Piutang Dagang dan Cadangan Kerugian Piutang

Piutang adalah salah satu unsur dari aktiva lancar yang berada dalam neraca perusahaan yang timbul karena adanya penjualan jasa, barang atau pemberian secara kredit terhadap seorang debitur.

Dalam pengertian yang lebih luas, piutang adalah tuntutan terhadap pihak lain yang berupa uang, barang, atau jasa yang sudah dijual secara kredit oleh perusahaan.

Nah, menurut terjadinya piutang, piutang dibedakan atau dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu:

  • Piutang dagang
  • Piutang non dagang
  • Piutang wesel

Pengertian Piutang Dagang

Piutang dagang (Account receivable) adalah piutang atau tagihan yang timbul karena adanya penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit atau tidak tunai.

Piutang dagang pada umumnya tidak dinyatakan dalam suatu perjanjian khusus sebagaimana halnya dengan tagihan yang lainnya.

Dengan begitu pelunasan piutang dagang ini menjadi kurang terjamin, dan juga sulit untuk diperjualbelikan atau dipindah tangankan.

Piutang dagang ini diharapkan bisa tertagih atau terlunasi dalam jangka waktu 1 tahun atau pada siklus usaha normal yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar.

Namun terkadang juga diklasifikasikan sebagai aktiva lancar tanpa memperhatikan jangka waktu tertagihnya atau jatuh temponya.

Dalam kasus tersebut jumlah piutang dagang yang jangka penagihannya lebih dari 1 tahun harus dicatat dalam catatan atas laporan keuangan pada periode selanjutnya.

Contoh

Dijual barang dagangan kepada Fa Jaya sebesar Rp.1.500.000 secara kredit dengan termin atau syarat penjualan seperti 3/10, n/30.

Transaksi tersebut akan mengakibatkan timbulnya piutang kepada Fa Jaya sebesar Rp.1.500.000.

Termin penjualan tersebut mempunyai arti jika Fa Jaya melunasi dalam jangka waktu kurang atau sama dengan 10 hari dihitung sejak tanggal terjadinya transaksi maka akan diberikan diskon atau potongan sebesar 3%.

Dan diharapkan piutang tersebut akan diterima dalam jangka waktu paling lama 30 hari setelah terjadinya transaksi.

Pengakuan Piutang Dagang

Pengakuan atau recognition adalah penentuan tentang kapan piutang harus dicatat/diakui sebagai asset atau harta.

Pada umumnya pendapatan akan diakui ketika keseluruhan dari proses untuk memperoleh pendapatan diselesaikan, ketika pendapatan direalisasikan, atau ketika pendapatan dapat direalisasikan.

Nah, piutang dagang dapat diakui atau dicatat ketika:

  1. Perusahaan memperoleh piutang dagang dari adanya transaksi penjualan kredit.
  2. Terjadinya pelunasan piutang dagang oleh pelanggan.
  3. Adanya return dan potongan dari penjualan kredit.

Pencatatan Piutang Dagang

Pencatatan pitang dagang ini bisa dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu dicatat kotor (gross methode) dan dicatat bersih (net methode).

Dicatat Kotor (Gross Methode)

Pada metode ini piutang dagang akan diakui sebesar penjualan tanpa terpengaruh oleh potongan yang diberikan.

Jika ternyata debitur mengambil potongan yang ada, maka hal tersebut akan diakui sebagai pengurang jumlah penjualan bukan sebagai pengurang jumlah piutang dagang.

Berikut merupakan prosedur penjuarnalan dengan menggunakan metode ini.

Ketika terjadi penjualan secara kredit suatu barang dagangan misalnya dengan termin 3/10, n/30

Piutang DagangRp. $$$ 
          Penjualan Rp. $$$

Ketika terjadi penerimaan pelunasan piutang dagang.

  • Jika pelunasan sudah melebihi masa potongan, yaitu lebih dari 10 hari, maka tidak usah untuk memperhitungkan potongan dan perusahaan kan menerima seluruh pelunasan yang seharusnya dibayarkan.
KasRp. $$$ 
          Piutang Dagang Rp. $$$
  • Jika pelunasan masih dalam masa potongan, maka harus memperhitungkan dan memberikan potongan untuk transaksi yang terjadi. Potongan yang terjadi yaitu 3%, maka yang diterima perusahaan adalah 97%.
KasRp. $$$ 
Potongan PenjualanRp. $$$ 
          Piutang Dagang Rp. $$$

Dicatat Bersih (Net Methode)

Dengan menggunakan metode ini piutang dagang akan diakui setelah dikurangi dengan potongan penjualan.

Apabila potongan tidak diambil oleh debitur, maka akan mengakibatkan timbulnya lebih bayar atas transaksi penjualan yang terjadi dan kelebihan tersebut diakui sebagai penghasilan lain – lain.

Ketika terjadi penjualan secara kredit suatu barang dagangan misalnya dengan termin 3/10, n/30

Piutang DagangRp. $$$ 
Potongan PenjualanRp. $$$ 
          Penjualan Rp. $$$

Ketika terjadi pelunasan piutang dagang.

  • Jika pelunasan terjadi dalam masa diskon, maka perusahaan wajib memperhitungkan dan memberikan potongan penjualan yaitu sebesar 3% kepada debitur.
KasRp. $$$ 
          Piutang Dagang Rp. $$$
  •  Jika pelunasan sudah melebihi masa diskon yaitu lebih dari 10 hari, maka tidak usah untuk memperhitungkan diskon dan perusahaan akan menerima seluruh pelunasan. Dalam hal ini bisa terjadi 2 kemungkinan, yaitu:

Potongan penjualan yang dicatat ketika terjadi penjualan sudah ditutup dari pembukuan perusahaan atau closing entries

KasRp. $$$ 
           Piutang Dagang Rp. $$$
           Laba Ditahan Rp. $$$

Potongan penjualan yang dicatat belum ditutup dari pembukuan perusahaan.

KasRp. $$$ 
           Piutang Dagang Rp. $$$
          Potongan Penjualan Rp. $$$

Pengukuran/Penilaian Piutang Dagang

Ketika akhir periode pelaporan, piutang dagang akan dilaporkan sebagai asset pada laporan posisi keuangan atau neraca.

Pada PSAK 55/IAS 39 secara umum menyarankan supaya piutang dan juga pinjaman yang diberikan diukur dengan menggunakan biaya amortisasi (amortized cost).

Namun, pada prakteknya mengabaikan factor nilai waktu uang dengan alasan materialitas, sehingga piutang dagang dapat dilaporkan dengan jumlah yang diharapkan bisa diterima pembayarannya oleh perusahaan, hal ini biasa dikenal dengan istilah nilai realisasi neto (net realizable value).

Dalam kegiatan penjualan kredit mengakibatkan terjadinya resiko piutang tak tertagih.

Nah, piutang tak tertagih ini merupakan kerugian atau beban bagi perusahaan.

Dengan adanya resiko piutang tak tertagih, hal ini menyulitkan untuk penilaian piutang karena piutang tak tertagih belum diketahui pada saat tanggal pelaporan, sehingga diharuskan untuk melakukan estimasi.

Perlakuan terhadap piutang tak tertagih dapat dilakukan dengan salah satu metode dari 2 metode berikut:

Metode Langsung (direct method), adalah metode pencatatan kerugian piutang yang langsung mengurangi jumlah piutang yang bersangkutan.

Metode tidak langsung/metoda cadangan (indirect/allowance method), adalah metode pencatatan kerugian piutang tak tertagih yang secara tidak langsung menggunakan piutang yang bersangkutan, tetapi dicatat dalam satu rekening (akun) yaitu cadangan karugian piutang.

Berikut merupakan perbedaan dari kedua metode tersebut:

metode piutang tak tertagih

Catatan

Untuk piutang yang diperkirakan tidak dapat diterima pembayarannya, dicatat dalam rekening (akun) Cadangan Kerugian Piutang.

Tetapi ada pula yang mencatat ke dalam rekening (akun) Penyisihan Piutang Tak Tertagih, bahkan ada yang mencatat dalam rekening (akun) Cadangan Kerugian Piutang Tak Tertagih atau yang lain.

Semua itu mempunyai tujuan sama, yaitu untuk memisahkan antara piutang yang diperkirakan tidak akan diterima pembayarannya dengan piutang yang diperkirakan akan dapat diterima pembayarannya.

Akun Cadangan Kerugian Piutang adalah akun lawan (contra account) terhadap Piutang Dagang.

Untuk Beban Kerugian Tak Tertagih dapat pula dicatat dengan nama Kerugian Piutang Tak Tertagih, bahkan ada yang mencatat dalam akun Beban Piutang Tak Tertagih.

Mana pun istilah yang digunakan, tidak perlu dipermasalahkan, karena memang belum ada istilah yang baku, di samping itu antara perusahaan yang satu dengan yang lain tidak selalu menggunakan istilah yang sama.

Metode Penentuan Besarnya Cadangan

Jika pencatatan kerugian piutang tak tertagih menggunakan metode tidak langsung (indirect method), dalam menentukan atau menaksir besarnya piutang yang diperkirakan tidak akan dapat ditagih, ada 2 pendekatan yaitu diantaranya:

  • Pendekatan Laba Rugi (atas dasar penjualan).
  • Pendekatan Neraca (atas dasar saldo piutang).

Pendekatan Laba Rugi (Atas Dasar Penjualan)

Dalam hal ini kerugian piutang dihitung berdasarkan persentase tertentu dari penjualan.

Mengingat bahwa timbulnya piutang disebabkan oleh penjualan kredit, maka sebaiknya kerugian piutang dihitung berdasarkan penjualan kredit.

Tetapi untuk prakteknya dapat pula dihitung dari jumlah penjualan (penjualan bersih).

Pendekatan Neraca (Atas Dasar Saldo Piutang)

Dalam hal ini, penentuan kerugian piutang dagang berdasarkan saldo piutang dapat dilakukan dengan cara:

  • Dinaikkan sampai/dijadikan persentase tertentu dari saldo piutang
  • Ditambah dengan persentase tertentu dari saldo piutang
  • Dinaikkan sampai/dijadikan suatu jumlah tertentu yang dihitung berdasarkan umur piutang.

Contoh soal

Rekening buku besar yang ada di PT Digital Site pada tanggal 31 Desember 2019, yaitu sebagai berikut:

PiutangRp.  3.800.000
Cadangan Kerugian Piutang (K)Rp.       70.000
Penjualan (75% kredit)Rp. 12.000.000
Retur penjualanRp.     400.000
Potongan penjualanRp.     200.000

Diminta

Buatlah jurnal penyesuaian per 31 Desember 2019 untuk mencatat taksiran kerugian piutang tak tertagih, jika:

Besarnya kerugian piutang tak tertagih ditentukan (pendekatan laba rugi):

  • 2,5% dari penjualan
  • 2,5% dari penjualan bersih (penjualan – return penjualan – potongan penjualan)
  • 2,5% dari penjualan kredit

Cadangan kerugian piutang ditentukan (pendekatan neraca):

  • Dinaikkan sampai 5% dari saldo piutang
  • Ditambah 5% dari saldo piutang
  • Dinaikkan sampai jumlah yang dihitung berdasarkan analisa umur piutang sebagai berikut ini:
taksiran kerugian piutang

Jawab

  • Pendekatan laba rugi
Beban Kerugian PiutangRp.300.000 
          Cadangan Kerugian Piutang Rp.300.000
(2,5% x Rp.12.000.000 = Rp.300.000)
Beban Kerugian PiutangRp.285.000 
          Cadangan Kerugian Piutang Rp.285.000
(2,5% x Rp.12.000.000 = Rp.300.000)
Beban Kerugian PiutangRp.225.000 
          Cadangan Kerugian Piutang Rp.225.000
(2,5% x 75% x Rp.12.000.000)
  • Pendekatan neraca
Beban Kerugian PiutangRp.120.000 
          Cadangan Kerugian Piutang Rp.120.000
(5% x Rp.3.800.000) – Rp.70.000)
Beban Kerugian PiutangRp.190.000 
          Cadangan Kerugian Piutang Rp.190.000
(5 % x Rp.3.800.000)
Beban Kerugian PiutangRp.133.000 
          Cadangan Kerugian Piutang Rp.133.000
(Rp.203.000 – Rp.70.000)

Catatan

Dalam hal Cadangan Kerugian Piutang dinaikkan menjadi jumlah tertentu, maka dalam membuat penyesuaian harus memperhatikan saldo akun Cadangan Kerugian Piutang yang sudah ada.

  • Jika saldo Cadangan Kerugian Piutang menunjukan saldo kredit, maka dalam membuat jurnal penyesuaian, saldo tersebut harus dikurangkan dari jumlah yang diperhitungkan.
  • Jika saldo Cadangan Kerugian Piutang menunjukan saldo debit, maka dalam membuat jurnal penyesuaian, saldo tersebut harus ditambah dengan saldo yang diperhitungkan.

Dalam hal Cadangan Kerugian Piutang ditambah dengan persentase tertentu dari saldo piutang, maka dalam membuat jurnal penyesuaian tidak perlu memperhatikan saldo Cadangan Kerugian Piutang.

Pengalihan Piutang Dagang

Pengalihan piutang adalah pada saat perusahaan mengalihkan piutang dagang yang dimiliki kepada pihak lain seperti halnya lembaga keuangan, pegadaian piutang atau bank.

Hal tersebut dengan tujuan untuk mempercepat penerimaan kas dari piutangnya tersebut.

Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi perusahaan melakukan penjualan ataupun mengalihkan piutangnya karena disebabkan beberapa hal berikut ini :

  • Keadaan dan juga kondisi perusahaan yang sedang mengalami kesulitan untuk memperoleh pinjaman dan juga tingginya tingkat bunga sehingga hal ini menyebabkan perusahaan harus mengubah piutangnya menjadi kas.
  • Penagihan piutang kepada pelanggan sering kali memakan waktu yang cukup lama dan terkadang memerlukan biaya sehingga perusahaan lebih memilih untuk menerima kas dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan yang sebenarnya.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang Piutang Dagang. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Jika ada kritik, saran, atau pertanyaan sila kan sampaikan di kolom komentar. Terima kasih.

Advertisements

Tinggalkan komentar

X

Advertisements