahun akan dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen atau ditahan untuk menambah modal.

Apabila keuntungan ditahan oleh perusahaan saat ini dalam jumlah besar, maka laba yang akan dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham menjadi lebih kecil.

Dalam setiap periode, sebuah perusahaan harus dapat memutuskan apakah laba yang didapatkan akan ditahan atau didistribusikan sebagian atau seluruhnya kepada para pemegang saham.

Selama perusahaan mempunyai proyek investasi dengan pengembalian lebih dari yang diminta, maka perusahaan akan menggunakan keuntungan yang ada untuk mendanai proyek tersebut.

Apabila terjadi kelebihan laba setelah dipakai untuk melakukan pendanaan seluruh kesempatan investasi yang ada, maka kelebihan tersebut akan didistribusikan kepada para pemegang saham.

Sebaliknya apabila tidak ada kelebihan, maka dividen tidak akan dibagikan kepada para pemegang saham.

Oke untuk lebih memahami tentang kebijakan dividen, Yuk simak pembahasan-nya dalam artikel ini!!

Pengertian Dividen

Dividen adalah hak para pemegang saham yang merupakan bagian dari laba bersih perusahaan dapat berupa kas, saham, barang, surat berharga, dan lainnya yang dibayarkan oleh badan usaha berbentuk perseroan terbatas pada setiap akhir periode sesuai dengan persentase saham yang dimiliki para pemegang saham.

Seperti yang sudah dijelaskan pada pengertian dividen tersebut bahwa dividen yang dibagikan oleh sebuah perusahaan tidak selalu berbentuk kas.

Pada kenyataannya terdapat beberapa bentuk dividen lainnya, menurut Bringham (2006:95) yaitu sebagai berikut.

1. Cash Dividend (Dividen Tunai)

Dividen tunai adalah dividen yang dibagikan atau dibayarkan dalam bentuk uang tunai.

Pada umumnya dividen tunai ini lebih disukai oleh para pemegang saham dan lebih sering digunakan oleh perusahaan apabila dibandingkan dengan jenis dividen yang lainnya.

2. Stock Dividend (Dividen Saham)

Dividen daham adalah dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk saham.

Pembayaran dividen saham ini harus didasarkan adanya laba yang tersedia, dengan adanya pembagian dividen saham tersebut maka jumlah saham yang beredar menjadi bertambah.

Dengan demikian pembayaran dividen saham ini tidak akan mempengaruhi posisi likuiditas perusahaan.

Hal tersebut dikarenakan yang dibayarkan oleh perusahaan bukan bagian dari arus kas perusahaan.

3. Property Dividend (Dividend Barang)

Dividend barang adalah dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk barang.

Dividen barang yang dibagikan ini tentunya harus barang yang bida dibagi – bagi atau bagian – bagian yang homogen serta penyerahan-nya kepada para pemegang saham tidak akan mengganggu kontinuitas perusahaan.

4. Scrip Dividend (Dividen Surat)

Dividen surat adalah dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk surat janji hutang.

Perusahaan akan membayar sejumlah tertentu dan pada jangka waktu tertentu, sesuai dengan yang terdapat di dalam scrip tersebut.

Pembayaran dalam bentuk ini tentunya akan menyebabkan perusahaan memiliki hutang jangka pendek kepada pemegang scrip.

5. Liquidating Dividend

Liquidating dividend adalah dividen yang dibagikan kepada kepada para pemegang saham berdasarkan pengurangan modal perusahaan, bukan berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

 

Pengertian Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen adalah kebijakan atau keputusan yang berhubungan dengan berapa banyak jumlah laba yang harus dibayarkan kepada para pemegang saham dan berapa banyak jumlah yang harus ditahan sebagai tambahan modal perusahaan.

Keputusan dividen adalah bagian dari keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya yang berhubungan dengan pembelanjaan internal perusahaan.

Hal tersebut dikarenakan, besar kecil nya sebuah dividen yang dibagikan akan berpengaruh pada besar kecil nya laba yang ditahan.

