Perencanaan Keuangan Pribadi

Perencanaan adalah suatu proses menentukan tujuan, strategi meraih tujuan, dan juga seluruh langka teknis yang dibutuhkan agar tujuan bisa tercapai dengan efektif dan efisien. Keberhasilan pengelolaan keuangan ditentukan berdasarkan pada perencanaan keuangan yang baik.

Masih banyak orang yang belum bisa melakukan perencanaan keuangan dengan baik, padahal hal tersebut merupakan kunci keberhasilan pengelolaan keuangan.

Pada zaman sekarang ini semakin banyak tawaran dari berbagai industri yang ada disekeliling kita membujuk untuk membeli produk – produknya.

Di sisi lain, kita mempunyai kemampuan keuangan yang bukan kemampuan tanpa batas.

Sehingga, sangat penting bagi kita untuk melakukan perencanaan terhadap keuangan kita.

Berikut ini merupakan beberapa langkah yang bisa diaplikasikan dalam perencanaan keuangan yang baik.

Pengertian Perencanaan Keuangan

Financial Planning Standards Board menjelaskan bahwa:

“Perencanaan keuangan adalah suatu proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang dengan melalui manajemen keuangan yang terintegrasi dan juga terencana dengan baik dan matang.”

Perencanaan ini meliputi beberapa hal, yaitu sebagai berikut:

  • Manajemen arus kas,
  • Perencanaan investasi,
  • Perencanaan pengelolaan risiko dan juga asuransi,
  • Perencanaan hari tua,
  • Perencanaan pajak, dan
  • Perencanaan distribusi kekayaan, hibah, dan waris.

Tentu saja perencanaan keuangan yang baik akan mampu memberikan kebebasan finansial.

Kebebasan finansial yang dimaksud disini adalah berhasil mencapai seluruh tujuan kehidupannya dan bebas dari kesulitan keuangan akibat hutang.

Tujuan keuangan tersebut beraneka ragam dan dalam jangka waktu yang berbeda – beda pula:

  • Jangka pendek, target waktu pencapaian tujuannya kurang dari 1 tahun.
  • Jangka menengah, target waktunya adalah 1 – 5 tahun.
  • Jangka panjang, lebih dari 5 tahun.

Dalam pelaksanaannya, langkah – langkah atau tahapan yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya merupakan langkah yang dinamis.

Dengan kata lain tidak selalu harus dari langkah 1 berlanjut ke langkah 2 dan seterusnya.

Kenyataannya, urutan pelaksanaan perencanaan keuangan sering kali tidak harus berurutan, bisa saling mendahului tergantung dari kondisi dan juga situasi yang ada.

Misalnya, bisa saja tujuan keuangan mengalami perubahan ketika dipahami bahwa kondisi yang terjadi pada nyatanya tidak seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.

 

Langkah 1 Perencanaan Keuangan – Menentukan Tujuan Keuangan

Tujuan keuangan ini bisa diibaratkan sebagai tujuan suatu proyek. Dalam menentukan tujuan, alangkah lebih baiknya jika dibuat rumusan SMART, yaitu.

1.SpesificDalam membuat tujuan keuangan lebih baik menggunakan kata – kata yang lugas dan tidak mengandung makna yang ganda.
2.MeasurableHasil yang akan dicapai bisa diukur dalam bentuk angka dan mata uang yang jelas nominalnya.
3.AttainableAda kalanya jika tujuan keuangan lebih dari satu dalam jangka waktu yang sama. Apabila hal tersebut terjadi, seharunya dibuat skala prioritas. Tujuan mana yang lebih dahulu akan dicapai apabila ternyata kondisi yang terjadi tidak memungkinkan untuk meraih semua tujuan tersebut.
4.RealisticDalam membuat tujuan keuangan tentu saja tidak perlu terlalu muluk. Tujuan yang terlalu berlebihan atau muluk justru akan membuat frustasi atau bisa saja terjebak dalam situasi keuangan yang lebih buruk akibat berhutang.
5.TimelyTentukanlah jangka waktu pencapaian yang jelas.

Contoh Kasus

Untuk mempermudah penggambaran langkah 1 ini, mari kita ambil contoh tentang Zahwa.

Zahwa merupakan seorang mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jenderal Soedirman.

Pada tahun 2018, Zahwa baru masuk kuliah dan baru memulai perkuliahaan semester 1.

Apabila prestasi selama kuliahnya baik, maka diharapkan dalam jangka waktu 3 tahun yang akan datang, Zahwa sudah bisa memulai penelitian untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai persyaratan meraih gelar Sarjana Akuntansi.

Dalam hal ini Zahwa menyadari bahwa biaya untuk menyelesaikan skripsi tidak murah dan tentunya tidak mudah untuk memenuhinya.

Setelah dia melakukan konsultasi dengan mahasiswa senior dan dosennya, diperoleh sebuah gambaran bahwa biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas akhir pada saat ini adalah Rp. 12.000.000.

Supaya tidak terlalu memberatkan orang tuanya, maka Zahwa mempunyai niatan untuk melakukan persiapan pelaksanaan tugas akhir dari sekarang.

Oleh karena itu, tujuan keuangan jangka menengah yang sudah ditargetkan oleh Zahwa adalah menyiapkan biaya tugas akhir berjumlah Rp. 12.000.000.

Total biaya tersebut seharusnya diperhitungkan dengan menggunakan nilai uang dalam 3 tahun kemudian.

Hal tersebut dinamakan dengan konsep future value atau nilai uang dimasa depan.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Uang dari Internet

Konsep Future Value

Dalam menentukan tujuan keuangan, hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa nilai dari Rp. 1,00 dimasa sekarang tidak sama dengan nilai Rp. 1,00 di masa depan.

Dalam kerangka investasi, konsep tersebut dikenal dengan istilah time value of money.

Konsep tersebut memang bisa dibilang sudah tua, namun masih sangat bermanfaat sampai saat ini.

Faktor yang paling dominan dan harus diperhitungkan adalah inflasi.

Dengan kata lain, apabila biaya pembuatan tugas akhir pada saat ini adalah sebesar Rp. 12.000.000, maka akibat dari inflasi jumlah uang yang diperlukan akan bertambah.

Inflasi tersebut tentu saja membuat harga barang menjadi semakin mahal, yang berarti nilai uang menjadi semakin lemah.

Supaya bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih terarah dan terukur, maka alangkah baiknya jika melakukan perhitungan berapa kira – kira  nilai Rp. 12.000.000 pada 3 tahun kemudian dengan memperhitungkan laju inflasi.

Apabila misalnya laju inflasi meningkat sebesar 6% per tahunnya, maka biaya tugas akhir sebesar Rp. 12.000.000 menjadi Rp. 14.292.192 pada 3 tahun kemudian.

Perhitungan sederhananya adalah sebagai berikut:

WaktuNilai Awal Tahun100% + InflasiNilai Akhir Tahun
Tahun 1Rp  12.000.000,00106%Rp  12.720.000,00
Tahun 2Rp  12.720.000,00106%Rp  13.483.200,00
Tahun 3Rp  13.483.200,00106%Rp  14.292.192,00

Apabila dihitung menggunakan rumus futur value adalah sebagai berikut.

Rumus Future Value

Karena sudah diketahuinya nilai dari future value, maka Zahwa bisa membuat rencana bagaimana mengumpulkan uang selama 3 tahun supaya bisa terkumpul Rp. 14.292.192.

Sehingga, bisa dirumuskan bahwa tujuan keuangan Zahwa adalah sebagai berikut:

“Mempersiapkan biaya pembuatan tugas akhir pada 3 tahun yang akan datang yaitu pada 1 Mei 2021 dengan jumlah Rp. 14.292.192.”

Tujuan Lainnya

Dalam hidup, setiap orang tentu saja mempunyai banyak mimpi yang ingin diwujudkannya.

Demikian juga dengan Zahwa, setelah menyelesaikan Sarjana dan bekerja beberapa tahun, Zahwa mempunyai impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister.

Setelah menyelesaikan studi Magisternya, kemudian menikah dengan pesta yang megah, lalu dia ingin mempunyai rumah, menyekolahkan anak – anaknya, dan lain sebagainya.

Semua impian atau tujuan tersebut membutuhkan perencanaan keuangan yang matang dan bisa diilustrasikan sebagai berikut.

Perencanaan Keuangan Pribadi

Daftar impian atau cita – cita hidup yang dideklarasikan secara tertulis dan juga dihitung dengan benar seperti itu, tentu saja akan membuat Zahwa memahami bahwa uang yang dikeluarkan untuk meraih impiannya tersebut tidak semakin murah.

Dalam hal ini angka tidak pernah berbohong. Logika dan juga gambaran tersebut tentu saja akan membuat Zahwa semakin bersemangat dalam mendisiplinkan diri mengatur keuangan.

 

Langkah 2 Perencanaan Keuangan – Melakukan Pemeriksaan Keuangan Saat Ini

Setelah Zahwa menentukan tujuan keuangan yang akan dicapainya, maka langkah perencanaan keuangan yang selanjutnya adalah Zahwa harus melakukan pendataan mengenai keadaan keuangannya saat ini.

Hal tersebut bertujuan untuk melihat sejauh mana perbedaan yang ada antara tujuan keuangan dengan keadaan awalnya.

Memuat Laporan Arus Kas

Hal pertama yang perlu Zahwa lakukan adalah melakukan pendataan arus kas.

Laporan arus kas pada dasarnya merupakan pencatatan semua uang masuk dan juga kelar setiap harinya.

Dengan demikian apabila melakukan pendataan arus kas, maka akan mengetahui bagaimana posisi kas setiap bulannya.

perencanaan keuangan adalah

Pendataan atau pencatatan mengenai arus kas alangkah lebih baiknya apabila dilakukan dengan teliti, teratur, dan juga detail.

Hal tersebut dikarenakan catatan tersebut akan bisa membuat kita melakukan analisis pos – pos pengeluaran mana yang terlalu besar yang mungkin saja bisa dikurangi sehingga bisa menambah tabungan.

Dari catatan yang sudah dibuat tersebut bisa juga dilihat berapa besar jumlah defisit pemasukan, sehingga perlu untuk mencari tambahan penghasilan.

Oleh karena itu, apabila terjadi jarak antara pemasukan dan juga pengeluaran, terdapat 2 alternatif jalan keluar yang bisa diambil yaitu:

  • Mengurangi pengeluaran, atau
  • Mencari tambahan pemasukan.

Sebagai seorang mahasiswa, kreativitas dalam mencari tambahan penghasilan untuk menunjang perencanaan keuangan sebaiknya mulai diasah dengan tidak meninggalkan tujuan utama studi.

Ada berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan misalnya sebagai tenaga part time dalam mengumpulkan data bagi senior atau dosen yang sedang melakukan penelitian.

Ikut terlibat dalam berbagai proyek selain bisa menambah penghasilan juga bisa mengembangkan jejaring dan menambah wawasan keilmuan.

Sehingga akan memudahkan Zahwa dalam menyelesaikan proyek tugas akhirnya nanti.

Membuat Neraca Pribadi

Yang perlu dilakukan Zahwa selanjutnya untuk menunjang perencanaan keuangan pribadinya adalah dengan mencatat seluruh aset yang dimiliki dan hutang yang masih menjadi kewajiban untuk dilunasi.

Selanjutnya menghitung berapa selisih antara aset dikurangi dengan hutang. Hasilnya tersebut merupakan kekayaan bersih yang dimiliki.

Rumus Kekayaan Bersih

Aset merupakan berbagai benda berupa harta yang dimiliki dan mempunyai nilai jual. Aset ini pada dasarnya dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:

  • Aset lancar yaitu uang tunai atau yang setara. Misalnya adalah kas di tangan, tabungan, dan juga deposito.
  • Aset investasi yaitu seluruh kekayaan yang mampu memberikan keuntungan. Misalnya reksadana, saham, rumah yang disewakan, dan lain sebagainya.
  • Aset pribadi yaitu harta yang dinikmati pemakaiannya. Misalnya motor, mobil, perhiasan, peralatan dapur dan lain sebagainya.

Utang merupakan kewajiban yang harus segera dilunasi yang dibedakan menjadi 2, yaitu:

  • Hutang jangka pendek adalah hutang yang mengikat dalam jangka waktu maksimal 3 tahun.
  • Hutang jangka panjang adalah hutang yang mengikat dalam kurun waktu lebih dari 3 tahun.

Neraca Pribadi

Berdasarkan contoh tersebut, maka nilai kekayaan bersih yang dimiliki oleh Zahwa adalah sebesar Rp. 900.000.

Jumlah tersebut didapatkan dari selisih nilai aset sebesar Rp. 13.400.000 dengan total hutang sebesar Rp. 12.500.000.

Menghitung Rasio Kesehatan Keuangan

Setelah memperoleh data mengenai pola arus kas dan kekayaan bersih, yang selanjutnya perlu dilakukan untuk menunjang perencanaan keuangan pribadi adalah dengan melakukan evaluasi bagaimana kesehatan keuangan kita.

Terdapat beberapa rasio yang bisa dipakai untuk mengetahui kesehatan keuangan kita berdasarkan Financial Planning Standards Board Indonesia, yaitu:

rasio kesehatan keuangan

  • Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas adalah rasio keuangan yang bisa digunakan untuk mengukur kecukupan aset lancar yang dimiliki.

Hal tersebut penting untuk diketahui agar kita mengetahui apakah kita mampu mengantisipasi kebutuhan mendadak atau tidak.

  • Rasio Lancar

Rasio ini digunakan untuk melakukan pengukuran terhadap kecukupan aset lancar yang dimiliki untuk melunasi hutang jangka pendek.

Apabila hasil dari rasio ini kurang dari (<) 1 artinya secara teknis orang tersebut belum mampu untuk melunasi hutang jangka pendeknya.

  • Rasio Tabungan

Rasio tabungan adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan menabung yang disisihkan dari penghasilan yang ada.

Sehingga, semakin besar angka rasio ini, maka diharapkan akan semakin besar pula keinginan untuk meraih tujuan keuangan.

  • Rasio Hutang

Merupakan rasio yang digunakan untuk melakukan pengukuran seberapa besar harta yang diperoleh dari hutang.

Semakin besar angka dari rasio ini, maka akan semakin besar pula beban keuangan untuk melunasinya dan semakin besar pula risiko keuangan apabila karena suatu hal terjadi gagal bayar.

  • Rasio Pelunasan Hutang

Adalah rasio untuk mengukur seberapa besar alokasi penghasilan yang digunakan untuk membayar hutang.

Semakin besar angka rasio ini, maka akan semakin berat juga beban arus kas.

  • Rasio Solvensi

Rasio solvensi erupakan rasio untuk mengukur kemampuan membayar seluruh hutang dengan menggunakan kekayaan bersih yang dimiliki.

  • Rasio Investasi

Rasio investasi adalah rasio untuk mengukur seberapa besar aset yang dimiliki yang digunakan secara produktif untuk mengakumulasi kekayaan.

Semakin kecil angka dari rasio ini, maka semakin tidak produktif aset yang dimiliki untuk mengakumulasi harta.

Seluruh rasio tersebut tentu saja bukan merupakan suatu kerharusan untuk dipenuhi seluruhnya.

Pada tahapan kehidupan tentu saja ada kalanya beberapa rasio tidak bisa dipenuhi dengan ideal, akan tetapi masih bisa dimasukkan sebagai suatu toleransi.

Misalnya pada saat sebuah keluarga muda seda memulai kariernya, tetapi harus mendanai kehidupan rumah tangganya yang masih dalam masa pertumbuhan, biasanya kempuan menabung akan menjadi lebih terbatas.

Apabila terdapat satu rasio yang melemah, maka seharusnya terdapat alternatif yang perlu dipersiapkan supaya risiko atas pelmahan tersebut bisa dikompensasikan.

Seringkali mau tidak mau tujuan keuangan perlu diubah supaya bisa mengakomodasi keterbatasan yang ada.

Dalam contoh kasus kehidupan Zahwa, biasanya keadaan keuangan masih sangat sederhana, sebatas pada pengaturan arus kas, hal tersebut karena biasanya hutang pembelian aset masih ditutupi orang tua.

Akan tetapi bagi mahasiswa lain yang memang harus melakukan semuanya sendiri dan tidak mau merepotkan atau mengandalkan orang tua, maka rasio – rasio tersebut harus dipenuhi semaksimal mungkin.

 

Langkah 3 Perencanaan Keuangan – Mengumpulkan Data yang Relevan

Langkah perencanaan keuangan pribadi yang selanjutnya adalah dengan mengumpulkan informasi atau data yang relevan.

Informasi data yang relevan tersebut terdiri dari beberapa hal, yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Profil Risiko

Pemahaman mengenai profil risiko ini sangatlah penting dalam hubungannya untuk memilih cara yang paling sesuai untuk bisa meraih tujuan keuangan yang sudah ditentukan terutama dalam memilih instrumen investasi.

Profil risiko ini diartikan sebagai suatu toleransi terhadpa suatu risiko yang mungkin saja bisa terjadi.

Dengan kata lain, profil risiko merupakan sejauh mana seseorang bersedia untuk menanggung risiko yang bisa saja terjadi dari investasi yang dilakukannya.

Apabila toleransi risikonya rendah artinya orang tersebut selalu memilih investasi yang sangat aman dengan kemungkinan terjadinya risiko kecil dan keuntungan yang di dapat pun kecil, begitu juga sebaliknya.

Perlu diketahui bahwa pengukuran terhadap profil risiko ini masih belum ada ketentuan atau tolak ukur bakunya.

Biasanya setiap lembaga keuangan membuat alat ukur tersendiri untuk dapat mengetahui profil risiko dari nasabahnya supaya bisa membantu dalam memilihkan instrumen investasi yang lebih cocok.

Pada dasarnya risiko tersebut hanyalah persepsi akan suatu kemungkinan terjadinya kerigian, dimana kerugian tersebut belum tentu terjadi.

Persepsi tersebut tentunya bisa dikendalikan dengan baik, apabila seseorang bisa memahami pengelolaan investasi tersebut.

Waren Buffet dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di sebuah universitas pada tahun 2014 mengatakan bahwa:

Risk comes from not knowing what you are doing.”

Risiko yang mungkin saja terjadi bisa saja akan semakin tinggi apabila seseorang tidak memahami investasi apa yang sedang dilakukan.

Semakin seseorang memahmi dengan baik investasi yang dilakukannya, maka akan semakin bisa seseorang tersebut dalam mencari cara untuk menghindari terjadinya kerugian.

Sehingga risiko investasi akan bisa diantisipasi atau dikelola dengan baik sehingga risiko terjadinya kerugian akan bisa diminimalisasi.

Profil Kepribadian

Dalam perencanaan keuangan pribadi, mengetahui profil pribadi merupakan suatu hal yang penting.

Perlu diketahui bahwa dalam pemilihan jalan untuk meraih tujuan keuangan perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu sebagai berikut:

  • Preferensi khusus, misalnya seperti agama, adat, kebudayaan, dan lain sebagainya.
  • Pengalaman traumatik seseorang yang terjadi di masa lalu, yang bisa membuatnya menjadi antipati secara subjektif terhadap suatu instrumen investasi dan melakukan generalisasi sehingga menjadi anti terhadap seluruh investasi sejenis.
  • Pengaruh dari orang – orang yang ada di sekitar lingkungan yang ikut berperan dalam penentuan pengambilan keputusan.
  • Kapasitas dari sumber penghasilan seseorang. Apabila sumber penghasilannya lebih stabil, maka instrumen investasi yang akan dipilihnya lebih terencana untuk jangka yang lebih panjang.

Melanjutkan contoh sebelumnya, apabila Zahwa merupakan seseorang yang sama sekali tidak mau menerima risiko dan karena pertimbangan berbagai hal tidak bersedia untuk melakukan investasi.

Sehingga, satu – satunya yang menjadi pilihan bagi Zahwa adalah tabungan.

Pada dasarnya semua hal ada risikonya masing – masing, investasi yang paling aman sekalipun tidak bebas dari risiko.

Bahkan pemilihan Zahwa atas tabungan pun ada risikonya yaitu uangnya tidak akan berkembang, sehingga dia harus lebih banyak menyisihkan uangnya untuk ditabung.

Dalam hal ini Zahwa perlu membuat suatu perhitungan mengenai perbandingan antara berbagai jenis instrumen keuangan yang ada.

Berikut ini merupakan contoh perbandingan hasil dari beberapa instrumen keuangan.

perbandingan jenis instrumen keuangan

Walaupun terlihat bahwa tabungan tidak memberikan imbal hasil yang signifikan, akan tetapi menabung ini perlu dilakukan dengan disiplin.

Hal tersebut dikarenakan dengan menabung seseorang bisa mempunyai modal untuk melakukan investasi dan bisa juga untuk membentuk dana darurat.

Dana darurat adalah dana yang sewaktu – waktu bisa dipakai untuk kebutuhan yang sangat mendadak.

Selain itu, dengan manabung seseorang juga bisa mencapai tujuan keuangan tertentu.

Misalnya, terdapat beberapa produk yang ada di bank yang khusus berupa produk tabungan untuk tujuan pendidikan yang akan memberikan hasil pada jangka waktu tertentu.

Profil Instrumen Investasi

Untuk bisa membuat tabel perbandingan seperti yang ada di atas, maka Zahwa perlu mengetahui banyak informasi tentang beberapa hal dari setiap instrumen investasi, yaitu:

  • Kinerja dalam jangka waktu tertentu,
  • Kredibilitas,
  • Karakteristik,
  • Unsur perpajakan,
  • Administrasi,
  • Legalitas,
  • Dan kemudahan likuiditas.

Mengetahui profil instrumen investasi ini sangat penting dalam proses perencanaan keuangan pribadi.

Wajib hukumnya bagi setiap investor untuk mengetahui profil instrumen investasi terlebih dahulu sebelum melakukan investasi.

Hal tersebut agar terhidar dari investasi bodong yang bisa menyebabkan tidak bisa terwujudnya tujuan keuangan.

Berikut ini merupakan beberapa tawaran investasi yang perlu dihindari:

1Terlalu berlebihan atau menggiurkan, dengan imbal hasil yang besar dan dalam waktu yang singkat.
2Informasi mengenai apa yang dilakukan dalam pengelolaan uangnya sangat sedikit, bahkan sering tidak ada informasi. Para investor tidak diberitahu dananya akan diinvestasikan pada bidang apa.
3Investor diwajibkan untuk mencari investor baru untuk bergabung. Biasanya semakin banyak investor baru yang diajak bergabung, maka akan semakin besar keuntungan yang akan diterima.
4Usaha investasi bodong ini muncul tanpa diketahui bagaimana sejarah pendiriannya, tidak seperti perusahaan pada umumnya yang mempunyai histori jelas.
5Tidak jelasnya bisnis dan jenis usahanya.
6Bisanya bisnis ini didukung oleh tokoh masyarakat maupun artis untuk memikat para investor supaya bergabung.

Dalam hal ini tentu saja para investor dituntut untuk kritis dalam menilai suatu tawaran investasi.

Apabila ada tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan yang terlalu indah biasanya ada sesuatu yang tidak wajar di dalamnya.

Hal tersebut dikarenakan bisnis yang wajar merupakan bisnis yang sesuai dengan kaidah supply and demand.

Seharusnya terdapat kebutuhan yang menjadi latar belakang atau alasan keberadaan supply dari usaha bisnis.

Tanpa adanya suatu kewajaran, maka akan selalu terdapat bahaya di dalamnya.

Alokasi Aset

Dalam melakukan perencanaan keuangan pribadi tentu saja jangan sampai melupakan alokasi aset.

Setelah memahami tentang beberapa alternatif investasi, alangkah lebih baiknya jika melakukan diversifikasi jenis instrumen investasi.

Artinya investasi dilakukan di beberapa bentuk instrumen investasi, misalnya investasi di saham dicampur dengan investasi di reksadana.

Diversifikasi atau pencampuran tersebut tentu saja mempunyai tujuan untuk meminimalkan risiko yang mungkin saja terjadi.

Hal tersebut tentu saja membutuhkan prinsip manajemen risiko yaitu tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis investasi saja.

Sehingga, apabila terjadi suatu kondisi yang dimana berakibat pada turunnya suatu jenis investasi, maka jenis investasi yang lain tidak akan terkena dampaknya.

Tentu saja dalam pemilihan ramuan alokasi aset, perlu disesuaikan dengan beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

  • Jangka waktu investasi

Apabila jangka waktu investasi kurang dari 1 tahun, maka alangkah lebih baiknya apabila dana diinvestasi di pasar uang.

Jika untuk jangka waktu 3 – 5 tahun, maka alokasi aset bisa mempertimbangkan pendapatan tetap, pasar uang, dan sedikit dialokasikan ke saham.

Sedangkan apabila untuk jangka waktu yang lebih dari 5 tahun, maka bisa menabung saham perusahaan yang mempunyai fundamental bagus.

  • Profil toleransi terhadap risiko

Semakin tinggi atau besar potensi keuntungan yang diharapkan, maka akan semakin agresif risiko yang harus dihadapi, demikian juga sebaliknya.

Berikut ini merupakan contoh kombinasi alokasi aset tetap dengan potensi keuntungan yang akan diperoleh dan juga risiko yang membayanginya.

contoh perencanaan keuangan

 

Langkah 4 – Membuat Rencana Keuangan, Pelaksanaan, dan Review

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, maka perencanaan keuangan pribadi yang selanjutnya adalah dengan mulai membuat rencana investasi dan tabungan yang sudah menjadi pilihannya.

Akan tetapi, selain harus memperhatikan dari segi risiko, perlu dipertimbangkan juga untuk mempersiapkan perlindungan terhadap risiko yang menyebabkan hasil investasi menjadi terganggu.

Misalnya saja risiko terserang penyakit, kematian, kecelakaan, dan lain sebagainya.

Tentu saja berbagai risiko tersebut tidak bisa ditebak kapan akan terjadi, tidak juga bisa dihindari, akan tetapi bisa diminimalkan dampaknya.

Salah satu produk perlindungan yang bisa mengurangi dampak dari risiko tersebut adalah asuransi.

Dalam contoh kasus Zahwa yang masih belum mendiri dan belum mempunyai tanggungan, maka alangkah lebih baik jika memilih asuransi yang melindungi dari risiko yang mendasar seperti kesehatan, kecelakaan, dan lainnya.

Misalnya, asuransi kesehatan dibutuhkan Zahwa untuk mengantisipasi biaya perawatan apabila Zahwa terpaksa di rawat di rumah sakit.

Sehingga, biaya perawatan rumah sakit tersebut tidak membuat Zahwa terpaksa menjual aset investasinya untuk membayar biaya rumah sakit.

Tentunya biaya untuk premi asuransi ini harus dimasukkan dalam anggaran pengeluaran Zahwa sebagai pengeluaran yang rutin dilakukan dan penting.

Alangkah lebih baiknya anggaran untuk premi asuransi ini tidak dikorbankan untuk bersenang – senang.

Akhirnya, setelah melakukan perencanaan investasi dan juga perlindungan, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah disiplin dalam melaksanakan rencana tersebut.

Hasil dari perencanaan keuangan pribadi ini seharusnya di-review secara berkala, misalnya setiap 4 bulan sekali.

Hal tersebut bertujuan supaya bisa diperbaiki beberapa hal yang tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.

“Sebetulnya dalam menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan dibutuhkan kompetensi perencanaan keuangan pribadi yang baik, untuk membantu dalam mencari solusi untuk mencapai tujuan keuangan.”

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang langkah – langkah perencanaan keuangan pribadi yang baik. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan saja di kolom komentar, terimakasih.

Tinggalkan komentar