Sejarah Perbankan

Saat ini di era yang serba modern, kita sudah tidak asing lagi dengan lembaga perbankan. Lembaga perbankan ini mempunyai sejarah yang panjang.

Lembaga ini mempunyai peranan yang sangat penting baik itu dalam sistem perekonomian nasional maupun dunia.

Sejarah perbankan ini mengacu pada kemunculannya sebagai tempat untuk menukarkan uang sampai berubah menjadi tempat untuk bertransaksi simpan pinjam.

Kata “bank” berasal dari bahasa Italia yaitu “Banca” yang mempunyai arti meja atau bangku, yang dipakai sebagai tempat untuk melakukan penukaran uang sampai menjadi lembaga perbankan.

Oke, untuk lebih jelasnya tentang sejarah perbankan baik di Indonesia atau Internasional, yuk simak pembahasannya!

Asal Mula Perbankan

Asal Mula Perbankan
Credit: Freepik.com

Sejarah awal atau asal mula dari kegiatan perbankan ini dimulai dari jasa penukaran uang.

Oleh karena itu dalam sejarah perbankan, arti dari bank adalah tempat untuk menukarkan uang seperti yang sudah dibahas sebelumnya.

Dalam perjalanan kerajaan zaman dahulu mungkin kegiatan penukaran uang sudah dilakukan antar kerajaan satu dengan kerajaan lainnya.

Tahap 1

Tahap awal adalah Prastadium atau Emborial, pada tahapan ini, muncul penitipan uang di kuil bukan dengan tujuan untuk mendapatkan nilai lebih atau menabung.

Namun, karena kuil dianggap sebagai tempat yang aman untuk menghindari risiko pencurian.

Sebagai contoh, terjadi penitipan uang ke penjaga kuil yang bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari yang yang dititipkan tersebut, namun semata-mata untuk menolong.

Hal tersebut sudah terjadi di kuil daerah Babylonia sejak tahun 2000 SM. Selain itu terjadi juga, tukar-menukar uang bagi mereka yang berdagang dan orang-orang yang melakukan perjalanan.

Tahap 2

Tahap kedua merupakan penerimaan dan juga pemberian kredit. Usaha perbankan yang berjaya pada saat zaman Babylonia kuno adalah Gilbi Bank yang berkembang pesat sekitar abad ke-6 SM.

Bank tersebut bukan hanya melakukan transaksi jual beli mata uang, namun menerima simpanan dan juga memberikan kredit dengan tujuan mencari keuntungan.

Usaha tersebut selanjutnya lebih berkembang lagi di Yunani. Banyak kuil di Yunani pada abad ke-4 SM yang melakukan kegiatan seperti yang terjadi di Babylonia.

Namun, kedudukan kuil-kuil tersebut terancam dengan munculnya badan-badan yang dikuasai oleh negara dan usaha swasta.

Karena negara di Yuani jumlahnya banyak, maka mereka mempunyai mata uangnya sendiri. Sehingga, banyak bermunculan usaha tukar menukar uang.

Tahap 3

Tahap ketiga adalah munculnya berbagai macam fasilitas transaksi pembayaran.

Semakin berkembangnya sistem perdagangan menyebabkan munculnya munculnya alat pembayaran, yaitu wesel, meskipun belum bisa dipindahtangankan.

Selain itu, pada tahapan ini bank mempunyai fungsi sebagai clearing house. Kemajuan yang paling terlihat adalah dengan munculnya jenis simpanan giro dan pembayaran dengan pemindahbukuan.

Tahap 4

Pada tahapan keempat ini terjadi 2 kejadian yang penting. Pertama, terdapat peluang baru tenaga kerja atau pembukaan lapangan kerja baru oleh Goldsmith Bankers.

Kedua, lahirnya bank sentral dan bank-bank lainnya, seperti di Perancis pada tahun 1716 berdiri Bangue General.

Bank tersebut merupakan bank deposito dan mempunyai hak untuk mengeluarkan mata uang kertas bank.

