Mastah Binsis Kami seorang Muslim dan seorang Pemimpi. Kami berprinsip bahwa ketika kami melakukan hal yang TERBAIK dengan DOA, maka yang BAIK akan TERCAPAI dengan SEMPURNA. ( Fuad & Nanda )

Kertas Kerja Audit

12 min read

Kertas Kerja Audit

Kertas kerja audit (audit paperwork) adalah mata rantai yang menghubungkan antara catatan klien auditor dengan laporan audit. Sehingga kertas kerja adalah alat yang sangat penting dalam melaksanakan profesi auditor.

Untuk dapat melakukan pengumpulan dan pembuatan bukti, seorang auditor harus membuat kertas kerja audit.

Nah, mari simak artikel ini dengan seksama untuk lebih jelas tentang kertas kerja audit!!

Pengertian Kertas Kerja Audit

Menurut penjelasan yang disampaikan oleh SA Seksi 339 Kertas Kerja paragraf 03 bahwa:

“Kertas kerja adalah berbagai catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuh-nya, pengujian yang dilakukannya, informasi yang diperolehnya, dan kesimpulan yang dibuatnya sehubungan dengan audit-nya.”

Contoh kertas kerja audit adalah sebagai berikut:

  1. Hasil pemahaman terhadap struktur atau susunan pengendalian intern,
  2. Program audit,
  3. Analisis,
  4. Surat konfirmasi,
  5. Memorandum,
  6. Representasi klien,
  7. Ikhtisar dari berbagai dokumen organisasi,
  8. Daftar atau komentar yang dibuat atau didapatkan oleh auditor.

Selain beberapa contoh tersebut kertas kerja audit dapat juga berupa data atau informasi yang tersimpan di dalam film, pita magnetic, atau media yang lainnya.

Audit terhadap laporan keuangan ini harus berdasarkan pada standar auditing yang sudah ditetapkan oleh IAI. Untuk lebih memahami tentang standar auditing kami sudah membahasnya di artikel lain dalam website ini.

Standar pekerjaan lapangan mengharuskan seorang auditor untuk selalu melakukan:

  1. Perencanaan dan supervisi terhadap audit yang dilakukan.
  2. Mendapatkan pemahaman atas struktur pengendalian intern.
  3. Dan mengumpulkan berbagai bukti komponen yang cukup dengan melalui berbagai prosedur audit.

Kertas kerja audit adalah sebuah sarana yang dipakai oleh seorang auditor untuk dapat membuktikan bahwa standar pekerjaan lapangan tersebut sudah dipatuhi.

 

Isi Kertas Kerja Audit

Menurut SA Seksi 339 Kertas Kerja paragraf 05, kertas kerja audit harus bisa atau cukup menunjukan bahwa sebuah catatan akuntansi harus sudah sesuai dengan laporan keuangan atau informasi lain yang dilaporkan dan standar auditing yang digunakan.

Kertas kerja audit pada umumnya harus berisikan dokumentasi yang menunjukan:

  1. Sudah dilakukannya standar pekerjaan lapangan pertama yaitu pemeriksaan sudah direncanakan dan sudah disupervisi dengan baik.
  2. Sudah dilakukannya standar pekerjaan lapangan kedua. Yaitu pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern untuk dapat merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang sudah dilaksanakan.
  3. Sudah dilakukannya standar pekerjaan lapangan yang ketiga yaitu bukti audit sudah didapatkan, prosedur audit sudah diaplikasikan, dan pengujian sudah dilakukan yang dapat memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai landasan atau dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang di-audit.

 

Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit

Terdapat beberapa tujuan dibuatnya kertas kerja audit, yaitu sebagai berikut.

1. Untuk Mendukung Pendapat Auditor atas Laporan Keuangan yang Di-audit-nya.

Standar pekerjaan lapangan yang ketiga mensyaratkan bahwa seorang auditor mendapatkan bukti kompeten yang cukup sebagai pedoman untuk dapat menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang di-audit-nya.

Kertas kerja audit bisa dipakai oleh auditor untuk mendukung pendapat yang disampaikannya dan sebagai bukti bahwa auditor sudah melakukan audit yang memadai.