Laba ditahan adalah salah satu dari sumber pembelanjaan internal perusahaan.

Permasalahan dalam kebijakan dividen ini ada beberapa yaitu sebagai berikut.

  1. Apakah kebijakan dividen bisa berpengaruh pada nilai perusahaan atau harga pasar saham perusahaan?
  2. Apabila bisa mempengaruhi nilai dan harga pasar saham perusahaan, bagaimana kebijakan dividen yang optimal?

 

Teori Kebijakan Dividen

Berikut ini merupakan beberapa teori yang mencoba menjelaskan tentang berbagai permasalahan mengenai dividen.

1. Dividen Irrelevance Theory (Teori Ketidak Relevanan Deviden)

Dividen irrelevance theory di kemukakan oleh Merton Miller dan Franco Modigliani pada tahun 1961.

Miller dan Modigliani berpendapat bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh pada nilai perusahaan.

Yang dimana menurut Miller dan Modigliani nilai perusahaan hanya ditentukan oleh profitabilitas asset perusahaan dan kompetensi manajemen perusahaan.

Dalam merumuskan teori ini mereka mengasumsikan suatu pasar yang sempurna, invsetor bersifat rasional dan terdapat kepastian yang sempurna (perfect certainty).

Beberapa asumsi tersebut menjadikan suatu pasar dengan beberapa kondisi sebagai berikut.

  1. Tidak ada pihak yang bisa mempengaruhi harga.
  2. Terdapat informasi yang simetri untuk seluruh pihak.
  3. Tidak ada biaya transaksi, misalnya seperti biaya komisi atau biaya transfer.
  4. Tidak ada perbedaan pajak antara dividen dengan capital gain atau antara laba yang didistribusikan dan yang tidak didistribusikan.
  5. Investor menginginkan kekayaan yang lebih banyak dibandingkan kekayaan yang sedikit.
  6. Investor bersifat indifferent antara dividend dan capital gain.
  7. Setiap investor mempunyai kepastian investasi di masa yang akan datang dan atas laba perusahaan di masa depan.
  8. Dengan adanya kepastian tersebut, perusahaan hanya mengeluarkan satu jenis sekuritas, yaitu common stock.

Jika asumsi – asumsi tersebut terpenuhi, maka tidak ada pengaruh antara dividen dengan nilai saham perusahaan.

Bagi investor, akan sama saja nilainya antara investor menerima dividen atau pun mendapatkan laba dengan melalui capital gain.

Hal tersebut karena pembayaran dividen dan kenaikkan harga saham akan memberikan arus kas yang sama besarnya bagi investor.

Tapi, tidak realistis-nya beberapa asumsi yang dipakai oleh Miller dan Modigliani menyebabkan dividen irrelevance theory tidak disetujui oleh beberapa ahli keuangan.

2. The Bird in The Hand Theory

The bird in the hand theory menyatakan bahwa dividen mempunyai tingkat kepastian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan capital gain.

Berdasarkan teori ini, investor akan lebih memilih dividen yang sudah pasti jumlah nominal nya daripada mengharapkan capital gain yang masih mungkin berfluktuasi.

Karena tingkat kepastian dari dividen lebih tinggi dibandingkan dengan capital gain, maka investor akan cenderung membeli saham – saham yang akan membagikan dividen.

Semakin tinggi jumlah dividen yang dibagikan maka akan semakin tinggi juga minat investor terhadap saham.

Tingginya minat investor tersebut akan menyebabkan naik nya harga saham.

Sehingga, harga saham yang terjadi akan ditentukan oleh besar kecilnya dividen yang dibagikan.

3. Tax Preference Theory

Tax preference theory ini menyatakan bahwa seorang investor menghendaki suatu perusahaan untuk menahan laba setelah pajak dan digunakan untuk melakukan pembiayaan investasi daripada dividen dalam bentuk kas.

Sehingga perusahaan sebaiknya menentukan dividen payout ratio yang rendah atau bahkan tidak membagi dividen.

Hal tersebut dikarenakan dividen cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi dibandingkan dengan capital gain.

Dengan demikian investor akan meminta tingkat keuntungan yang lebih tinggi untuk saham dengan dividen yield yang tinggi.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut teori ini kebijakan dividen memiliki pengaruh negatif terhadap harga pasar saham perusahaan.

Artinya, semakin banyak jumlah dividen yang dibagikan oleh suatu perusahaan maka akan semakin rendah harga pasar saham perusahaan tersebut.

4. Signaling Theory

Signaling theory menyatakan bahwa terdapat ketidak istimewa-an informasi yang terjadi antara manajer dan investor.

Menurut pendapat dari William L M, corporate insiders (manajer) secara umum memiliki informasi yang lebih baik tentang kegiatan perusahaan yang sekarang dan prospek perusahaan di masa yang akan datang.

Sehingga, dividen bisa menjadi penyampai informasi tentang kinerja keuangan perusahaan dari manajer kepada investor.

Berdasarkan teori ini, jika suatu perusahaan mengumumkan dividen yang lebih tinggi daripada yang di-antisipasi pasar, maka hal tersebut akan diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa perusahaan mempunyai prospek kinerja keuangan di masa depan yang lebih baik daripada yang diekspektasikan.

  • Bricley (1983)
  • Healy dan Palepu (1988)
  • Aharony dan Dotan (1994)

Mereka membuktikan bahwa peningkatan dividen akan menyebabkan peningkatan pendapatan perusahaan di masa depan.

Dengan adanya sinyal yang baik, maka investor akan membeli saham perusahaan tersebut dan akan menyebabkan harga saham nya naik.

Sebaliknya, apabila perusahaan mengumumkan dividen yang lebih rendah daripada yang diharapkan, maka hal tersebut akan diinterpretasikan sebagai sinyal buruk.

Penurunan dividen bisa mengindikasikan bahwa pendapatan perusahaan di masa depan akan mengecewakan.

Hal tersebut tentunya menjadi penyebab investor menjual saham yang mereka miliki sehingga akan menyebabkan harga saham perusahaan turun.

5. Residual Theory

Residual theory menyatakan bahwa pembayaran dividen dilakukan apabila perusahaan mempunyai dana sisa setelah melakukan pembiayaan berbagai investasi yang memiliki Net Present Value positif dengan memakai pendapatan perusahaan yang ditahan (retained earnings).

Artinya, pembayaran dividen adalah prioritas terakhir bagi perusahaan.

Jika perusahaan tidak mempunyai dana sisa, maka tidak akan ada pembayaran dividen yang dilakukan.

Keputusan pembiayaan investasi dengan memakai pendanaan internal, yaitu dengan memakai pendapatan yang ditahan (retained earnings) lebih disukai oleh perusahaan daripada pembiayaan eksternal.

Hal tersebut karena biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan akan lebih kecil.

Dengan demikian perusahaan akan cenderung mendanai berbagai proyek investasi dengan memakai pendapatan ditahan.

Oleh karena itu, selama masih terdapat investasi yang bisa dibiayai, maka dividen akan dibayarkan perusahaan akan semakin sedikit tergantung pada sisa dana internal yang ada.

Pada teori ini dijelaskan mengapa suatu perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan cepat cenderung jarang membayarkan dividen dan mempunyai rasio pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang pertumbuhannya lambat karena ukurannya sudah besar.

6. Clientele Effect Theory

Clientele effect theory, menjelaskan bahwa kebijakan dividen ditujukan untuk dapat memenuhi kebutuhan segmen investor tertentu.

Hal tersebut karena setiap investor mempunyai preferensi tersendiri terhadap imbal hasil yang mereka dapatkan.

Perusahaan yang mempunyai rasio pembayaran dividen tinggi akan menarik investor yang lebih menyukai imbal hasil dalam bentuk kas yang sudah pasti jumlah nominal nya.

