Risiko

Dalam kehidupan sehari – hari tentu saja kamu sering mendengar istilah “risiko” (risk).

Perlu diketahui bahwa risk ini berbeda dengan kesempatan meskipun terdapat keraguan pada keduanya.

Dalam hal ini pada kesempatan terdapat kebaikan atau keuntungan sedangkan pada risiko tidak terdapat kebaikan atau keuntungan.

Ada berbagai macam risiko misalnya risiko kebakaran, kecelakaan, dan lain sebagainya. Seluruh risk tentu saja dapat menyebabkan kerugian apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Pada dasarnya ada 2 risiko yang sudah pasti yaitu kematian dan sakit. Memang benar kedua hal tersebut pasti dihadapi oleh semua orang.

Namun, dalam kedua hal tersebut masih ada unsur ketidakpastian yaitu kapan, di mana, dan bagaimana 2 hal tersebut terjadi.

Hal tersebutlah yang melatarbelakangi sebuah risk bisa diasuransikan. Pada dasarnya risk mempunyai 3 komponen yaitu:

  • Mempunyai unsur ketidakpastian.
  • Menimbulkan suatu implikasi kerugian.
  • Timbul karena adanya satu atau beberapa sebab.

Pengertian Risiko

Berdasarkan pendapat dari Vaughan (1982) dalam bukunya yang berjudul “Fundamentals of Risk and Isurance”, yang merupakan buku yang digunakan perguruan tinggi di Amerika Serikat menjelaskan pengertian risiko bahwa:

1. Risk is the Chance of Loss

Chance of loss ini berkaitan dengan suatu exposure atau keterbukaan terhadap suatu kemungkinan kerugian.

Pada ilmu statistik, chance ini digunakan untuk memperlihatkan probabilitilas akan timbulnya suatu situasi tertentu.

Sebagian ahli lainnya tidak setuju dengan definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risk dengan tingkat kerugian.

Dalam hal chance of loss 100%, mempunyai arti bahwa kerugian merupakan sesuatu hal yang pasti sehingga risk tidak ada.

2. Risk is the Possibility of Loss

Kata possibility di sini mempunyai arti bahwa probabilitas tertentu suatu peristiwa berada diantara 0 dan 1.

Pada dasarnya definisi ini kurang cocok digunakan dalam analisis secara kuantitatif.

3. Risk is Uncertainty

Pada dasarnya uncertainty di sini bisa mempunyai sifat objektif dan juga subjektif.

Subjective uncertainty adalah penilaian seseorang atau individu terhadap suatu situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan juga sikap individu yang bersangkutan.

Sedangkan objective uncertainty dijelaskan dalan 2 definisi yaitu risk is the dispersion of actual from expected results dan risk is the probability of any outcome different from the one expected.

4. Risk is the Dispersion of Actual from Expected Results

Dalam definisi ini risiko adalah penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan.

Ahli statistik menjelaskan bahwa risk sebagai suatu derajat penyimpangan suatu nilai di sekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata – rata.

5. Risk is the Probability of Any Outcome Different From the One Expected

Dalam definisi ini risiko adalah probabilitas sesuatu outcome dengan outcome yang diharapkan.

Berdasarkan dari penjelasan tersebut, risk bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, namun probabilitas dari beberapa keluaran atau outcome yang berbeda dari yang diharapkan.

Dari beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan risiko sebagai a condition in which there is probability of adverse deviation from desired outcome that is expected of hoped for.

Artinya: suatu kejadian atau keadaan yang mengandung peluang atau kemungkinan adanya penyimpangan dari tujuan yang sudah direncanakan atau hasil yang diharapkan, yang berakibat ketidaknyamanan.

Dengan kata lain risiko adalah ketidakpastian adanya kerugian (uncertainty of loss).

Dalam dunia asuransi, setidaknya risk ini harus mengandung unsur ketidakpastian dan juga kerugian.

Ketidakpastian yang dimaksud di sini bisa dalam hal waktu, tempat, dan kepada siapa kejadian tersebut akan terjadi.

Sedangkan kerugian yang dimaksud di sini adalah harus bisa dinilai dengan menggunakan uang.

 

Tingkatan atau Karakteristik Risiko

Tingkatan atau karakteristik dari sebuah risk dapat ditentukan berdasarkan pada kombinasi sering atau tidaknya risk tersebut terjadi (frequency) dan besarnya kerugian yang ditimbulkan (severity).

Karakteristik risk tersebut bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Tingkat atau Karakteristik Risiko

Area I

Area tersebut adalah area dengan tingkat risk yang jarang terjadi dan juga mempunyai nilai kerugian yang kecil atau rendah.

Contoh dari risk ini misalnya seperti kehilangan pakaian di bagasi pesawat.

Pada umumnya risk yang ada pada area I tersebut ini bisa diterima dan juga bisa ditanggung oleh masing – masing individu.

Area II

Pada area II ini merupakan tingkatan risk yang jarang terjadi juga, tetapu mempunyai nilai kerugian yang bisa dibilang besar atau tinggi.

Contoh dari risk ini misalnya seperti jatuhnya pesawat terbang, kebakaran rumah, tenggelamnya kapal, hilangnya mobil, gempa bumi, tsunami, dan meninggalnya seseorang karena kecelakaan.

Pada umumnya risk yang ada pada area II ini membutuhkan pengalihan risiko atau asuransi.

Area III

Area ini adalah tingkatan risk yang sering terjadi akan tetapi mempunyai nilai kerugian yang kecil atau rendah.

Contoh dari risiko ini misalnya seperti kerusakan tanaman akibat hewan liar, senggolan antar kendaraan bermotor, dan pencurian makanan ringan yang terjadi di pasar swalayan.

Area IV

Area IV merupakan tingkatan risk yang sering terjadi dan mempunyai kerugian yang tinggi atau besar.

Contoh dari risiko ini misalnya seperti kebakaran pada pemukiman padat penduduk.

Risk yang ada pada area IV ini tentu saja membutuhkan peranan dari asuransi akan tetapi merupakan risk yang dihindari oleh perusahaan asuransi.

Apabila risk tersebut tetap dijamin dengan menggunakan asuransi, maka premi yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi tentu saja akan sangat mahal.

 

Klasifikasi Risiko

Untuk mempermudah dalam pengenalan risiko, perlu dilakukan klasifikasi sehingga akan mengenal karakter dari risk.

Berikut ini merupakan beberapa klasifikasi dari risk, yaitu sebagai berikut:

1. Risiko Finansial dan Non Finansial

Risk finansial adalah risk yang apabila terjadi dampak, kerugiannya bisa dinilai atau diukur dengan menggunakan uang.

Misalnya seperti risk kehilangan kendaraan bermotor dan juga kebakaran rumah.

Sedangkan risk non finansial adalah risk yang mempunyai dampak kerugian yang tidak bisa dinilai atau diukur dengan menggunakan uang.

Misalnya seperti risk kesalahan dalam memilih karir dan kesalahan dalam memilih pasangan hidup.

2. Risiko Murni dan Spekulatif

Risk murni adalah suatu risk yang jika terjadi akan menyebabkan kerugian atau dampak negatif (tidak menyebabkan keuntungan).

Misalnya seperti apabila terjadi kecelakaan kendaraan yang menyebabkan kerugian berupa rusaknya kendaraan.

Risk spekulatif adalah suatu risk yang jika terjadi bisa menyebabkan kerugian dan juga bisa menyebabkan keuntungan.

Misalnya seperti seseorang yang mempunyai investasi dalam bentuk emas, bisa menyebabkan kerugian apabila harga emas turun atau bisa menyebabkan keuntungan apabila harga emas naik.

3. Risiko Khusus dan Fundamental

Risk khusus adalah suatu risk yang terjadi hanya bersifat pribadi dan mempunyai dampak yang bisa dirasakan secara lokal saja.

Misalnya kebakaran rumah yang hanya dirasakan oleh orang yang mempunyai rumah dan lingkungan yang berada di sekitar rumah yang terbakar tersebut.

Sedangkan risk fundamental adalah suatu risk yang terjadi tidak hanya bersangkutan dengan orang tertentu saja dan jika terjadi dampak kerugiannya akan sangan luas dan bersifat katastropik.

Misalnya kerusuhan sosial yang pernah terjadi di Jakarta pada tahun 1998 dan tsunami yang pernah melanda Selat Sunda pada tahun 2018.

4. Risiko Statis dan Dinamis

Risk statis adalah berbagai macam bentuk risk yang tidak diakibatkan atau dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.

Misalnya berhentinya proses produksi dikarenakan kelalaian operator, dan kemungkinan kehilangan harta benda karena kebakaran atau pencurian.

Risk dinamis adalah berbagai macam bentuk risk yang diakibatkan perubahan dalam ekonomi.

Misalnya naik turunnya nilai mata uang, turunnya saham, adanya teknologi terbaru.

Pada umumnya risk ini tidak bisa diasuransikan, sedangkan risk statis bisa diasuransikan.

 

Pengelolaan atau Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah suatu proses dalam pengelolaan risk yang mencakup identifikasi, evaluasi, dan juga pengendalian risk yang dapat memberikan ancaman kelangsungan usaha atau kegiatan perusahaan.

Tujuan dilakukannya manajemen risk diantaranya untuk mengurangi pengeluaran, mencegah perusahaan dari kegagalan, menaikkan keuntungan perusahaan, menekan biaya produksi, dan juga meningkatkan kepercayaan shareholders perusahaan.

Terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan perusahaan untuk mengaplikasikan manajemen risk, yaitu sebagai berikut.

  • Hal yang pertama kali dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai macam risk yang dimiliki atau yang nantinya mungkin akan terjadi.
  • Melakukan analisis pola risk dan melakukan evaluasi terhadap risk tersebut, ditinjau dari nilai risk (severity) dan frekuensinya.
  • Dan yang terakhir adalah melakukan pengendalian. Tahapan pengendalian ini dibedakan menjadi 2 yaitu, pengendalian fisik (risk dihilangkan, risk diminimalisir) dan pengendalian finansial (risk ditahan, risk ditransfer).

Proses Pengendalian Risiko

Supaya bisa menentukan metode pengendalian risiko yang tepat, maka perlu diperhatikan tingkat frequency dan juga tingkat severity dari suatu risk.

Berikut ini merupakan diagram yang menggambarkan pengendalian risk berdasarkan pada tingkat frequency dan severitynya.

Diagram Pengendalian Risiko

Teori Pengalihan Risiko

Teori pengalihan risiko ini pertama kali diperkenalkan oleh Mehr dan juga Cammack pada tahun 1980.

Dalam bukunya Mehr dan Cammack (1980) dijelaskan bahwa:

“Risiko mempengaruhi asuransi, sehingga secara sederhana risk dapat disebut sebagai ketidakpastian mengenai kerugian.”

Apabila diteliti lebih mendalam, maka bisa disimpulkan bahwa sebuah ketidakpastian mengenai kerugian yang mungkin akan terjadi tersebutlah yang menyebabkan seseorang ingin melakukan pengalihan risk.

Lebih lanjut, Mehr dan Cammack juga mengatakan bahwa:

“Suatu pengalihan risiko (transfer of risk) disebut dengan asuransi.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa latar belakang dan tujuan adanya asuransi adalah adanya keinginan untuk melakukan transfer of risk.

Transfer of risk adalah pemindahan kemungkinan risk yang ada kepada pihak lain dengan mengeluarkan sejumlah biaya tertentu.

Sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa sangat besar kaitannya asuransi dan transfer of risk.

Hal tersebut juga sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Hansell (1979) dalam bukunya yang berjudul “Element of Insurance” yang menyatakan bahwa:

“Asuransi selalu berhubungan dengan risk (insurance is to do with risk), karena dengan adanya teori transfer of risk dapat diketahui gambaran atau prediksi terhadap suatu prospek di masa depan.”

Risiko yang Dapat Diasuransikan

Perlu diketahui bahwa tidak seluruh risiko dapat diasuransikan, dan untuk bisa diasuransikan, suatu risk harus memenuhi beberapa kriteria atau persyaratan, yaitu sebagai berikut:

  • Termasuk risk murni dan khusus

Misalnya seperti risk kebakaran, kecelakaan diri, kebanjiran, meninggal dunia, dan lain sebagainya.

  • Dampak dari risk harus bisa diukur dengan uang

Artinya bahwa risk tersebut harus mempunyai sifat finansial bukan emosional. Misalnya sering kita mendengar gurauan, apakah risk putus cinta dapat diasuransikan?

Jawabannya sudah jelas tidak bisa, hal tersebut dikarenakan kerugian yang terjadi mempunyai sifat yang tidak dapat diukur dengan menggunakan uang.

  • Terjadi secara kebetulan dan tidak disengaja

Misalnya seperti risk kematian yang disebabkan karena bunuh diri tidak akan dapat diasuransikan. Hal tersebut dikarenakan mempunyai sifat disengaja.

  • Dapat diperkirakan dan dapat dibuktikan kejadiannya

Misalnya risk kehilangan kendaraan bermotor yang apabila terjadi harus dibuktikan dengan surat keterangan kepolisian.

Akhir Kata

Demikianlah sedikit pembahasan tentang risiko. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa menambah wawasan kamu.

Apabila ada kritik, saran, atau pertanyaan silahkan sampaikan di kolom komentar. Terimakasih.

Tinggalkan komentar