2. Untuk Menguatkan Berbagai Kesimpulan Auditor dan Kompetensi Audit-nya.

Di kemudian hari, apabila terdapat pihak yang membutuhkan penjelasan tentang kesimpulan atau pertimbangan yang sudah dibuat oleh auditor dalam proses audit yang dilakukannya, maka auditor dapat memeriksa kembali kertas kerja audit yang sudah dibuat dalam audit-nya.

Pembuatan seperangkat kertas kerja audit yang lengkap adalah syarat yang sangat penting untuk membuktikan sudah dilakukannya dengan baik proses audit atas laporan keuangan.

3. Untuk Mengkoordinasi dan Mengorganisasi Seluruh Proses Audit.

Audit yang dilakukan oleh seorang auditor terdiri dari suatu proses atau tahapan audit yang dilakukan dalam berbagai waktu, tempat, dan pelaksana.

Semua proses audit tersebut akan menghasilkan berbagai macam bukti yang akan membentuk kertas kerja audit.

Pengkoordinasian dan pengorganisasian setiap tahapan atau proses audit tersebut bisa dilakukan dengan memakai kertas kerja.

4. Untuk Memberikan Dasar dalam Audit Selanjutnya.

Dalam melakukan proses audit yang berulang dengan klien yang sama dan dalam periode akuntansi yang berbeda, seorang auditor membutuhkan data atau informasi tentang:

  1. Sifat usaha klien-nya.
  2. Catatan dan juga sistem akuntansi klien.
  3. Pengendalian intern yang dilakukan klien.
  4. Rekomendasi perbaikan yang diajukan kepada klien dalam proses audit yang dilakukan sebelumnya.
  5. Berbagai jurnal penyesuaian yang disarankan untuk menyajikan secara wajar laporan keuangan yang terdahulu.

Informasi tersebut sangat berguna untuk melakukan proses audit selanjutnya dan bisa dengan mudah diperoleh dari kertas kerja audit periode sebelumnya.

 

Syarat Kertas Kerja Audit

Kecakapan teknis dan juga keahlian professional dari seorang auditor bisa terlihat pada kertas kerja audit yang dibuatnya.

Untuk dapat membuktikan bahwa seorang auditor berkompeten dalam melakukan pekerjaan lapangan sesuai dengan standar auditing, maka dia harus bisa membuat kertas kerja yang benar – benar mempunyai manfaat.

Untuk dapat memenuhi tujuan tersebut, maka terdapat 5 syarat kertas kerja audit yang perlu untuk diperhatikan, yaitu sebagai berikut:

1. Lengkap

Sebuah kertas kerja audit harus lah lengkap. Lengkap disini maksudnya adalah:

Berisikan seluruh informasi atau data penting yang harus dicantumkan. Seorang auditor harus bisa menentukan komposisi seluruh data penting yang harus dimasukkan ke dalam kertas kerja.

Tidak membutuhkan tambahan penjelasan secara lisan. Karena kertas kerja tersebut akan diperiksa oleh seorang auditor senior dan kemungkinan akan diperiksa oleh pihak luar, maka kertas kerja harus berisi informasi lengkap.

Dengan demikian tidak membutuhkan tambahan penjelasan secara lisan. Sebuah kertas kerja audit harus disusun untuk dapat “berbicara” sendiri.

Oleh karena itu harus berisikan informasi yang lengkap, dan tidak berisikan informasi yang masih belum jelas atau pernyataan yang belum terjawab.

2. Teliti

Dalam melakukan pembuatan kertas kerja seorang auditor dituntut untuk tetap memperhatikan ketelitian dalam penulisan dan perhitungan.

Dengan demikian kertas kerja yang disusun akan terbebas dari kesalahan tulis dan juga perhitungan.

3. Ringkas

Terkadang seorang auditor yang belum memiliki banyak pengalaman melakukan kesalahan dengan melakukan pengauditan yang tidak relevan dengan tujuan audit.

Hal tersebut akan berakibat pada pembuatan atau pengumpulan kertas kerja dalam jumlah yang banyak dan cenderung tidak memiliki manfaat dalam audit-nya.