Sedangkan perusahaan yang sahamnya mengalami kenaikan harga akan menarik investor yang ingin menghindari pajak dan lebih menyukai imbal hasil dalam bentuk capital gain.

Sehingga, suatu perusahaan mempunyai kebijakan dividen tertentu untuk investor tertentu.

7. Agency Theory

Masalah keagenan ini adalah suatu isu yang penting dalam bidang keuangan.

Masalah keagenan terjadi karena terdapat perbedaan kepentingan antara manajer, pemilik perusahaan, dan juga investor.

Masalah tersebut akan muncul biaya agensi, yaitu biaya yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan tersebut.

Agency theory ini menjelaskan bahwa dividen bisa dijadikan sebagai alat yang dapat digunakan untuk meminimalisir biaya agensi.

Dengan dilakukannya pembayaran dividen, maka manajer harus mengeluarkan saham baru atau pun memakai utang baru untuk membiayai investasi.

Tentunya hal tersebut akan menyebabkan manajer harus mengelola perusahaan dengan lebih baik karena investor menginginkan imbal hasil yang baik atas investasi yang dilakukan oleh perusahaan.

Selain itu, dengan adanya investor yang lebih baik dan kreditur baru, maka pengawasan kinerja perusahaan akan menjadi lebih ketat sehingga dapat meminimalisir masalah keagenan.

8. Expectation Theory

Expectation theory menjelaskan bahwa para pemegang saham mempunyai harapan terhadap setiap besarnya dividen yang dibayarkan oleh perusahaan.

Harapan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor internal perusahaan, misalnya seperti besarnya dividen yang dibayarkan tahun lalu, keputusan investasi perusahaan, dan pendapatan perusahaan tahun ini.

Harapan investor juga bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, misalnya seperti keadaan perekonomian dan politik negara.

Ketika dividen diumumkan dan dibagikan, maka investor akan membandingkan antara keadaan aktual dengan harapan mereka.

Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Jika dividen aktual ternyata relatif sama dengan harapan investor, maka harga saham tidak terpengaruh.

Sebaliknya, jika terdapat perbedaan yang signifikan antara besar dividen aktual dengan harapan investor, maka harga saham akan terpengaruh secara signifikan.

Oleh karena itu, perusahaan bersikap sangat hati – hati dalam menentukan besaran dividen yang akan dibayarkan.

9. Teori Stakeholder

Teori stakeholder pada awalnya muncul karena adanya perkembangan kesadaran dan juga pemahaman bahwa perusahaan mempunyai stakeholder.

Yaitu berbagai pihak yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan.

Ide bahwa perusahaan mempunyai stakeholder ini selanjutnya menjadi hal yang banyak dibicarakan dalam berbagai literatur manajemen baik akademis atau pun profesional.

Stategic Management: A Stakeholder Approach oleh Freeman (1984) merupakan studi yang pertama kali membahas tentang stakeholder.

Sejak saat itu banyak bermunculan studi yang membahas tentang konsep stakeholder.

Teori ini menjelaskan bahwa suatu perusahaan mempunyai berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan.

Berbagai pihak tersebut bisa meliputi investor, dan berbagai pihak non investor. Menurut teori ini, perusahaan mempunyai kontrak dengan stakeholder-nya.

Sehingga, stakeholder mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan suatu perusahaan.

Adanya pembeda antara explicit dan implicit claim adalah salah satu faktor penting dalam teori stakeholder.

Explicit claim direfleksikan oleh kontrak harga, garansi produk, dan kontrak upah.

Sedangkan untuk implicit claim bisa menjadi kurang jelas untuk dituangkan kedalam bentuk tertentu.

Beberapa contoh dari implicit claim yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menyediakan layanan, mempekerjakan karyawan tanpa kontrak, dan melanjutkan sumber pasokan tanpa negosiasi baru.

Explicit dan implicit claim bisa mempengaruhi tingkat pendapatan suatu perusahaan.

Namun implicit claim mempunyai risiko yang lebih tinggi bagi perusahaan jika tidak dipenuhi dibandingkan dengan explicit claim.

Tidak hanya investor stakeholder saja yang dapat mempengaruhi kebijakan investasi dan kebijakan dividen suatu perusahaan.

Namun non investor stakeholder juga mempunyai peran dalam penentuan kebijakan tersebut.

Non investor stakeholder dapat mempengaruhi kebijakan investasi dan dividen dengan melalui implicit claim.

Implicit claim bisa mempengaruhi tingkat pendapatan operasi bersih perusahaan yang tentunya menentukan bagaimana kebijakan investasi dan dividen perusahaan.

Kemampuan suatu perusahaan untuk dapat memenuhi implicit claim-nya tidak lepas dari peranan fungsi bisnis lain dari perusahaan.

Sehingga teori stakeholder dengan melalui implicit claim juga menghubungkan antara fungsi keuangan perusahaan dengan berbagai fungsi lain yang ada di dalam perusahaan.

 

Jenis – Jenis Kebijakan Dividen

Berikut ini merupakan beberapa jenis dari kebijakan dividen.

1. Constant Payout Ratio Dividend Policy

Adalah kebijakan dividen yang berdasarkan pada persentase tertentu dari pendapatan perusahaan.

Sehingga besarnya dividen yang dibayarkan mengikuti besarnya laba yang didapatkan oleh perusahaan.

Semakin besar laba yang didapatkan, maka akan semain besar dividen yang dibayarkan.

Demikian juga sebaliknya semakin kecil laba yang didapatkan, maka akan semakin kecil dividen yang akan dibayarkan.

Rasio pembayaran dividen adalah persentase dari setiap jumlah rupiah yang dihasilkan dibagikan kepada pemilik dalam bentuk tunai.

Hal tersebut dihitung dengan cara membagi dividen kas per saham dengan laba per saham.

jumlah pembayaran dividen dengan persentase tetap dari EPS (earning per share) akan dapat berpengaruh pada posisi harga sama di pasar.

2. Kebijakan Dividen Biasa atau Stabil

Kebijakan dividen biasa atau stabil (regular dividen policy) adalah kebijakan dividen yang berdasarkan pada pembayaran dividen dengan jumlah tetap dalam satu periode meskipun laba perusahaan berubah – ubah.

Dengan demikian kebijakan ini akan menghilangkan keraguan dari investor sekaligus dapat menginformasikan bahwa perusahaan dalam kondisi yang baik dan lancar.

3. Low Regular an Extra Dividend Policy

Adalah dividend policy yang didasarkan pada pembayaran dividen rendah yang teratur.

Penambahan pembayaran dividen akan terjadi apabila pendapatan perusahaan lebih tinggi dari normal pada periode pembayaran dividen.

4. Flexible Dividend Policy

Dalam kebijakan ini perusahaan akan menentukan besarnya dividend payout ratio setiap periode nya disesuaikan dengan posisi keuangan dan kebijakan keuangan.

5. Residual Dividen Policy

Kebijakan ini menahan laba terlebih dahulu, yang selanjutnya laba tersebut digunakan untuk melakukan pembelanjaan berbagai investasi yang memenuhi syarat.

Dividen akan dibayarkan, apabila terdapat sisa laba setelah seluruh kesempatan investasi sudah terpenuhi.

Kebijakan ini didasarkan bahwa para investor lebih senang apabila perusahaan menahan laba dan menginvestasikannya kembali daripada membagikan dividen.

6. Increased Dividend Policy

Dengan menggunakan kebijakan ini, perusahaan akan membayarkan dividen kepada para investor dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.

 

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Berikut ini merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan.

1. Likuiditas Perusahaan

Likuiditas dari suatu perusahaan adalah faktor yang penting dan harus dipertimbangkan sebelum menentukan kebijakan untuk menetapkan besaran dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham.

Sehingga, semakin kuatnya posisi likuiditas suatu perusahaan, maka akan semakin besar kemampuan nya untuk membayar dividen.

Artinya bahwa akan semakin kuat posisi likuiditas suatu perusahaan terhadap prospek kebutuhan dana di masa depan, maka akan semakin tinggi rasio pembayaran dividen nya.

2. Kebutuhan Dana Untuk Membayar Kewajiban

Jika sebuah perusahaan menetapkan bahwa pelunasan kewajiban nya akan diambil dari laba ditahan, maka perusahaan harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk dibagikan sebagai dividen.

Artinya bahwa hanya sebagian kecil saja dari pendapatan (earnings) yang bisa dibagikan sebagai dividen.

Dengan kata lain perusahaan harus menetapkan dividen payout ratio yang rendah.

3. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan

Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, maka akan semakin besar kebutuhan daya yang digunakan untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut.

Semakin besarnya kebutuhan dana di masa depan untuk melakukan pertumbuhan, maka perusahaan tersebut cenderung akan menahan pendapatan nya daripada dibagikan sebagai dividen.

Artinya bahwa semakin cepat tingkat pertumbuhan, maka akan semakin besar bagian dari pendapatan yang ditahan. Dengan kata lain semakin rendahnya dividend payout ratio nya.

4. Peluang ke Pasar Modal

Suatu perusahaan besar dan sudah berjalan baik, memiliki catatan profitabilitas dan stabilitas data, akan memiliki peluang besar untuk bisa masuk ke pasar modal dan bentuk pembiayaan eksternal lain nya.

Namun bagi perusahaan yang baru atau bersifat coba – coba akan lebih banyak menimbulkan risiko bagi para penanam modal potensial.

Sehingga mempunyai peluang kecil dapat untuk masuk ke pasar modal dan bentuk pembiayaan eksternal lain nya.

Dengan kata lain kemampuan untuk meningkatkan modal nya atau dana pinjaman dari pasar modal akan terbatas, sehingga perusahaan yang seperti itu akan menahan lebih banyak laba-nya untuk mendanai kegiatan operasional nya.

Jadi perusahaan yang besar atau sudah mapan cenderung mempunyai tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil atau baru.

5. Batasan – Batasan dalam Kontrak Hutang

Syarat perjanjian hutang (convenant) sebagai pelindung dalam kesepakatan perjanjian pinjaman sering kali melibatkan batasan untuk pembayaran dividen.

Batasan tersebut ditentukan oleh pemberi pinjaman untuk menjaga kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban nya.

Pada umumnya syarat perjanjian hutang dinyatakan sebagai persentase maksimal laba ditahan kumulatif (yang diinvestasikan kembali) dalam perusahaan.

Pada saat larangan atau pembatasan tersebut diberlakukan, maka akan mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.

 

Prosedur Pembagian Dividen

Berikut ini merupakan beberapa prosedur yang dapat dilakukan untuk melakukan pembayaran atau pembagian dividen.

1. Declaration Date

Declaration date atau tanggal pengumuman adalah tanggal yang secara resmi diumumkan oleh perusahaan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

2. Cum Devidend Date

Cum dividend date adalah tanggal yang dimana semua pemegang saham perusahaan sampai batas tanggal yang sudah ditentukan berhak untuk mendapatkan dividen.

Misalnya apabila investor membeli saham pada tanggal 2 Agustus 2025 atau setelahnya, maka investor tersebut tidak akan memperoleh pembayaran dividen.

3. Date of Record

Date of record adalah tanggal pencatatan para pemegang saham yang berhak untuk mendapatkan dividen.

4. Ex Dividend Date

Ex dividend date adalah tanggal yang dimana para pemegang saham tidak lagi mendapatkan pembayaran dividen.

5. Date of Payment

Date of payment adalah tanggal dilakukannya pembayaran dividen kepada para pemegang saham yang berhak.

Nah berikut merupakan tahapan prosedur dalam pembagian dividen. Setiap tahapan mempunyai durasi yang berbeda – beda antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lainnya.

Hal tersebut tergantung kepada kebijakan setiap perusahaan yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang kebijakan dividen. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu. Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan di-kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar