Permintaan dan Penawaran

Dalam dunia ekonomi tentunya tidak akan terlepas dari yang namanya permintaan dan penawaran. Dimana kedua istilah tersebut selalu ditemukan ketika melakukan kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi.

Contohnya adalah dalam kegiatan transaksi jual beli yang ada di pasar dan kegiatan ekspor impor. Permintaan dan penawaran ini menjadi satu kesatuan yang tentunya tidak bisa berdiri sendiri.

Permintaan (demand) adalah sejumlah jasa atau pun barang yang ingin dan mampu untuk dibeli oleh konsumen, pada berbagai macam tingkatan harga dan pada waktu tertentu.

Sedangkan penawaran (supply) adalah sejumlah barang atau pun jasa yang ditawarkan oleh para penyedia atau penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu.

Nah untuk lebih jelasnya tentang permintaan dan penawaran, langsung simak pembahasan-nya berikut ini.

Pengertian Permintaan Menurut Para Ahli

Untuk lebih jelas pemahaman tentang pengertian permintaan, berikut merupakan beberapa pendapat dari para ahli.

Sugiarto (2002)

“Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang diminta oleh pasar. Hal tersebut berasal dari asumsi bahwa masing – masing manusia mempunyai suatu kebutuhan.

Karena mempunyai kebutuhan tersebut, maka terciptanya permintaan barang atau jasa sebagai pemenuh kebutuhan manusia.”

Raharja (2015)

“Permintaan adalah keinginan konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu.”

Sarnowo dan Sunyoto (2013:1)

“Permintaan adalah jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu.”

Oka A. Yoeti (2008)

“Permintaan adalah keinginan seseorang (konsumen) terhadap barang – barang atau jasa tertentu yang diperlukan atau diinginkan.”

Gilarso (2007)

“Dalam ilmu ekonomi permintaan selalu memiliki arti tertenti, yaitu selalu menunjuk pada hubungan tertentu antara jumlah suatu barang yang akan dibeli orang dan harga barang tersebut.

Permintaan adalah jumlah dari suatu barang yang mau dan mampu dibeli pada berbagai kemungkinan harga, selama jangka waktu tertentu, dengan anggapan berbagai hal tetap sama atau ceteris paribus.”

 

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan

Permintaan dari seorang konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang berada di pasaran ditentukan oleh beberapa faktor. Berikut merupakan beberapa faktor tersebut.

1. Harga Barang Itu Sendiri

Apabila harga suatu barang semakin rendah atau murah, maka permintaan seseorang terhadap barang tersebut akan meningkat. Begitu juga sebaliknya jika harga tinggi, maka permintaan akan rendah.

Hal tersebut merupakan hukum permintaan. Tentang hukum permintaan akan dibahas selanjutnya dalam artikel ini.

2. Harga Barang Lain yang Terkait

Harga barang lain juga bisa menjadi faktor yang dapat mempengaruhi permintaan terhadap suatu barang, namun kedua barang tersebut harus mempunyai suatu kaitan atau berhubungan.

Keterkaitan 2 macam barang tersebut bisa bersifat substansi (pengganti), atau bersifat komplementer (pelengkap).

Jika penurunan harga barang yang satu dapat menyebabkan penurunan permintaan terhadap barang yang lain, maka ke-2 barang tersebut bersifat substansi.

Dan jika penurunan harga suatu barang dapat menyebabkan kenaikan permintaan terhadap barang yang lainnya, maka ke-2 barang tersebut bersifat komplementer.

3. Tingkat Pendapatan Perkapita

Tingkat pendapatan perkapita ini bisa menggambarkan daya beli masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendapatan perkapita, maka daya beli akan semakin tinggi pula, begitu juga sebaliknya.

Apabila daya beli tinggi, maka permintaan terhadap suatu barang akan semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya, jika daya beli rendah, maka permintaan akan suatu barang akan rendah.

Jika permintaan terhadap suatu barang rendah pada saat pendapatan rendah, maka barang tersebut disebut sebagai barang normal (normal goods).

Jika permintaan terhadap suatu barang tinggi pada saat pendapatan rendah, maka barang tersebut disebut dengan barang inferior (inferior goods).

4. Selera / Kebiasaan Konsumen

Selera atau kebiasaan dari masyarakat juga bisa mempengaruhi permintaan terhadap suatu barang. Selera dari masyarakat bisa disebabkan karena perubahan umum, pendapatan, lingkungan, dan lain sebagainya.

5. Jumlah Penduduk

Permintaan dari suatu barang berkaitan secara positif dengan jumlah penduduk. Artinya semakin banyak jumlah penduduk, maka akan semakin banyak pula permintaan terhadap suatu produk di daerah tersebut.

6. Perkiraan Harga di Masa Depan

Jika seseorang memperkirakan atau memprediksi-kan bahwa harga suatu barang akan naik di masa depan, maka orang tersebut akan mempunyai kecenderungan membeli barang tersebut sekarang.

Oleh karena itu akan mendorong orang untuk membeli lebih banyak pada saat sekarang dengan alasan untuk menghemat belanja di masa depan.

7. Distribusi Pendapatan

Apabila distribusi pendapatan buruk, hal tersebut berarti daya beli secara keseluruhan melemah yang menyebabkan permintaan terhadap suatu barang menurun.

Yang dimaksud distribusi pendapatan buruk adalah jika pendapatan hanya diterima atau pun dinikmati oleh sekelompok orang tertentu saja.

8. Berbagai Usaha Produsen dalam Meningkatkan Penjualan

Dalam perekonomian yang semakin modern ini, bujukan dari para produsen atau penjual untuk membeli produknya sangatlah besar dalam mempengaruhi masyarakat.

Misalnya seperti iklan atau promosi, yang dapat memungkinkan masyarakat untuk bisa mengenal suatu barang baru atau menyebabkan permintaan terhadap barang tersebut.

 

Jenis – Jenis Permintaan

Terdapat 2 jenis permintaan, yaitu sebagai berikut.

1. Menurut Daya Beli

Berdasarkan daya beli permintaan bisa dibedakan menjadi 3 macam yaitu sebagai berikut.

  • Permintaan Efektif

Adalah permintaan terhadap suatu barang atau jasa yang disertai oleh daya beli atau kemampuan membayar dan konsumen membutuhkan barang atau jasa tersebut.

  • Permintaan Absolut

Adalah permintaan terhadap suatu barang atau pun jasa yang tidak disertai dengan kemampuan daya beli atau kemampuan untuk membayar.

Contohnya, Budi ingin membeli mobil. Namun uang dia miliki tidak mencukupi untuk membeli mobil yang dia inginkan. Oleh karenanya, keinginan Budi untuk membeli mobil tidak bisa terpenuhi.

  • Permintaan Potensial

Adalah permintaan terhadap suatu barang atau jasa yang disertai dengan kemampuan daya beli atau kemampuan untuk membayar, namun konsumen masih mempertimbangkan apakah akan membeli barang atau jasa tersebut.

Contohnya, Fuad sebetulnya memiliki uang yang cukup untuk membeli sebidang tanah, akan tetapi dia masih belum mempunyai keinginan untuk membeli tanah tersebut.

2. Menurut Jumlah yang Melakukan Transaksi

  • Permintaan Individu

Adalah permintaan yang berasal dari seseorang individu terhadap barang atau pun jasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Misalnya, Zahwa adalah seorang ibu rumah tangga membeli beras dan sayur untuk makan siang dia bersama dengan keluarga tercinta-nya.

  • Permintaan Kolektif / Kelompok / Pasar

Adalah permintaan yang berasal dari sekelompok orang atau masyarakat akan suatu barang atau jasa yang terjadi secara bersama – sama atau dengan kata lain permintaan yang dilakukan oleh konsumen secara keseluruhan dalam pasar.

 

Hukum Permintaan (The Law of Demand)

Hukum permintaan berbunyi bahwa:

“Apabila harga suatu barang naik, maka jumlah barang yang diminta akan turun, ceteris paribus (jika hal-hal lain tetap)”.

Yang dimaksud dengan hal-hal lain adalah variabel-variabel lain yang bisa mempengaruhi jumlah barang yang diminta selain harga barang yang bersangkutan.

Contoh yang termasuk variabel lain dalam hukum permintaan adalah tingkat pendapatan konsumen, selera konsumen, harga barang lain selain barang yang dibicarakan, jumlah penduduk, pengeluaran iklan, rancang bangun, saluran distribusi, dan lain sebagainya.

permintaan dan penawaran

Keterangan:

P = Tingkat Harga

Q = Jumlah Barang

Hukum permintaan membentuk kurva permintaan, karena harganya menghubungkan variabel harga barang dan jumlah barang yang diminta.

Kurva permintaan dapat dilihat pada gambar di atas, dimana sumbu horizontal menunjukan jumlah barang yang diminta dan sumbu vertikal menunjukan tingkat harga.

Kurva permintaan juga dapat digambarkan dengan sumbu horizontal menunjukan jumlah barang yang diminta dan sumbu vertikal menunjukan jumlah barang yang diminta.

Namun perlu untuk dimengerti bahwa kurva ini hanya menunjukan adanya hubungan antara variabel harga dan jumlah barang yang diminta. Dimana hubungan tersebut bersifat negatif.

Bersifat negatif disini berarti apabila harga tinggi, maka jumlah yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah yang diminta banyak.

Jadi sesuai dengan hukum permintaan kita dapat menggambarkan kurva permintaan itu dengan lereng yang negatif.

Artinya pada tingkat harga tinggi (P0), jumlah barang yang diminta rendah (Q0). Dan pada tingkat harga yang lebih rendah (P1), jumlah barang yang diminta meningkat menjadi (Q1).

Hubungan Harga dan Jumlah Barang

Dalam melihat hubungan sebab akibat dapat dinyatakan bahwa tingkat harga adalah variabel bebas dan jumlah yang diminta merupakan variabel yang dipengaruhi tingkat harga.

Artinya apabila tingkat harga turun maka jumlah yang diminta akan meningkat dan apabila tingkat harga naik maka jumlah yang diminta turun.

Persamaan Fungsi Permintaan

Dalam persamaan fungsi permintaan P = f(Q), P disebut sebagai variabel tidak bebas, dan Q sebagai variabel bebas. Sedangkan dalam persamaan Q = f(P), Q adalah variabel tidak bebas  dan P merupakan variabel bebas yang akan menentukan tinggi rendahnya Q.

Pengertian kurva permintaan dan fungsi permintaan itu berbeda. Fungsi permintaan sesungguhnya menunjukan hubungan antara variabel tidak bebas dan semua macam variabel bebas yang dapat mempengaruhi besarnya variabel tidak bebas. Berikut merupakan fungsi permintaan:

permintaan dan penawaran

Keterangan:

Q = Jumlah barang yang diminta

P = Harga Barang

A = Barang A

B-Z = Barang B sampai dengan barang Z

I = Tingkat pendapatan konsumen

T = Selera

A = Pengeluaran perusahaan untuk iklan

N = Jumlah penduduk

Berdasarkan atas hubungan antara variabel bebas dan variabel tidak bebas dalam fungsi permintaan dan hukum permintaan dapat dihipotesiskan sebagai berikut:

1. Harga Barang yang Diminta (PA)

Harga barang ini berhubungan terbalik dengan jumlah barang itu sendiri. Yaitu jika harga barang A meningkat, maka jumlah barang A yang diterima akan turun ceteris paribus, dan sebaliknya.

2. Harga Barang Lain (PB-Z)

Barang lain mempunyai hubungan dengan barang A sebagai barang pengganti/pelengkap. Harga barang pengganti memasuki fungsi permintaan barang A.

Hal tersebut karena adanya kesediaan konsumen untuk membeli barang yang sifatnya pengganti (substitusi) barang A apabila terjadi perubahan harga relatif antara barang-barang tersebut.

Jika harga barang pengganti meningkat, harapannya adalah jumlah barang A yang diminta akan meningkat pula.

Hal tersebut disebabkan oleh kecenderungan konsumen mengurangi konsumsi barang pengganti karena harganya relatif mahal. Dan akan menggantinya dengan barang A yang harganya relatif murah.

Barang komplementer (pelengkap) adalah barang yang dikonsumsi bersama-sama dengan barang A. Apabila harga barang pelengkap meningkat, maka jumlah barang pelengkap yang diminta akan turun.

Dan yang diharapkan adalah jumlah barang A yang diminta turun. Akibatnya untuk mengkonsumsi 2 macam barang yang saling melengkapi pengeluaran konsumen menjadi lebih tinggi jika salah satunya mengalami kenaikan harga dan jumlah yang diminta tidak berkurang.

3. Advertensi (Iklan) dan Promosi

Kegiatan advertensi (iklan) dan promosi oleh penjual barang A diharapkan meningkatkan jumlah barang A yang diminta oleh konsumen. Karena kegiatan promosi itu dimaksudkan untuk mempengaruhi selera dan pola preferensi konsumen.

Advertensi barang pengganti akan mempunyai dampak dampak negatif terhadap jumlah barang A yang dijual. Hal tersebut karena konsumen diharapkan untuk berpindah dari konsumsi barang A ke konsumsi barang pengganti.

Sebaliknya advertensi barang komplementer/pelengkap akan mempunyai dampak positif. Hal tersebut dikarenakan konsumen akan membeli barang A dan barang komplementer itu bersama-sama dalam jumlah yang lebih banyak dan proporsional sifatnya.

4. Kualitas Barang dan Rancang Bangun (Design)

Konsumen selalu menghargai kualitas dan rancang bangun yang bagus. Dan konsumen diharapkan membeli lebih banyak barang jika mereka mengerti barang itu berkualitas tinggi dan dirancang untuk banyak penggunaan.

Serta barang tersebut tampak baik dipandang mata, namun harga harus tetap sama. Kualitas barang ini dapat dirancang oleh perusahaan yang menghasilkannya.

Dan dapat ditingkatkan dengan pelayanan yang baik, pemberian garansi, jaminan selama beberapa waktu tertentu atau perusahaan didukung dengan pegawai yang terlatih baik.

Selanjutnya pengertian konsumen mengenai kualitas dan rancang bangun ini dapat ditingkatkan lagi melalui advertensi (iklan) dan promosi.

5. Saluran Distribusi dan Tempat Penjualan

Permintaan total terhadap hasil produksi perusahaan secara langsung dipengaruhi oleh jumlah tempat penjualan dan lokasi saluran penjualan tersebut.

Semakin banyak saluran penjualan akan semakin banyak konsumen yang dapat dijangkau oleh perusahaan.

Hal tersebut juga dapat memungkinkan adanya pelayanan yang lebih memuaskan. Tentunya lokasi saluran penjualan juga sangat menentukan volume penjualan.

Kalau toko atau warung terletak di daerah yang ramai lalu lintas-nya biasanya penjualan akan lebih rendah dibandingkan dengan lokasi yang berada di sekitar pusat perbelanjaan.

6. Penghasilan Konsumen

Hubungan antara penghasilan konsumen dan kualitas barang yang diminta dapat positif atau pun negatif. Hal tersebut tergantung macam barang yang dihadapi konsumen dan tingkat penghasilan konsumen.

Jika sebagian besar konsumen menilai suatu barang sebagai barang yang dianggap rendah/inferior, maka permintaan mereka akan berkurang jika ada kenaikan dalam tingkat penghasilan mereka dan sebaliknya.

Di lain pihak jika barang itu normal atau superior, maka jika penghasilan konsumen meningkat, jumlah barang yang diminta pun kan meningkat.

7. Selera dan Preferensi Konsumen

Selera dan juga preferensi konsumen bisa mengubah permintaan akan suatu barang. Semakin tinggi selera konsumen terhadap suatu barang, maka semakin banyak jumlah barang yang diminta. Selera konsumen ini dapat dinyatakan dalam indeks preferensi konsumen.

Indeks preferensi konsumen dapat dibuat dan diperbaharui setiap saat dengan dasar survey mengenai tingkah laku konsumen terhadap barang yang bersangkutan.

Jika dari survey itu ditemukan kecenderungan konsumen semakin menghargai barang yang dihasilkan perusahaan, atau sebaliknya maka perubahan preferensi tersebut dapat direkam dalam indeks preferensi konsumen.

8. Harapan konsumen

Harapan konsumen terhadap harga dan tersedianya barang dimasa depan, serta kemungkinan substitusinya akan mempengaruhi permintaan barang tersebut.

Sebagai contoh jika kita merasa harga bensin akan naik, maka kita cenderung untuk menambah permintaan terhadap bensin pada saat ini.

Harapan konsumen dalam hubungannya dengan harga barang di masa yang akan datang memberikan dampak positif pada perusahaan.

Hal tersebut terjadi jika konsumen merasa pesimis, sehingga konsumen akan meminta lebih banyak barang pada saat ini.

Dan akan memberikan dampak negatif bagi perusahaan jika konsumen merasa optimis, karena konsumen akan meminta lebih sedikit barang tersebut pada saat ini.

9. Faktor – Faktor Lain

Setiap fungsi permintaan mempunyai himpunan variabel-variabel penentu yang mencerminkan alasan mengapa orang membeli suatu barang. Misalnya permintaan payung di suatu pasar tertentu tergantung pada curah hujan di daerah tersebut.

Kebijakan pemerintah juga dapat mempengaruhi permintaan akan suatu barang. Misalnya terdapat keharusan memakai baju batik korpri pada setiap tanggal 17, anak Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah diwajibkan mengenakan seragam nasional.

Pemerintah juga dapat mengenakan tarif impor untuk melindungi industri barang tertentu dalam negeri.

Contohnya industri Karoseri mobil mendapat perlindungan dengan adanya kebijakan pemerintah yang melarang mobil jadi masuk ke Indonesia, sehingga akan meningkatkan permintaan terhadap mobil rakitan dalam negeri.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari berbagai macam variabel penentu permintaan, dapat digolongkan menjadi 4 variabel yaitu:

  • Variabel strategis

Yang termasuk kedalam variabel ini yaitu semua variabel yang dikuasai oleh produsen. Seperti harga barang yang bersangkutan, advertensi, kualitas barang dan rancang bangun, serta saluran distribusi barang.

Variabel ini adalah variabel yang dapat digunakan secara langsung untuk mempengaruhi permintaan terhadap barang yang dihasilkan oleh perusahaan.

Oleh karena itu variabel ini disebut pula sebagai variabel yang dapat dikontrol atau diawasi langsung oleh perusahaan.

  • Variabel konsumen

Yang termasuk kedalam variabel ini yaitu semua variabel yang berada dibawah kekuasaan konsumen. Seperti tingkat pendapatan, selera, dan harapan konsumen terhadap harga di masa yang akan datang.

  • Variabel pesaing

Merupakan variabel yang langsung berhubungan dengan barang lain. Seperti harga barang substitusi dan barang komplementer, advertensi dan promosi barang lain, saluran distribusi barang lain, serta kualitas dan rancang bangun barang lain.

  • Variabel lain

Yang termasuk kedalam variabel ini adalah kebijakan pemerintah, jumlah penduduk dan cuaca.

 

Elastisitas Permintaan

Dalam melakukan analisis ekonomi secara teori atau pun praktek, sangat berguna untuk dapat mengetahui sejauh mana responsif permintaan terhadap perubahan harga.

Karena hal tersebutlah maka harus dikembangkan suatu pengukuran kuantitatif yang dapat menunjukan atau memberikan contoh yang dimana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan.

Ukuran tersebut dinamakan sebagai elastisitas permintaan. Elastisitas permintaan ini mengukur suatu perubahan relatif jumlah barang yang dibeli sebagai suatu akibat perubahan dari salah satu faktor yang dapat mempengaruhi-nya, ceteris paribus.

 

Jenis – Jenis Elastisitas Permintaan

Elastisitas permintaan ini dibedakan menjadi beberapa macam atau jenis. Elastisitas yang berhubungan dengan harga barang itu sendiri disebut dengan elastisitas harga (price elasticity of demand).

Elastisitas yang berhubungan dengan harga barang lain disebut dengan elastisitas silang (cross elasticity).

Elastisitas yang berhubungan dengan pendapatan disebut dengan elastisitas pendapatan (income elasticity).

Berikut merupakan penjelasan dari beberapa jenis elastisitas permintaan.

1. Elastisitas Harga (Price Elasticity of demand)

Elastisitas harga (Ep) adalah koefisien yang dapat menggambarkan sampai seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta jika dibandingkan dengan perubahan harga.

Berikut merupakan rumus elastisitas harga:

permintaan dan penawaran

Keterangan:

Ep = Elastisitas harga

Q1 = Kuantitas permintaan awal

Q2 = Kuantitas permintaan setelah perubahan

P1 = Harga permintaan awal

P2 = Harga permintaan setelah perubahan

∆Q = Perubahan jumlah permintaan

∆P = Perubahan harga

Angka Elastisitas Harga

  • Permintaan Elastis (Ed > 1)

Suatu permintaan bisa dikatakan elastis jika persentase dari perubahan jumlah barang yang diminta lebih besar (>) dari persentase perubahan harganya. Berikut merupakan kurva yang menggambarkan permintaan elastis.

permintaan dan penawaran

  • Permintaan In-Elastis (Ed < 1)

Suatu permintaan dikatakan in-elastis atau tidak elastis jika persentase dari permintaan lebih kecil dari persentase perubahan harga. Berikut adalah kurva yang menunjukan permintaan in-elastis.

kurva permintaan in elastis

  • Permintaan Elastisitas Kesatuan / Unitary Elasticity (Ed = 1)

Suatu permintaan dikatakan uniter jika persentase perubahan permintaan sama dengan persentase dari perubahan harga. Berikut adalah kurva elastisitas uniter atau kesatuan.

kurva Elastisitas uniter

  • Permintaan Elastisitas Sempurna (Ed = ∞)

Suatu permintaan dikatakan elastisitas sempurna jika pada suatu harga tertentu jumlah barang yang diminta tidak terbatas. Atau dengan kata lain pada harga berapa-pun, suatu barang akan habis terjual. Berikut merupakan kurva-nya.

permintaan dan penawaran

  • Permintaan In-Elastis Sempurna (Ed = 0)

Suatu permintaan dikatakan in-elastis sempurna jika konsumen tidak akan berubah permintaannya pada tingkatan harga berapapun. Berikut merupakan kurva-nya.

permintaan dan penawaran

2. Elastisitas Silang (Cross Elasticity)

Elastisitas silang adalah suatu koefisien yang memperlihatkan sampai dimana besarnya perubahan suatu permintaan terhadap suatu barang jika terjadi perubahan pada barang lainnya.

Berikut merupakan rumus elastisitas silang.

permintaan dan penawaran

Keterangan:

Ec = Elastisitas silang

∆Qx = Perubahan permintaan barang X

∆Py = Perubahan harga barang Y

Py = Harga awal barang Y

Qx = Jumlah permintaan awal barang X

Nilai yang terdapat pada elastisitas silang ini dapat menggambarkan hubungan antara barang X dan juga barang Y.

Jika nilai Ec > 0, maka hubungan barang X dan Y adalah substitusi. Artinya kenaikan harga pada barang Y akan menyebabkan harga barang X relatif lebih murah, oleh karena itu permintaan terhadap barang X meningkat.

Jika nilai Ec < 0, maka hubungan barang X dan Y adalah komplementer. Artinya X hanya bisa digunakan bersama dengan barang Y. Oleh karena itu kenaikan harga barang Y akan menyebabkan permintaan barang Y dan X menurun.

Dan jika nilai Ec = 0, maka antara barang X dan Y tidak memiliki hubungan atau netral. Artinya jika terjadi perubahan harga terhadap barang X, maka tidak akan berpengaruh terhadap permintaan barang Y begitu pula sebaliknya.

3. Elastisitas Pendapatan (Income Elasticity)

Elastisitas pendapatan (Ei) adalah suatu koefisien yang memperlihatkan sampai dimana besarnya perubahan permintaan pada suatu barang yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan konsumen.

Berikut merupakan rumus elastisitas pendapatan.

rumus elastisitas pendapatan

Keterangan:

Ei = Elastisitas pendapatan

∆Q = Perubahan kuantitas permintaan

∆I = Perubahan pendapatan

I = Pendapatan

Q = Jumlah barang

Pada umumnya nilai Ei ini bernilai positif, karena kenaikan pendapatan pada kenyataannya akan meningkatkan jumlah permintaan. Semakin besar nilai dari Ei, maka elastisitas pendapatannya semakin besar.

Barang dengan nilai Ei > 0, maka barang ini disebut dengan barang normal. Jika nilai 0 < Ei < 1, maka barang tersebut adalah barang kebutuhan pokok.

Barang dengan nilai Ei > 1 adalah barang mewah. Dan barang dengan nilai Ei < 0 yang disebut barang inferior, permintaan akan barang ini akan menurun ketika pendapatan meningkat.

 

Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Permintaan

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan perbedaan dalam elastisitas permintaan berbagai barang, faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1. Banyak Barang Pengganti yang Tersedia

Dalam suatu perekonomian terdapat banyak barang yang bisa digantikan dengan menggunakan berbagai barang lainnya yang sejenis.

Namun terdapat pula yang susah mencari barang penggantinya. Perbedaan tersebutlah yang menyebabkan perbedaan elastisitas diantara berbagai barang.

Ketika suatu barang memiliki banyak barang pengganti, maka permintaannya akan cenderung bersifat elastis. Artinya perubahan harga yang kecil dapat menimbulkan perubahan yang besar terhadap permintaan barang tersebut.

2. Persentase Pendapatan yang Dibelanjakan

Besar kecilnya bagian dari pendapatan yang dipakai untuk membeli sesuatu barang bisa berpengaruh terhadap elastisitas permintaan barang tersebut.

Semakin besar bagian yang berasal dari pendapatan yang dibutuhkan untuk membeli sesuatu barang, maka akan semakin elastis permintaan terhadap barang tersebut.

3. Jangka Waktu Analisis

Jangka waktu dalam permintaan juga bisa berpengaruh terhadap elastisitas. Semakin lama jangka waktu suatu permintaan dianalisis, maka kan semakin elastis sifat permintaan suatu barang.

 

Pengertian Penawaran Menurut Para Ahli

Untuk lebih memahami tentang pengertian penawaran, berikut merupakan beberapa pendapat dari para ahli.

T Gilarso (2003)

“Penawaran adalah jumlah dari suatu barang tertentu yang akan dijual pada berbagai kemungkinan harga selama jangka waktu tertentu, ceteris paribus.”

Hanafie (2010)

“Penawaran adalah jumlah dari suatu barang tertentu yang akan dijual pada berbagai kemungkinan harga, dalam jangka waktu tertentu, ceteris paribus.

Penawaran menunjukan jumlah maksimal yang akan dijual pada berbagai tingkat harga atau beberapa harga minimum yang masih mendorong penjual untuk menawarkan berbagai jumlah dari suatu barang.”

Sarnowo dan Sunyoto (2013:26)

“Penawaran adalah jumlah barang dan jasa yang ditawarkan pada suatu pasar tertentu dengan tingkatan harga tertentu.”

Rasul et al (2012:57)

“Penawaran adalah jumlah barang dan jasa yang ditawarkan oleh produsen pada berbagai tingkat harga.”

 

Jenis – Jenis Penawaran

Terdapat beberapa jenis penawaran, berikut merupakan penjelasannya.

1. Penawaran Sub Marginal

Adalah penawaran yang dilakukan oleh penjual yang mampu untuk menjual barang atau jasa dibawah harga pasar.

2. Penawaran Marginal

Adalah penawaran yang dilakukan oleh penjual yang mampu untuk menjual barang atau jasa sama dengan harga yang ada di pasar.

3. Penawaran Super Marginal

Adalah penawaran yang dilakukan oleh penjual yang menjual barang atau jasa diatas harga yang ada di pasar.

4. Penawaran Individu

Adalah penawaran barang dan atau jasa yang dilakukan oleh seseorang penjual atau produsen pada waktu, tempat, dan tingkatan harga tertentu.

5. Penawaran Pasar

Adalah penawaran barang dan atau jasa yang dilakukan oleh banyak penjual atau produsen pada waktu, tempat, dan tingkatan harga tertentu.

 

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Penawaran

Antara produksi dengan penawaran memiliki ikatan yang sangat erat. Berbagai hal yang menghambat dan juga mendorong aktivitas produksi akan berpengaruh terhadap jumlah penawaran.

Berikut merupakan beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap penawaran.

1. Harga Barang Itu Sendiri

Jika harga barang atau jasa yang ditawarkan mengalami kenaikan, maka jumlah yang ditawarkan akan semakin banyak atau meningkat.

Begitu juga sebaliknya, apabila harga suatu barang yang ditawarkan menurun, maka jumlah barang yang ditawarkan akan semakin turun.

2. Harga Barang Pengganti

Jika harga barang pengganti mengalami kenaikan, maka penjual akan meningkatkan jumlah barang yang ditawarkannya.

Dengan hal tersebut penjual berharap bahwa konsumen akan beralih dari barang pengganti ke barang lainnya yang ditawarkan. Hal tersebut dikarenakan harganya lebih murah.

3. Biaya Produksi

Biaya produksi ini berhubungan dengan biaya yang dipakai dalam proses produksi. Misalnya seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, dan lain sebagainya.

Jika berbagai biaya produksi tersebut naik, maka harga dari barang yang ditawarkan akan meningkat pula. Hal tersebut berakibat produsen akan menawarkan produknya dalam jumlah yang sedikit atau terbatas.

Hal tersebut dikarenakan produsen tidak ingin untuk mengalami kerugian. Sebaliknya apabila biaya produksi turun, maka produsen akan menawarkan banyak barang kepada konsumen. Dengan begitu penawaran akan meningkat.

4. Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi akan mempengaruhi pada besar kecilnya jumlah barang yang akan ditawarkan.

Munculnya teknologi yang lebih canggih dan modern akan mempermudah produsen untuk menghasilkan barang atau jasa.

Disamping itu dengan memakai berbagai mesin yang canggih akan menurunkan biaya produksi dan akan mempermudah produsen untuk menjual barang dengan jumlah yang cukup banyak.

5. Pajak

Pajak adalah peraturan dari pemerintah terhadap suatu produk yang bisa mempengaruhi terhadap tinggi rendahnya harga produksi tersebut.

Apabila pajak suatu barang tersebut tinggi, maka berakibat pada permintaan yang rendah, sehingga akan berpengaruh pula pada penawaran yang ikut rendah pula.

6. Perkiraan Harga Di Masa Depan

Perkiraan harga di masa depan mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya jumlah penawaran.

Apabila suatu perusahaan memprediksi harga barang akan naik, sedangkan pendapatan masyarakat tetap, maka perusahaan tersebut akan menurunkan jumlah barang atau jasa yang ditawarkan.

Misalnya seperti ketika krisis ekonomi, harga berbagai barang dan jasa naik, sedangkan pendapatan masyarakat relatif tetap.

Hal tersebut berakibat perusahaan akan menurunkan jumlah produksinya, karena perusahaan takut mengalami kerugian.

 

Hukum Penawaran

Hukum penawaran berbunyi:

“Jika harga dari suatu barang meningkat, maka jumlah penawaran terhadap barang tersebut pun juga akan meningkat pula”.

Jadi hukum penawaran ini akan menghasilkan kurva yang menunjukan hubungan antara jumlah yang ditawarkan dan tingkat harga barang yang bersangkutan, dengan menganggap faktor-faktor lain tetap.

Persamaan Fungsi dan Kurva Penawaran

Fungsi penawaran dapat dituliskan sebagai berikut:

Rumus fungsi penawaran

Keterangan:

QA = Jumlah barang A yang ditawarkan

PA = Harga barang A

I = Jumlah faktor produksi (input) yang tersedia

F = Keadaan Alam

X = Pajak

T = Teknologi

kurva penawaran

Kurva penawaran merupakan kurva yang menghubungkan berbagai titik kombinasi antara harga dengan jumlah barang yang diproduksi atau ditawarkan.

Kurva penawaran adalah suatu garis pembatas jumlah barang yang ditawarkan pada tingkatan harga tertentu.

Dari gambar yang ada di atas dapat diketahui ciri – ciri dari kurva penawaran. Berikut merupakan ciri – ciri kurva penawaran.

  1. Digambar mulai dari kiri bawah ke kanan atas.
  2. Bergerak menuju ke atas yaitu dari kiri ke kanan.
  3. Terdapat hubungan positif antara harga (P) dan jumlah (Q) yang ditawarkan. Artinya jika harga naik maka jumlah penawaran juga akan naik, begitu juga sebaliknya jika harga turun maka jumlah penawaran juga akan turun.

Hubungan Harga dan Jumlah Barang

Dalam fungsi penawaran tersebut tampak bahwa QA adalah variabel tidak bebas. Dan variabel-variabel seperti PA, I, F, X, dan T adalah variabel bebas.

Dalam kurva penawaran kita hanya dapat melihat hubungan antara tingkat harga barang dengan jumlah barang yang ditawarkan, sedangkan variabel lainnya dianggap tetap.

Namun terdapat hubungan yang positif antara tingkat harga dan jumlah barang yang ditawarkan. Artinya jika harga barang setinggi P0, maka jumlah yang ditawarkan adalah Q0.

Dan jika harga barang naik menjadi P1, maka jumlah barang yang ditawarkan juga meningkat menjadi Q1.

Elastisitas Penawaran

Dalam hukum penawaran dikenal dengan konsep elastisitas, yaitu tanggapan dari jumlah barang yang ditawarkan terhadap perubahan harga barang yang bersangkutan.

Koefisien elastisitas-nya dapat dihitung atas dasar rumus elastisitas pada umumnya yaitu:

rumus elastisitas penawaran

Koefisien elastisitas penawaran selalu menunjukan angka yang positif karena lereng kurva penawaran adalah positif. Atau hubungan antara tingkat harga barang dan jumlah barang yang ditawarkan adalah positif.

Apabila E>1, maka penawaran bersifat elastis. Jika E=1, penawaran bersifat unitary. Dan apabila E<1, maka penawaran bersifat tidak elastis atau in-elastis.

Kurva elastisitas penawaran

Dengan menggunakan gambar kurva di atas kita dapat menentukan tingginya elastisitas penawaran secara cepat. Caranya yaitu dengan melihat:

  1. Apakah kurva penawaran berbentuk linear.
  2. Apakah kurva penawaran melalui titik asal (titik 0).
  3. Apakah memotong sumbu vertikal.
  4. Apakah memotong sumbu horizontal.

Jika kurva melawati titik asal, maka elastisitas penawaran-nya akan sama dengan 1. Jika kurva penawaran itu memotong sumbu horizontal, maka elastisitas penawaran-nya lebih kecil dari 1.

Dan jika memotong sumbu vertical elastisitas-nya lebih dari 1.

Gambar “kurva penawaran E=1” menunjukan bahwa pada harga barang setinggi 0P0, jumlah barang yang ditawarkan sebesar 0Q0.

Kemudian kebalikan dari lereng kurva penawaran itu adalah 0Q0/AQ0. Oleh karena itu koefisien elastisitas penawaran-nya adalah:

 

Rumus koefiesien elastisitas

kurva penawaran elastis

 

Untuk keadaan penawaran pada gambar “kurva penawaran E>1”, dimana koefisien elastis-nya lebih besar dari 1. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan menarik garis pertolongan yaitu memperpanjang kurva penawaran sampai memotong sumbu horizontal pada kuadran yang negatif di titik B.

Dengan demikian dapat diketahui dengan mudah lereng dari kurva penawaran itu.

Misalnya pada harga 0P0 yaitu sebesar AQ0/BQ0, maka koefisien elastisitas penawaran-nya adalah:

Rumus koefisien elastisitas

Cara yang sama dapat dilakukan untuk menguji elastisitas penawaran yang lebih kecil dari pada 1. Yaitu jika kurva penawaran-nya memotong garis horizontal.

Kemudian jika kurva penawaran tidak berbentuk linear, maka kita dapat membuat garis singgung pada titik tertentu pada kurva penawaran yang bersangkutan.

Sehingga jika garis singgung tersebut memotong sumbu vertikal misalnya, maka jelas pada titik tersebut penawaran-nya bersifat elastis.

Akhir Kata

Demikianlah pembahasan tentang permintaan dan penawaran. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kamu. Jika ada saran, kritik, atau pertanyaan silahkan tuliskan di kolom komentar. Terimakasih

Tinggalkan komentar