Dengan demikian kertas kerja harus dibatasi pada data atau informasi yang penting atau pokok dan relevan dengan tujuan dilakukannya audit serta disajikan secara ringkas.

Seorang auditor harus bisa menghindari rincian yang tidak perlu untuk disajikan. Analisis yang dilakukan oleh auditor harus sebagai ringkasan dan juga penafsiran informasi atau data, bukan hanya sebagai penyalinan catatan klien ke dalam kertas kerja.

4. Jelas

Kejelasan dalam menyusun dan menyajikan informasi kepada berbagai pihak yang akan memeriksa kertas kerja harus diusahakan oleh auditor. Pemakaian istilah yang memunculkan makna ganda harus dihindari.

Penyajian informasi atau data secara sistematik harus dilakukan.

5. Rapi

Kerapian dalam penyajian kertas kerja audit dan keteraturan dalam penyusunan-nya akan sangat membantu seorang auditor senior dalam melakukan review terhadap hasil kerja dari staf-nya serta akan memudahkan auditor dalam mendapatkan informasi dari kertas kerja.

 

Jenis Kertas Kerja Auidt

Isi dari kertas kerja ini terdiri dari seluruh informasi yang dikumpulkan dan dibuat oleh seorang auditor dalam melakukan proses audit-nya.

Kertas kerja ini terdiri dari berbagai beberapa jenis, yang secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi 5, yaitu sebagai berikut.

1. Program Audit (Audit Program)

Program audit adalah suatu daftar prosedur audit untuk semua audit unsur tertentu.

Sedangkan prosedur audit adalah suatu instruksi yang rinci atau detail untuk mengumpulkan berbagai jenis bukti audit tertentu yang harus didapatkan pada saat tertentu dalam proses audit.

Dalam program audit, seorang auditor menyebutkan menyebutkan:

  1. Prosedur audit yang harus diikuti dalam melakukan suatu verifikasi masing – masing unsur yang terdapat di dalam laporan keuangan.
  2. Tanggal dan paraf pelaksanaan prosedur audit tersebut.
  3. Penunjukan indeks kertas kerja yang dihasilkan.

Sehingga, program audit mempunyai fungsi sebagai suatu alat yang berguna untuk menetapkan jadwal pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan audit. Program audit bisa dimanfaatkan untuk:

  1. merencanakan jumlah orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan audit. Beserta dengan komposisi-nya, jumlah asisten dan auditor junior yang akan ditugasi, dan taksiran jam yang akan dibutuhkan.
  2. Memungkinkan seorang auditor yang mempunyai peran sebagai supervisor bisa mengikuti kemajuan dari kegiatan audit yang sedang dilaksanakan.

2. Working Trial Balance

Working trial balance adalah suatu daftar yang berisikan berbagai saldo akun yang berasal dari buku besar pada akhir tahun yang di-audit dan pada akhir tahun sebelumnya, kolom – kolom untuk penyesuaian, penggolongan kembali yang diusulkan auditor, dan berbagai saldo setelah koreksi auditor yang akan tampak dalam laporan keuangan audit-an.

Berikut ini adalah contoh dari working trial balance.

working trial balance

Working trial balance ini adalah suatu daftar awalan yang harus dibuat oleh seorang auditor untuk memindahkan seluruh saldo akun yang terdapat di dalam daftar saldo (trial balance) klien nya.

Di dalam proses auditing, working trial balance ini dipakai untuk:

  1. Meringkas penyesuaian dan penggolongan kembali yang diusulkan oleh seorang auditor kepada klien nya.
  2. Meringkas penyesuaian dan penggologan kembali saldo akhir setiap akun yang ada di buku besar setelah penyesuaian atau koreksi oleh auditor.

Pada kolom yang terakhir dalam working trial balance tersebut seorang auditor menyajikan draft final laporan keuangan klien nya setelah dilakukan audit oleh auditor.

Draft final tersebutlah yang akan diusulkan oleh auditor kepada klien untuk dapat dilampirkan pada laporan audit.

Terdapat kolom “Saldo akhir 31 Desember 20×8 (tahun lalu)”, kolom tersebut berisikan dengan berbagai saldo akun setelah penyesuaian auditor dalam audit tahun sebelumnya.

Penyajian berbagai saldo dari audit tahun sebelumnya untuk tahun sekarang yang diaudit, mempunyai tujuan untuk dapat memudahkan pembandingan dengan saldo akun yang berhubungan untuk tahun yang diaudit.

Hal tersebut supaya auditor bisa memusatkan perhatian pada berbagai perubahan yang luar biasa atau signifikan.

Sebenarnya working trial balance tersebut memiliki fungsi yang sama dengan lembar kerja atau worksheet atau neraca lajur yang dipakai klien dalam menyusun laporan keuangan.

Tahap Penyusunan Laporan Keuangan Audit-an

Berikut ini adalah tahapan yang ditempuh dalam penyusunan laporan keuangan audit-an, yaitu:

  1. Pengumpulan bukti audit. Pengumpulan tersebut dilakukan dengan cara pengumpulan atau pembuatan skedul pendukung (supporting schedules).
  2. Peringkasan informasi atau data yang ada di dalam skedul pendukung ke dalam skedul utama (lead schedules) dan ringkasan jurnal penyesuaian.
  3. Peringkasan informasi yang terdapat di dalam skedul utama dan ringkasan jurnal penyesuaian ke dalam working trial balance.
  4. Penyusunan laporan keuangan auditan.

Penyusunan laporan keuangan auditan dapat digambarkan dalam skema berikut ini.

proses penyusunan laporan keuangan auditan

3. Ringkasan Jurnal Adjustment (Penyesuaian)

Dalam melakukan proses audit-nya, seorang auditor mungkin akan menjumpai kesalahan atau kekeliruan dalam laporan keuangan dan catatan akuntansi milik klien nya.

Untuk bisa membetulkan kesalahan tersebut, seorang auditor akan membuat draft jurnal penyesuaian yang nantinya akan dibicarakan lebih lanjut dengan klien nya.

Selain itu, seorang auditor juga akan membuat jurnal penggolongan kembali atau reclassification entries untuk berbagai unsur yang tidak terdapat kesalahan pencatatan oleh klien.

Hal tersebut berguna untuk kepentingan penyajian laporan keuangan yang wajar, maka harus di-golong-kan kembali.

Jurnal penyesuaian yang diusulkan oleh seorang auditor pada umumnya akan diberi nomor urut dan untuk jurnal penggolongan kembali akan diberi identitas berupa huruf.

Setiap jurnal penyesuaian atau penggolongan kembali harus dilengkapi dengan penjelasan yang rinci atau lengkap.

Berikut ini adalah contoh ringkasan jurnal penyesuaian dan penggolongan kembali.

ringkasan jurnal adjustment

ringkasan jurnal penggolongan kembali

Jurnal penyesuan dengan jurnal penggolongan kembali ini berbeda. Jurnal penggolongan kembali dipakai oleh auditor hanya untuk mendapatkan penggolongan yang benar dalam laporan keuangan yang dibuat oleh klien-nya.

Jurnal tersebut dipakai untuk mengelompokkan kembali suatu jumlah dalam kertas kerja audit auditor dan tidak untuk disarankan supaya di-buku-kan ke dalam catatan akuntansi klien.

Contoh dari jurnal penggolongan kembali yaitu jurnal untuk mengelompokkan kembali saldo kredit piutang usaha kepada debitur tertentu, oleh karena itu jumlah tersebut akan muncul dalam neraca sebagai utang, bukan sebagai pengurang terhadap saldo debit piutang usaha.

Jurnal penyesuaian dipakai oleh auditor untuk melakukan koreksi atas catatan akuntansi klien yang salah, dengan demikian jurnal tersebut disarankan oleh auditor kepada klien untuk di-buku-kan dalam catatan akuntansi yang dibuat oleh klien nya.

Oleh auditor, jurnal penyesuaian dan penggolongan kembali pada awalnya dicatat di dalam skedul pendukung dan juga dalam ringkasan jurnal penyesuaian.

Selanjutnya jurnal – jurnal tersebut akan diringkas dari berbagai skedul pendukung ke dalam skedul utama yang berhubungan dan ke dalam working trial balance.