Namun, pada tahun 1718 bank tersebut digantikan oleh Banque Royale dan diganti lagi pada 1800 dengan nama Banque de France karena terjadi inflasi.

Berbeda dengan yang terjadi di daratan Eropa, lembaga keuangan yang ada di Inggris selama abad pertengahan tidak memperlihatkan perkembangan yang signifikan.

Baru pada masa kekuasaan Raja Tudor yaitu sekitar abad ke-15 sampai 16 terjadi perkembangan signifikan dalam perdagangan dan akumulasi modal.

Hal tersebut tentu saja menyebabkan perkembangan pada lembaga keuangan dan sarananya.

Goldsmith’s Notes Sebagai Alat Pembayaran

Para tukang emas atau yang disebut dengan goldsmith menjadi pelopor perkembangan usaha perbankan di Inggris.

Seluruh goldsmith menerima simpanan biasa, baik dalam bentuk logam mulia atau uang.

Sebagai tanda bukti, maka diberikan goldsmith’s notes kepada para deposan.

Goldsmith mulai meminjamkan uang berdasarkan pada kekayaan kemampuan mereka sendiri.

Pada saat parlemen Inggris menolak anggaran militer dari Raja Charles (1625-1649), raja menyita logam mulia yang dimiliki para pedagang yang disimpan pada percetakan uang.

Sehingga, para saudagar berupaya mencari tempat penyimpanan baru yang aman, pilihan mereka adalah goldsmith yang mempunyai tempat penyimpanan yang lebih aman.

Sekitar abad ke-17, goldsmith’s notes sudah menjadi alat pembayaran dan hampir seluruh transaksi dagang dilakukan menggunakan goldsmith’s notes.

Oleh karena itu, para goldsmith mulai meningkatkan usahanya dengan memberikan pinjaman.

Dengan begitu akan bisa meningkatkan permintaan kredit. Para goldsmith ini memberikan pinjaman atau mengeluarkan goldsmith’s notes tanpa didukung oleh simpanan.

Cara tersebutlah yang menjadi cikal bakal kemunculan cadangan pecahan (fractional reserve) dari perbankan di Inggris.

Kemunculan Cek

Pada perkembangan selanjutnya banyak para goldsmith bankers yang mengalami kerugian.

Hal tersebut dikarenakan pinjamannya kepada Charles II. Sementara itu, pada pertengahan kedua abad ke-18 dengan semakin berkembangnya kegiatan perdagangan, pendirian bank nasional semakin dirasakan urgensinya.

Sehingga, pada tahun 1684, didirikanlah Bank of England yang merupakan perusahaan dengan bentuk perseroan terbatas.

Bank tersebut didukung oleh para niagawan dengan modal GBP 1.200.000. Bank tersebut dengan segera memperoleh hak istimewa dari raja untuk mengeluarkan uang kertas bank.

Sebagai imbalannya, bank meminjamkan sejumlah uang kepada raja dengan bunga 8% per tahun.

Dengan didirikannya bank tersebut, tentu saja menimbulkan reaksi keras dari para goldsmith bankers.

Para goldsmith merasa disaingi dalam peredaran uang kertas dan menurunnya tingkat bunga.

Oleh karena itu, goldsmith membuat sarana keuangan baru yang disebut dengan cek.

Dengan menggunakan cek tersebut para pedagang bisa menarik simpanan gironya kapan pun atau bisa melakukan pembayaran pada pihak lain.

Sehingga, pada abad ke-18, para goldsmith tidak lagi mengeluarkan uang kertas. Usaha para goldsmith ini  berubah ke arah yang baru sebagai bank umum.

Selanjutnya bank-bank yang muncul belakangan di berbagai negara pada dasarnya hanya mengikuti proses dan pola yang sama tersebut.

 

Sejarah Perbankan di Dunia (Spanyol)

Sejarah Perbankan di Dunia (Spanyol)
Credit: Freepik.com

Seiring dengan kemajuan sistem perdagangan dunia, maka perkembangan dunia perbankan pun semakin pesat.

Hal tersebut dikarenakan perkembangan dunia perbankan tidak bisa terlepas dari perkembangan perdagangan.

Sistem perdagangan yang berkembang pada awalnya hanya berada di daratan Eropa, namun pada akhirnya menyebar ke Asia Barat.

Ada beberapa bank yang sudah dikenal pada saat itu di Benua Eropa seperti Bank Valensi (1171), kemudian Bank of Genoa dan Bank of Barcelona (1320).

Sedangkan, perkembangan perbankan di Inggris baru dimulai pada abad ke-16.

Karena Inggris sangat aktif dalam mencari daerah perdagangan yang kemudian dijajah, maka perkembangan perbankan pun ikut diaplikasikan di negara jajahannya.

Kegiatan dalam dunia perbankan mulai mempunyai peranan yang penting dalam menciptakan sistem dan berbagai macam fasilitas untuk melayani pedagang valas dengan cepat.

Dalam perkembangannya, bank yang menjadi pelopor dalam menawarkan jasa dan berbagai macam fasilitas seperti bank saat ini adalah Bank Barcelona di Spanyol.

Bank tersebut dibangun pada tahun 1410 M, yang menawarkan jasa simpanan, pertukaran mata uang, dan kredit.

Selain itu, Bank Barcelona juga menjadi pelopor dalam memperkenalkan sistem cek yang kita kenal saat ini.

 

Sejarah Perbankan di Indonesia

Sejarah Perbankan di Indonesia
Credit: Freepik.com

Sejarah perbankan di Indonesia tentu saja tidak bisa terlepas dari masa kelam penjajahan Hindia Belanda.

Pada saat itu N.V. De Javasche Bank dibentuk di Batavia tanggal 24 Januari 1828.

Selanjutnya tahun 1918 menyusul didirikan N.V. Nederlandsch-Indische Escompto Maatschappij sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan impor.

Terdapat beberapa bank yang mempunyai peranan penting di Hindia Belanda, yaitu:

  • N.V De Javasche,
  • De Post Poar Bank,
  • Hulp en Spaar Bank,
  • De Algemenevolks Crediet Bank,
  • Nederland Handles Maatscappi (NHM),
  • Nationale Handles Bank (NHB),
  • N.V De Escompto Bank,
  • Nederlansche Indische Handelsbank.

Selain itu, ada juga beberapa bank milik orang Indonesia dan orang asing seperti dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa. Berikut daftarnya:

  • N.V Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank,
  • Bank Nasional Indonesia,
  • The Yokohama Species Bank,
  • Bank Abuan Saudagar,
  • N.V Bank Boemi,
  • The Chartered Bank of India, Australia and China,
  • Hongkong & Shanghai Banking Corporation,
  • The Matsui Bank,
  • The Bank of China,
  • Batavia Bank,
  • International Banking Corporation sekarang Citibank.

Ketika kemerdekaan RI, perbankan di Indonesia terus berkembang. Terdapat beberapa bank Belanda yang dinasionalisasi pemerintah Indonesia, yaitu sebagai berikut:

  • N.V Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank sekarang Bank OCBC NISP didirikan pada 4 April 1941.
  • Bank Negara Indonesia sekarang BNI’46 didirikan pada 5 Juli 1946.
  • De Algemenevolks Crediet Bank sekarang Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada 22 Februari 1946.
  • Bank Surakarta Maskapai Adil Makmur (MAI) didirikan pada tahun 1945 di Solo.
  • Bank Indonesia didirikan pada tahun 1946 di Palembang.
  • N.V Bank Sulawesi didirikan pada tahun 1946 di Manado.
  • Bank Dagang Nasional Indonesia didirikan pada tahun 1946 di Medan.
  • Indonesian Banking Corporation sekarang Bank Amerta didirikan pada tahun 1947 di Yogyakarta.
  • N.V Bank Dagang Indonesia di Samarinda didirikan pada tahun 1950 merger dengan Bank Pasifik.
  • N.V Bank Timur di Semarang sekarang Bank Gemari merger dengan Bank Central Asia (BCA) pada tahun 1949.

Tinggalkan komentar