4. Skedul Utama

Skedul utama adalah kertas kerja yang dipakai untuk melakukan peringkasan informasi yang dicatat di dalam skedul pendukung untuk berbagai akun yang berkaitan.

Skedul utama ini dipakai untuk menggabungkan berbagai akun yang ada di buku besar yang sejenis, yang jumlah saldo nya akan disajikan di dalam laporan keuangan dalam satu jumlah.

Misalnya, skedul utama kas adalah penggabungan berbagai akun yang ada di buku besar:

  1. Kas ditangan sebesar Rp.6.000.000.
  2. Kas di bank sebesar Rp.59.000.000.
  3. Dan dana kas kecil sebesar Rp.3.000.000.

Maka saldo kas yang disajikan di dalam neraca adalah (Rp.6.000.000 + Rp.59.000.000 + Rp.3.000.000) = Rp.68.000.000.

Skedul utama memiliki kolom yang sama dengan berbagai kolom yang ada di dalam working trial balance.

Jumlah dari setiap kolom yang terdapat di dalam skedul utama dipindahkan ke dalam kolom yang berhubungan dalam working trial balance.

5. Skedul Pendukung

Ketika seorang auditor melakukan verifikasi terhadap berbagai unsur yang terdapat di dalam laporan keuangan yang dibuat klien, maka dia akan membuat berbagai macam kertas kerja pendukung yang berguna untuk menguatkan informasi keuangan dan operasional yang dikumpulkannya.

Dalam masing – masing skedul pendukung harus disajikan pekerjaan yang sudah dilakukan oleh seorang auditor dalam memverifikasi dan juga menganalisis:

  1. Berbagai unsur yang terdapat di dalam daftar tersebut.
  2. Metode verifikasi yang dipakai.
  3. Pertanyaan yang muncul dalam audit.
  4. Dan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Skedul pendukung ini juga harus menyajikan berbagai kesimpulan yang dibuat oleh auditor.

Baca Juga: Audit (Auditing)

 

Indeks Pada Kertas Kerja Audit

Sebuah kertas kerja harus diberi indeks, sub indeks dan juga indeks silang dalam audit atau ketika kegiatan audit sudah selesai dilakukan.

Pemberian indeks tersebut bertujuan untuk mempermudah pencarian informasi dalam berbagai daftar yang ada di berbagai jenis kertas kerja audit.

Masing – masing auditor memiliki cara yang berbeda – beda tentang cara pemberian indeks kertas kerja.

Berbagai factor yang harus diperhatikan dalam memberikan indeks pada kertas kerja adalah sebagai berikut.

  1. Masing – masing kertas kerja harus diberikan indeks baik di sudut atas atau pun di sudut bawah.
  2. Pencantuman indeks silang atau cross index.
  3. Jawaban konfirmasi, print out computer, pita mesin hitung dan lain sebagainya tidak diberi indeks kecuali apabila dilampirkan di belakang kertas kerja yang mempunyai indeks.

Pencantuman Indeks Silang

Dalam mencantumkan indeks silang harus dilakukan sebagai berikut:

  1. Indeks silang dari skedul pendukung ke dalam skedul utama.

Rincian atau penjelasan jumlah yang terdapat dalam suatu skedul pendukung diberi indeks silang dengan menunjuk indeks skedul utama yang berhubungan, yang memuat jumlah tersebut.

  1. Indeks silang dari skedul akun pendapatan dan juga biaya.

Pada umumnya analisis akun neraca berkaitan dengan analisis akun laba rugi. Sehingga, kertas kerja audit yang berkaitan dengan akun yang ada di neraca harus diberi indeks silang dengan kertas kerja yang berkaitan dengan akun laba rugi.

  1. Indeks silang antar skedul pendukung.

Pada umumnya skedul pendukung tertentu menyajikan informasi yang berhubungan dengan informasi lain yang terdapat dalam skedul pendukung lain.

Untuk dapat menghubungkan informasi yang saling berhubungan, yang ada di dalam berbagai skedul pendukung, maka dibutuhkan indeks silang antar skedul pendukung.

  1. Indeks silang dari skedul pendukung ke ringkasan jurnal penyesuaian.

Masing – masing jurnal penyesuaian yang dicatat di dalam ringkasan jurnal penyesuaian harus diberi indeks silang, yaitu dengan cara mencantumkan indeks skedul pendukung di belakang jurnal penyesuaian yang disajikan ke dalam ringkasan jurnal penyesuaian tersebut.

  1. Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance.

Indeks skedul utama disajikan pada working trial balance dengan tujuan untuk mempermudah dalam melakukan pencarian kembali informasi yang lebih lengkap atau rinci dari working trial balance ke skedul utama.

  1. Indeks silang untuk menghubungkan program audit dengan kertas kerja.

Indeks kertas kerja yang disajikan di dalam program audit berguna untuk menunjukan di kertas kerja mana hasil dari pelaksanaan audit yang dilakukan bisa ditemukan.

 

Metode Indeks Kertas Kerja Audit

Terdapat 3 metode dalam melakukan pemberian indeks terhadap kertas kerja audit, yaitu sebagai berikut.

1. Indeks Angka

Kertas kerja utama (program audit, working trial balance, dan ringkasan jurnal penyesuaian), skedul utama, dan skedul pendukung diberi kode berupa angka.

Kertas kerja utama dan juga skedul utama diberi indeks dengan bentuk angka. Sedangkan untuk skedul pendukung diberi sub indeks dengan menambahkan nomor kode skedul utama yang berhubungan. Contohnya adalah sebagai berikut.

6Skedul Utama Kas
6-1Kas di Bank
6-2Konfirmasi Bank
6-3Kas Kecil
7Skedul Utama Piutang Usaha dan Piutang Wesel
7-1Piutang Usaha
7-2Piutang Wesel
7-3Konfirmasi Piutang Usaha
7-4Cadangan Kerugian Piutang Usaha

2. Indeks Kombinasi Angka dan Huruf

Dalam hal ini kertas kerja akan diberi kode yang berupa kombinasi antara angka dan huruf.

Kertas kerja utama dan juga skedul utama diberi kode berupa huruf dan skedul pendukung di beri kode berupa kombinasi antara huruf dan juga angka. Contohnya adalah sebagai berikut.

ASkedul Utama Kas
A-1Kas di Bank
A-2Konfirmasi Bank
A-3Kas Kecil

3. Indeks Angka Berurutan

Dalam hal ini kertas kerja akan diberi kode berupa angka yang berurutan. Berikut merupakan contohnya.

1Skedul Utama Kas
2Kas dan Bank
3Konfirmasi Bank
4Dana Kas Kecil

 

Susunan Kertas Kerja Audit

Di awal artikel ini sudah dijelaskan bahwa dalam melaksanakan proses audit, seorang auditor akan membuat berbagai jenis kertas kerja audit.

Hal tersebut dengan tujuan untuk mempermudah melakukan review atas kertas kerja audit yang dibuat oleh berbagai asisten dan staf auditor.

Berbagai jenis kertas kerja tersebut harus disusun secara terstruktur dan sistematis serta dalam urutan yang logis.

Seorang akuntan senior yang berperan sebagai orang yang meriview kertas kerja biasanya menghendaki susunan kertas kerja audit dalam urutan sebagai berikut.

  1. Draft laporan audit atau audit report.
  2. Laporan keuangan audit-an.
  3. Ringkasan informasi bagi reviewer.
  4. Program audit.
  5. Laporan keuangan atau lembar kerja (worksheet) yang disusun oleh klien.
  6. Ringkasan jurnal penyesuaian.
  7. Working trial balance.
  8. Skedul utama.
  9. Skedul pendukung.

Dalam point ke 3 disajikan “ringkasan informasi bagi reviewer” hal tersebut bertujuan untuk memberikan daftar tentang berbagai hal yang membutuhkan perhatian secara khusus dari reviewer.

 

Kepemilikan & Kerahasiaan Informasi Kertas Kerja Audit

Berdasarkan SA Seksi 339 Kertas Kerja paragraf ke 06 mengatur bahwa kertas kerja audit adalah milik dari kantor akuntan publik, bukan milik dari klien atau milik pribadi dari auditor.

Tapi hak kepemilikan tersebut harus tunduk pada berbagai batasan yang sudah diatur di dalam Kode Etik Akuntan Indonesia yang berlaku, untuk menghindari pemakaian berbagai hal yang mempunyai sifat rahasia oleh auditor dalam kaitannya dengan transaksi klien untuk tujuan yang tidak semestinya.

Hampir semua informasi atau data yang diberikan klien kepada auditor sifatnya adalah rahasia.

Sehingga, klien tidak akan rela memberikan informasi penting tersebut kepada auditor, apabila klien tidak mendapatkan jaminan dari auditor tentang penjagaan kerahasiaan informasi tersebut.

Dan karena hampir seluruh informasi yang didapatkan auditor disajikan di dalam kertas kerja audit, maka kertas kerja adalah hal yang bersifat rahasia.

Berdasarkan SA Seksi 339 paragraf 08 mengatur bahwa seorang auditor harus mengaplikasikan prosedur yang memadai untuk dapat menjaga keamanan dari kertas kerja audit dan harus menyimpannya minimal 10 tahun. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan prakteknya dan berbagai ketentuan yang berlaku tentang penyimpanan dokumen.

Karena kertas kerja mempunyai sifat yang rahasia, maka auditor wajib untuk selalu menjaga kertas kerja audit secara terus menerus dengan cara menghindari terungkapnya informasi yang terdapat dalam kertas kerja kepada berbagai bihak yang tidak diinginkan.

Berikut ini adalah bunyi dari Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia berdasarkan pasal 4 yang mengatur tentang kerahasiaan kertas kerja:

“Setiap anggota harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh dalam tugasnya. Dan tidak boleh terlibat dalam pengungkapan dan pemanfaatan informasi tersebut, tanpa seizin pihak yang memberi tugas, kecuali jika itu dikehendaki oleh norma profesi, hukum, dan negara.”

 

Pengarsipan Kertas Kerja Audit

Seorang auditor pada umumnya melaksanakan 2 macam arsip kertas kerja audit untuk masing – masing klien-nya, yaitu sebagai berikut:

  1. Arsip audit tahunan untuk setiap audit yang sudah selesai dilakukan, yang disebut dengan “arsip kini (current file)”.
  2. Arsip permanen (permanent file), arsip ini dilakukan untuk data yang secara relative tidak mengalami perubahan.

Arsip kini merupakan arsip yang berisikan kertas kerja yang informasinya hanya memiliki manfaat untuk periode yang di-audit saja.

Sedangkan untuk arsip permanen berisi informasi sebagai berikut:

  1. Copy anggaran dasar dan rumah tangga klien.
  2. Bagan organisasi, luas wewenang, dan tanggung jawab para manajer.
  3. Pedoman akun, pedoman prosedur, dan data lainnya yang berkaitan dengan pengendalian intern.
  4. Copy surat perjanjian penting yang memiliki masa berlaku jangka panjang.
  5. Tata letak pabrik, proses produksi, dan berbagai macam produk organisasi.
  6. Copy notulen rapat direksi, pemegang saham, dan komite yang dibentuk oleh klien.

Pembentukan dari arsi permanen ini memiliki beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut:

  1. Untuk menyegarkan ingatan seorang auditor tentang informasi yang akan dipakai dalam kegiatan audit pada tahun – tahun yang akan datang.
  2. Untuk memberikan suatu ringkasan tentang kebijakan dan organisasi klien bagi staf auditor yang baru pertama kali menangani audit laporan keuangan klien tersebut.
  3. Untuk menghindari pembuatan kertas kerja yang sama setiap tahunnya.

Informasi yang terdapat di dalam arsip permanen ini harus selalu diupdate pada setiap kali audit.

Akhir Kata

Demikianlah pembahasan tentang kertas kerja audit. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan dan bisa bermanfaat. Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan dalam kolom komentar. Terimakasih.

 

Mastah Binsis Kami seorang Muslim dan seorang Pemimpi. Kami berprinsip bahwa ketika kami melakukan hal yang TERBAIK dengan DOA, maka yang BAIK akan TERCAPAI dengan SEMPURNA. ( Fuad & Nanda )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *